SYAIR SEMPRANI
Ahmad J. Sayuti
Kuhanya bermimpi
Suatu hari nanti
Goresan-goresan pena Sayuti
Kan dapat goncangkan bumi
Seperti kukenali
Dua Maestro Penafsir Kalam Ilahi
Jalaludin As Suyuti dan Al Mahalli
Dieluk-elukan kanjeng Kyai
Menyeruak angkasa
Merambah benua
Selami dasar samudera
Tembusi panas matahari
Walau betapa kusadari
Ku hanya sebatang besi
Bukan resi atau tesi
Beliau sebatang semprani
Dua kutub semprani
Dua kutub tuk berbagi
Dan tak pernah kusadari
Di kutub mana ku berdiri
DIY, 14 Oktober 2008
BAYANGKU
Ahmad J. Sayuti
Kulihat bayangku pagi hari
Jeram samudera ingin kuarungi
Gunung nan tinggi kan kudaki
Jagat raya pun kujelajahi
Kulihat bayangku tengah hari
Sebatang jarum pun sulit kucari
Gubuk-gubuk kardus kudapati
Tangis anak-anak kecil mengiba hati
Kulihat kembali bayangku sore hari
Ingin kubangun gedung pencakar langit
Kudirikan mahligai megah dan tinggi
Kan kuraih ribuan bintang di langit
Kupersembahkan padamu kasih
Walau hanya bait-bait puisi
Sleman, 15 Oktober 2008
BENJAMIN & BUNG AMIN
Ahmad J. Sayuti
Benjamin
kau ajari kami
trimatra edukasi
kognisi afeksi psikomotori
Bung Amin
kau ajari kami
trimatra reformasi
otonomi transformasi suksesi
Aku pelanduk manusiawi
dari kumpulan insan edukasi
aku pungguk insani
dari kumpulan burung reformasi
Hanyalah pelanduk dan pungguk
di antara bayang Benjamin dan Bung Amin
Jogjakarta, 15-10-2008
Antara Kaf dan Nun (Puisi Ke-aN)
Ahmad J. Sayuti
Kau dan aku tercipta
dari KetiadaaN
dambakan KehidupaN abadi
bukan KeabadiaN
Putih kelabu hitam
pahit manis tawar
bangun jatuh diam
terang gulita temaram
rona KehidupaN
menuju KeabadiaN
Kau dan aku
dari KetiadaaN
bukan KeabadiaN
karena KeabadiaN
antara Ke-aN
Kaf dan Nun
Kuasa tuhaN
Kepunyaan tuhaN
Kepada tuhaN
K u N
Karangmalang, 16 Oktober 2008
BALI BUKAN BABI
Ahmad J. Sayuti
Bali bukan surga anjing
Bali bukan sarang babi
Bukan buruan hewan rimba
Bukan harimau hidung belang
Bali anugerah Yang Esa
Nusa agama budaya
Sejarah peradaban manusia
Kaukenal pulau dewata
Bali jangan kauporandakan
Bali jangan kaubumihanguskan
Bila anjing babi kaumusnahkan
Seekor anjing kauselamatkan
Samirono, 18 Oktober 2008
Berangan di Republik Mimpi
Ahmad J. Sayuti
Kala hujan berangin
Beringin baringan
Aku berangan
Bagai republikan
Ku berangan menyibak bayangan
Mimpi buruk rasuki sukma
Pertiwi terlelap dalam dukahati
Negeriku tak pernah tidur nyenyak
Kapan lepaskan cengkraman
Belenggu krisis multidimensi
Berakar krisis ekonomi
Berdahan krisis energi
Kerumunan itu bukan antri raskin
Bukan mimpi antri gasolin
Terimbas formalin dan melamin
Mesti lagi antri askeskin
Ku berangan
Mereka berangan
Kala hujan berangin
Negeriku bukan beringin baringan
Karangmalang, 18 Oktober 2008
CUMA SAJAK CUMI
Ahmad J. Sayuti
Cuma mama
Mimi cucu mami
Cucu mama
Mimi cucu mami
Cuma minjam cuma-cuma
Cuma minum cuma-cuma
Cuma miscall cuma-Cuma
Cuma mikir cumi cumi
Cumi apa
Cumi siapa
Apa cuma main tanya
Apa cumbu cuma bumbu
Cuma cerita main peran
Cuma sastra main kata
Cuma jangan main sangka
Atau cuma main wanita
Kau tak minta cumbu rayu
Cuma minta cumbu cinta
Colombo, 18 Oktober 2008
SARAPAN PAGI
Ahmad J. Sayuti
Saat sarapan pagi
Sambal dan nasi
Tercium aroma terasi
Teringat akan sang istri
Andai ibu rumah tangga cukupi hajat negeriku
Jadilah negeri home industri
Saat kuteguk secangkir kopi
Teman dan tetanggaku milih teh dan susu
Om dan Tante minum STMJ
Teringat sosok Pak Tani
Pada kebun ladang dan ternak
Andai teh jahe dan kopi
Penuhi hajat negeriku
Jadilah negeri agroindustri
Andai ternak lebah dan sapi
Penuhi hajat negeriku
Jadilah negeriku seperti New Zealand
Saat kuhisap cigarrete
Tercium aroma cengkeh
Bau tembakau
Andai kebun cengkih dan tembakau
Penuhi hajat negeriku
Jadilah negeriku seperti Virginia
Saat sarapan pagi
Ikan sambal terasi
Teringat pada nelayan
Arungi hamparan samudera
Andai ikan di lautan
Cukupi hajat negeriku
Jadilah negeri maritim seperti negeri Jiran
Caturtunggal, 18 Oktober 2008
TIADA CINTA DI HATIMU
Ahmad J. Sayuti
Ini malam sendiri lagi aku
Kucoba lupakan bayangmu
Kumemang tak pantas untukmu
Tiada secuil cinta di hatimu
Usah kaukatakan lagi
Akupun telah tahu
Cintamu bukanlah untukku
Kini kusadari siapa diri ini
Begitu tak berarti di matamu
Usahlah engkau ingat
Bayangan gelap kenyataan
Hidup tanpa sutradara
Lupakan angan tuk bersama
Arungi luas samudera
Gejayan, 19 Oktober 2008
PARIS VAN JAVA
Ahmad J. Sayuti
Di Paris Van Java
Siang malam tiada beda
Di Paris Van Java
Tua muda berpesta
Lupakan sejenak panasnya api neraka
Terbuai nikmatnya surga dunia
Kau suka hidangan negeri Cina
Minuman Jepang atau ala Eropa
Dunia gemerlapan
Siang di kegelapan malam
Disela hingar bingar kehidupan
Bagaimana malam akan kaulewatkan
Alunan musik sayup nan merdu
Cahaya temaram lampu unggu
Angin sejuk berhembus lembut
Dedaunan dan perdu bergelayut embun
Membawa pada kerinduan
tuk lepas dari kehampaan
Melanda jiwa muda belia
ataupun tua bangka nan tak renta
Sukajadi, 08-08-2008
SUARA ALAM
Ahmad J. Sayuti
Tik tak tik tak tak tik
Tik tak tra la lak
Tik tak tik tak tak tik
Tak tak tik tik tuk
Tuk tek tuk tek crek
Tuk tek tek tek crek
Dercak jam dinding
Membisu namun jantungnya
Selalu berdetak
Kuur keer ...kuur keeer....
Ada yang mendengkur
Saat tafakur tanda bersyukur
Irama alam bertasbih kepada-Mu
Samirono, 20 Oktober 2008
Kamis, 22 Januari 2009
PUISI POSTMODERNISME
BENJAMIN & BUNG AMIN
Ahmad J. Sayuti
Benjamin
kauajari kami
trimatra edukasi
kognisi afeksi psikomotori
Bung Amin
kauajari kami
trimatra reformasi
otonomi transformasi suksesi
aku pelanduk manusiawi
dari kumpulan insan edukasi
aku pungguk insani
dari kumpulan burung reformasi
Hanyalah pelanduk dan pungguk
di antara bayang Benjamin dan Bung Amin
Jogjakarta, 15 Oktober 2008
Ahmad J. Sayuti
Benjamin
kauajari kami
trimatra edukasi
kognisi afeksi psikomotori
Bung Amin
kauajari kami
trimatra reformasi
otonomi transformasi suksesi
aku pelanduk manusiawi
dari kumpulan insan edukasi
aku pungguk insani
dari kumpulan burung reformasi
Hanyalah pelanduk dan pungguk
di antara bayang Benjamin dan Bung Amin
Jogjakarta, 15 Oktober 2008
ANALISIS CERPEN "SEPASANG MAUT" KARYA MOCH. WAN ANWAR
KAJIAN CERPEN-CERPEN MOH. WAN ANWAR
DALAM BUKU KUMPULAN CERPEN ‘SEPASANG MAUT’
(Analisis Cerpen Berdasarkan pendekatan struktural/Objektif)
Judul Buku : Sepasang Maut
Pengarang : Moh. Wan Anwar
Penerbit : Matahari
Tahun terbit : 2004 Cetakan Pertama
Tebal : 237 halaman
Jumlah cerpen : 15 Judul
CERPEN KE-1
SEPASANG MAUT
1)Tema
Cinta tokoh Aku tak sampai pada Si Mata Laut hingga perempuan cantik menemui ajalnya di laut
2)Tokoh
1.Si Mata Laut : Seorang wanita cantik yang sangat mencintai laut
2.Aku : Tokoh yang mencintai si Mata Laut tetapi cintanya selalu ditolak karena tak pernah bisa memahami laut
3.Istri Aku
4. Teman laki-laki Si Mata Laut
5. Teman perempuan Si Mata Laut
6. Ibu penunggu warung
7. Penjala ikan
8. Pengelola laut
9. Tiga orang penyelam
3) Latar : Laut, rumah, kantor
4) Alur : Maju(Progresif)
Tahap pengenalan
Tahap pemunculan konflik
Tahap pengembangan konflik
Tahap klimaks
Tahap penyelesaian
5) Sudut Pandang: orang pertama
6) Amanat : Mencintai alam tak harus melupakan kodrat seorang wanita yang perlu pendamping hidup dan berumah tangga.
CERPEN KE-2
KIAI GENGGONG
1)Tema
Ketenaran Kiai Genggong yang berhasil memimpin dan memajukan pesantren Gupitan yang semula dipimpin oleh Mama (Ayahnya).
2)Tokoh:
1.Kiai Genggong : Tokoh utama Protagonis (Keras, nyeleneh)
2.Kiai Sabar : Tokoh Tipikal
3.Kiai Behbar : Tokoh Tipikal
4. Mama : Tokoh Tipikal lembut berwibawa
5. Bung Hamid : Tokoh tipikal
6. Bung Jamal : Tokoh tipikal
7. Wak Makbul
8. Mang Cecep
9. Om Sarjono
3) Latar tempat : Pesantren Gupitan (di sebuah kampung)
Latar Sosial : kehidupan pesantren dan warga kampung Gupitan
4) Alur : Maju(Progresif)
a) Tahap pengenalan Tokoh utama Kiai Genggong, Kiai Sabar, dan Kiai Behbar yang akan dipilih sebagai pengganti Mama untuk memimpin pesantren Gupitan.
b) Tahap Pemunculan konfliks : Terpilihnya Kiai Genggong sebagai pemimpin pesantren Gupitan dirisaukan oleh sejumlah warga karena wataknya yang keras berbeda dengan Mama yang lembut dan berwibawa.
c) Tahap pengembangan konflik
d) Tahap penyelesaian
5) Sudut Pandang: orang ketiga
6) Amanat :
Janganlah menyepelekan orang lain dengan hanya melihat kelemahannya saja tanpa memperhatikan potensi/kelebihan yang dimilikinya
CERPEN KE-3
BAH ULUNG
1) Tema
Balas dendam keluarga Jawara yang merasa harga dirinya terhina karena adiknya terbunuh
2)Tokoh:
1.Bah Ulung : Tokoh utama tipikal jawara (Antagonis)
2.Dulakhir : Tipikal Jawara, kades Pariuk(Protagonis)
3.Camat Odet
4.Bah Bunhow : Mantan majikan Bah Ulung
5.Zakiah : Cucu Bah Ulung
6.Bos Anom : Tokoh tipikal Pengusaha
7.Mak Kuntul : Pemilik warung
8.Dulawal : Kakak Dulakhir, tipikal jawara(Protagonis)
9.Dua anak lelaki Dulawal
3)Latar Tempat : Daerah Banten
Latar Sosial : Kehidupan dan Keluarga Jawara
4) Alur : Maju(Progresif)
Tahap Pengenalan tokoh utama
Tahap pemunculan konflik
Tahap pengembangan konflik
Tahap klimak
Tahap penyelesaian
5) Sudut Pandang: Orang Ketiga
6) Amanat
CERPEN KE-4
PEMBELAAN BAH BELA
1)Tema : Balas Dendam
2)Tokoh
1.Bah Bela : Tokoh utama, tipikal jawara(Protagonis)
2.Bah Kahot : Tokoh utama, tipikal jawara (antagonis)
3.Si Sulung : anak bah Bela
4.Istri Bah Bela
5.Saya :Sopir/pengawal Bah Bela
6.Saudagar Teng Seng : Majikan Bah Kahot
7.Bupati : anak Bah Kahot
8.Adik Bupati : anak Bah Kahot
9.Adik-adik Si Sulung
Latar tempat : Pantai Karang Bolong (Banten)
Latar sosial : Kehidupan Jawara
Alur : regresif (Mundur)
Tahap Pengenalan tokoh utama
Tahap pemunculan konflik
Tahap pengembangan konflik
Tahap klimaks
Tahap penyelesaian
Sudut Pandang : Orang pertama pelaku sampingan
CERPEN KE-5
SETIAP ORANG SENDIRI
1)Tema : Kekecewaan/Kegagalan Cinta
2)Tokoh
1.Dia : Tokoh utama, seorang lelaki cerdas
2.Rita
3.Seorang wanita
4.Adik wanita
5.Agus
3)Latar Tempat : Kompleks kontrakan, Kota Bandung (Wastu Kencana)
Plot :
Tahap Pengenalan
Tahap Pemunculan konflik
Tahap pengembangan konflik
Tahap klimaks
Tahap penyelesaian
CERPEN KE-6
RUMAH AYAH
Tema : Saling curiga di antara keluarga karena perbedaan faham dan keinginan
Tokoh
1.Ayah : Tokoh utama, tipikal orang temperamen
2.Ibu : Tokoh tipikal protagonis
3.Saya : Anak sulung
4.Adik Saya : seorang perempuan
5.Pengecat : seseorang yang disuruh ayah mengecat rumah
6.Pa Sukartoyo :Teman Ayah, ahli pertanian
Latar Tempat : rumah
Latar Sosial
Plot :
Alur : Mundur(Regresif)
Tahap Pengenalan
Tahap Pemunculan konflik
Tahap pengembangan konflik
Tahap klimaks
Tahap penyelesaian
CERPEN KE-7
PEREMPUAN HAMIL
1)Tokoh:
1.Perempuan hamil : Tokoh Utama antagonis
2.Si Lelaki : Tokoh utama protagonis, mantan mahasiswa
3.Pak BOS : Tokoh tipikal
4.Para Wanita Bersuami
5.Petugas stasiun
6.Orang-orang di stasiun
7.Bayi si perempuan
2)Latar Tempat : Stasiun Kereta, penginapan
Latar sosial :
Tema : Tanggungjawab dan kasih sayang
Alur : Maju (Regresif)
Tahap Pengenalan
Pemunculan tokoh perempuan hamil, para penghuni kontrakan yang geger dan saling curiga, Pak Bos yang tegang dan cemas.
Tahap Pemunculan konflik
Tahap pengembangan konflik
Tahap klimaks
Tahap penyelesaian
CERPEN KE-8
GEDUNG BOCOR
1)Tema :
2)Tokoh :
1.Aku/Anwar
2.Wartawan
3.Dokter
4.Anak Haji Makmun
5.Ali : Penakluk ular
6.Pak Rudi : Guru SMA
7.Tim Peneliti
8.Pimpinan Proyek
Alur/Plot :
Tahap Pengenalan
Tahap Pemunculan konflik
Tahap pengembangan konflik
Tahap klimaks
Tahap penyelesaian
CERPEN KE-9
GADIS SYAIRA
1)Tokoh
1.Saya : tokoh netral sukar jatuh cinta
2.Harzita/Syaira : pacar saya
3.Ayu Setyaningsih : Istri saya
4.Ayah Syaira
5.Ibu Syaira
6.Kakek Syaira : Tinggal di Cianjur
7.Deden Abdul : tokoh tambahan cepat jatuh cinta
8.Iskandar Azis : teman Syaira
Tema :
Plot :
Tahap Pengenalan
Tahap Pemunculan konflik
Tahap pengembangan konflik
Tahap klimaks
Tahap penyelesaian
CERPEN KE-10
TAKDIR MUKLIS
1)Tema : Kemiskinan mendekatkan pada kekufuran
2)Tokoh
1.Muklis : Tokoh utama
2.Zulaiha : istri Muklis
3.Wak Makmun : mertua Muklis
4.Mulidah : adik Julaiha
5.Pegawai Pemda: Suami Mulidah, Tokoh tipikal tambahan
6.Anam : Teman Muklis yang sukses menjadi Mubalig Kondang
7.Pak Kades : Tokoh tipikal
Latar : Pesantren Gedong
Alur (Plot) : Maju (Progresif)
Tahap Pengenalan
Tahap Pemunculan konflik
Tahap pengembangan konflik
Tahap klimaks
Tahap penyelesaian
CERPEN KE-11
NONG KIKI
Tema : Cinta tak sampai membuat seseorang pergi mengembara ke tempat yang jauh
Tokoh
1.Aku/Nong Kiki : Tokoh utama
2.Atikah : teman Noni, tokoh sampingan
3.
Alur/Plot : Maju (Progresif)
1.Tahap Pengenalan
2.Tahap Pemunculan konflik
3.Tahap pengembangan konflik
4.Tahap klimaks
5.Tahap penyelesaian
CERPEN KE-12
NAMAKU GENGGONG
Tema :
Tokoh
1.Aang Genggong : Tokoh utama, Kiai mantan Jagoan, mahasiswa drop out
2.Haji Soleh : tokoh masyarakat Bojongkacor
3.Kiai Mukmin
4.Mang Edun : Sopir Aang Genggong
5.Si Dilong : Jagoan terminal
6.Si Sampak : Jagoan Pasar
7.Zakiah
8.Polisi
9.Si Wahid
10.Ibu santri
Alur/Plot : Campuran
1.Tahap Pengenalan tokoh utama Aang Genggong dan Haji Soleh yang mengundang pengajian di Bojongkacor
2.Tahap Pemunculan konflik
3.Tahap pengembangan konflik
4.Tahap klimaks
5.Tahap penyelesaian
Latar Fisik : Bojongkacor, terminal Kupatan, pasar Genggongan, Masjid, Pasar Desa, Madrasah
CERPEN KE-13
BULAN TENGGARA
1)Tema
Ketidakpercayaan terhadap pasangan hidup mengakibatkan ketidakharmonisan dalam rumah tangga.
Cinta segitiga membuat rumah tangga tak bisa bahagaia
2)Tokoh
1.Kau : Tokoh utama, seorang suami, ayah Bintang
2.Istri Kau
3.Hudan : tokoh Utama
4.Maya : istri Hudan
5.Tetangga Hudan : mantan pacar Maya
6.Istri tetangga Hudan : istri mantan pacar Maya
7.Bintang : Anak Kau
Latar Tempat : Jakarta, Denpasar, Pantai Losari, Makasar
Alur/Plot : Campuran
Tahap Pengenalan
Tahap Pemunculan konflik
Tahap pengembangan konflik
Tahap klimaks
Tahap penyelesaian
CERPEN KE-14
PENJARA
1)Tema : Kesetiaan Cinta dan ambisi/nafsu mengejar karir
2)Tokoh
1.Lelaki : Tokoh utama, wartawan koran lokal
2.Istri Lelaki
3.Anak lelaki : perempuan 17 tahun
4.Ibu mertua Lelaki
5.kekasih Lelaki : Perempuan 35 tahun
3) Latar Tempat : Raumah Lelaki, kantor, kantor polisi
4) Alur : Mundur (regresif)
6.Tahap Pengenalan
7.Tahap Pemunculan konflik
8.Tahap pengembangan konflik
9.Tahap klimaks
10.Tahap penyelesaian
5.Amanat
Jjangan sampai menelantarkan suami dan anak hanya karena mengejar karir yang tinggi karena akan membawa petaka bagi keluarga.
CERPEN KE-15
KONSER KEMATIAN
Tokoh
1.Tema :
2.Plot :
3.Tahap Pengenalan
4.Tahap Pemunculan konflik
5.Tahap pengembangan konflik
6.Tahap klimaks
7.Tahap penyelesaian
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Moh. Wan. 2004. Sepasang Maut, Kumpulan Cerpen. Yogyakarta: Matahari
Fauzy, D. Harry. 2005. Sastra Indonesia, Teori dan Apresiasi untuk SMP dan SMA. Jakarta: Yudistira.
Nurgiantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Pres
DALAM BUKU KUMPULAN CERPEN ‘SEPASANG MAUT’
(Analisis Cerpen Berdasarkan pendekatan struktural/Objektif)
Judul Buku : Sepasang Maut
Pengarang : Moh. Wan Anwar
Penerbit : Matahari
Tahun terbit : 2004 Cetakan Pertama
Tebal : 237 halaman
Jumlah cerpen : 15 Judul
CERPEN KE-1
SEPASANG MAUT
1)Tema
Cinta tokoh Aku tak sampai pada Si Mata Laut hingga perempuan cantik menemui ajalnya di laut
2)Tokoh
1.Si Mata Laut : Seorang wanita cantik yang sangat mencintai laut
2.Aku : Tokoh yang mencintai si Mata Laut tetapi cintanya selalu ditolak karena tak pernah bisa memahami laut
3.Istri Aku
4. Teman laki-laki Si Mata Laut
5. Teman perempuan Si Mata Laut
6. Ibu penunggu warung
7. Penjala ikan
8. Pengelola laut
9. Tiga orang penyelam
3) Latar : Laut, rumah, kantor
4) Alur : Maju(Progresif)
Tahap pengenalan
Tahap pemunculan konflik
Tahap pengembangan konflik
Tahap klimaks
Tahap penyelesaian
5) Sudut Pandang: orang pertama
6) Amanat : Mencintai alam tak harus melupakan kodrat seorang wanita yang perlu pendamping hidup dan berumah tangga.
CERPEN KE-2
KIAI GENGGONG
1)Tema
Ketenaran Kiai Genggong yang berhasil memimpin dan memajukan pesantren Gupitan yang semula dipimpin oleh Mama (Ayahnya).
2)Tokoh:
1.Kiai Genggong : Tokoh utama Protagonis (Keras, nyeleneh)
2.Kiai Sabar : Tokoh Tipikal
3.Kiai Behbar : Tokoh Tipikal
4. Mama : Tokoh Tipikal lembut berwibawa
5. Bung Hamid : Tokoh tipikal
6. Bung Jamal : Tokoh tipikal
7. Wak Makbul
8. Mang Cecep
9. Om Sarjono
3) Latar tempat : Pesantren Gupitan (di sebuah kampung)
Latar Sosial : kehidupan pesantren dan warga kampung Gupitan
4) Alur : Maju(Progresif)
a) Tahap pengenalan Tokoh utama Kiai Genggong, Kiai Sabar, dan Kiai Behbar yang akan dipilih sebagai pengganti Mama untuk memimpin pesantren Gupitan.
b) Tahap Pemunculan konfliks : Terpilihnya Kiai Genggong sebagai pemimpin pesantren Gupitan dirisaukan oleh sejumlah warga karena wataknya yang keras berbeda dengan Mama yang lembut dan berwibawa.
c) Tahap pengembangan konflik
d) Tahap penyelesaian
5) Sudut Pandang: orang ketiga
6) Amanat :
Janganlah menyepelekan orang lain dengan hanya melihat kelemahannya saja tanpa memperhatikan potensi/kelebihan yang dimilikinya
CERPEN KE-3
BAH ULUNG
1) Tema
Balas dendam keluarga Jawara yang merasa harga dirinya terhina karena adiknya terbunuh
2)Tokoh:
1.Bah Ulung : Tokoh utama tipikal jawara (Antagonis)
2.Dulakhir : Tipikal Jawara, kades Pariuk(Protagonis)
3.Camat Odet
4.Bah Bunhow : Mantan majikan Bah Ulung
5.Zakiah : Cucu Bah Ulung
6.Bos Anom : Tokoh tipikal Pengusaha
7.Mak Kuntul : Pemilik warung
8.Dulawal : Kakak Dulakhir, tipikal jawara(Protagonis)
9.Dua anak lelaki Dulawal
3)Latar Tempat : Daerah Banten
Latar Sosial : Kehidupan dan Keluarga Jawara
4) Alur : Maju(Progresif)
Tahap Pengenalan tokoh utama
Tahap pemunculan konflik
Tahap pengembangan konflik
Tahap klimak
Tahap penyelesaian
5) Sudut Pandang: Orang Ketiga
6) Amanat
CERPEN KE-4
PEMBELAAN BAH BELA
1)Tema : Balas Dendam
2)Tokoh
1.Bah Bela : Tokoh utama, tipikal jawara(Protagonis)
2.Bah Kahot : Tokoh utama, tipikal jawara (antagonis)
3.Si Sulung : anak bah Bela
4.Istri Bah Bela
5.Saya :Sopir/pengawal Bah Bela
6.Saudagar Teng Seng : Majikan Bah Kahot
7.Bupati : anak Bah Kahot
8.Adik Bupati : anak Bah Kahot
9.Adik-adik Si Sulung
Latar tempat : Pantai Karang Bolong (Banten)
Latar sosial : Kehidupan Jawara
Alur : regresif (Mundur)
Tahap Pengenalan tokoh utama
Tahap pemunculan konflik
Tahap pengembangan konflik
Tahap klimaks
Tahap penyelesaian
Sudut Pandang : Orang pertama pelaku sampingan
CERPEN KE-5
SETIAP ORANG SENDIRI
1)Tema : Kekecewaan/Kegagalan Cinta
2)Tokoh
1.Dia : Tokoh utama, seorang lelaki cerdas
2.Rita
3.Seorang wanita
4.Adik wanita
5.Agus
3)Latar Tempat : Kompleks kontrakan, Kota Bandung (Wastu Kencana)
Plot :
Tahap Pengenalan
Tahap Pemunculan konflik
Tahap pengembangan konflik
Tahap klimaks
Tahap penyelesaian
CERPEN KE-6
RUMAH AYAH
Tema : Saling curiga di antara keluarga karena perbedaan faham dan keinginan
Tokoh
1.Ayah : Tokoh utama, tipikal orang temperamen
2.Ibu : Tokoh tipikal protagonis
3.Saya : Anak sulung
4.Adik Saya : seorang perempuan
5.Pengecat : seseorang yang disuruh ayah mengecat rumah
6.Pa Sukartoyo :Teman Ayah, ahli pertanian
Latar Tempat : rumah
Latar Sosial
Plot :
Alur : Mundur(Regresif)
Tahap Pengenalan
Tahap Pemunculan konflik
Tahap pengembangan konflik
Tahap klimaks
Tahap penyelesaian
CERPEN KE-7
PEREMPUAN HAMIL
1)Tokoh:
1.Perempuan hamil : Tokoh Utama antagonis
2.Si Lelaki : Tokoh utama protagonis, mantan mahasiswa
3.Pak BOS : Tokoh tipikal
4.Para Wanita Bersuami
5.Petugas stasiun
6.Orang-orang di stasiun
7.Bayi si perempuan
2)Latar Tempat : Stasiun Kereta, penginapan
Latar sosial :
Tema : Tanggungjawab dan kasih sayang
Alur : Maju (Regresif)
Tahap Pengenalan
Pemunculan tokoh perempuan hamil, para penghuni kontrakan yang geger dan saling curiga, Pak Bos yang tegang dan cemas.
Tahap Pemunculan konflik
Tahap pengembangan konflik
Tahap klimaks
Tahap penyelesaian
CERPEN KE-8
GEDUNG BOCOR
1)Tema :
2)Tokoh :
1.Aku/Anwar
2.Wartawan
3.Dokter
4.Anak Haji Makmun
5.Ali : Penakluk ular
6.Pak Rudi : Guru SMA
7.Tim Peneliti
8.Pimpinan Proyek
Alur/Plot :
Tahap Pengenalan
Tahap Pemunculan konflik
Tahap pengembangan konflik
Tahap klimaks
Tahap penyelesaian
CERPEN KE-9
GADIS SYAIRA
1)Tokoh
1.Saya : tokoh netral sukar jatuh cinta
2.Harzita/Syaira : pacar saya
3.Ayu Setyaningsih : Istri saya
4.Ayah Syaira
5.Ibu Syaira
6.Kakek Syaira : Tinggal di Cianjur
7.Deden Abdul : tokoh tambahan cepat jatuh cinta
8.Iskandar Azis : teman Syaira
Tema :
Plot :
Tahap Pengenalan
Tahap Pemunculan konflik
Tahap pengembangan konflik
Tahap klimaks
Tahap penyelesaian
CERPEN KE-10
TAKDIR MUKLIS
1)Tema : Kemiskinan mendekatkan pada kekufuran
2)Tokoh
1.Muklis : Tokoh utama
2.Zulaiha : istri Muklis
3.Wak Makmun : mertua Muklis
4.Mulidah : adik Julaiha
5.Pegawai Pemda: Suami Mulidah, Tokoh tipikal tambahan
6.Anam : Teman Muklis yang sukses menjadi Mubalig Kondang
7.Pak Kades : Tokoh tipikal
Latar : Pesantren Gedong
Alur (Plot) : Maju (Progresif)
Tahap Pengenalan
Tahap Pemunculan konflik
Tahap pengembangan konflik
Tahap klimaks
Tahap penyelesaian
CERPEN KE-11
NONG KIKI
Tema : Cinta tak sampai membuat seseorang pergi mengembara ke tempat yang jauh
Tokoh
1.Aku/Nong Kiki : Tokoh utama
2.Atikah : teman Noni, tokoh sampingan
3.
Alur/Plot : Maju (Progresif)
1.Tahap Pengenalan
2.Tahap Pemunculan konflik
3.Tahap pengembangan konflik
4.Tahap klimaks
5.Tahap penyelesaian
CERPEN KE-12
NAMAKU GENGGONG
Tema :
Tokoh
1.Aang Genggong : Tokoh utama, Kiai mantan Jagoan, mahasiswa drop out
2.Haji Soleh : tokoh masyarakat Bojongkacor
3.Kiai Mukmin
4.Mang Edun : Sopir Aang Genggong
5.Si Dilong : Jagoan terminal
6.Si Sampak : Jagoan Pasar
7.Zakiah
8.Polisi
9.Si Wahid
10.Ibu santri
Alur/Plot : Campuran
1.Tahap Pengenalan tokoh utama Aang Genggong dan Haji Soleh yang mengundang pengajian di Bojongkacor
2.Tahap Pemunculan konflik
3.Tahap pengembangan konflik
4.Tahap klimaks
5.Tahap penyelesaian
Latar Fisik : Bojongkacor, terminal Kupatan, pasar Genggongan, Masjid, Pasar Desa, Madrasah
CERPEN KE-13
BULAN TENGGARA
1)Tema
Ketidakpercayaan terhadap pasangan hidup mengakibatkan ketidakharmonisan dalam rumah tangga.
Cinta segitiga membuat rumah tangga tak bisa bahagaia
2)Tokoh
1.Kau : Tokoh utama, seorang suami, ayah Bintang
2.Istri Kau
3.Hudan : tokoh Utama
4.Maya : istri Hudan
5.Tetangga Hudan : mantan pacar Maya
6.Istri tetangga Hudan : istri mantan pacar Maya
7.Bintang : Anak Kau
Latar Tempat : Jakarta, Denpasar, Pantai Losari, Makasar
Alur/Plot : Campuran
Tahap Pengenalan
Tahap Pemunculan konflik
Tahap pengembangan konflik
Tahap klimaks
Tahap penyelesaian
CERPEN KE-14
PENJARA
1)Tema : Kesetiaan Cinta dan ambisi/nafsu mengejar karir
2)Tokoh
1.Lelaki : Tokoh utama, wartawan koran lokal
2.Istri Lelaki
3.Anak lelaki : perempuan 17 tahun
4.Ibu mertua Lelaki
5.kekasih Lelaki : Perempuan 35 tahun
3) Latar Tempat : Raumah Lelaki, kantor, kantor polisi
4) Alur : Mundur (regresif)
6.Tahap Pengenalan
7.Tahap Pemunculan konflik
8.Tahap pengembangan konflik
9.Tahap klimaks
10.Tahap penyelesaian
5.Amanat
Jjangan sampai menelantarkan suami dan anak hanya karena mengejar karir yang tinggi karena akan membawa petaka bagi keluarga.
CERPEN KE-15
KONSER KEMATIAN
Tokoh
1.Tema :
2.Plot :
3.Tahap Pengenalan
4.Tahap Pemunculan konflik
5.Tahap pengembangan konflik
6.Tahap klimaks
7.Tahap penyelesaian
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Moh. Wan. 2004. Sepasang Maut, Kumpulan Cerpen. Yogyakarta: Matahari
Fauzy, D. Harry. 2005. Sastra Indonesia, Teori dan Apresiasi untuk SMP dan SMA. Jakarta: Yudistira.
Nurgiantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Pres
LINGUSTIKA, TANYAJAWAB KEBAHASAAN
PENDALAMAN MATERI BAHASA INDONESIA
PROGRAM SERTIFIKASI GURU MELALUI JALUR PENDIDIKAN
1.Jelaskan konsep huruf, fonem, fon, kontoid, vokoid, dan kaidah fonotaktik!
a) Huruf adalah tanda yang dipakai dalam aksara untuk menggambarkan bunyi manusia (Kridalaksana, 1993: 79). Huruf yang digunakan dalam bahasa Indonesia, khusunya, terbagi atas huruf kafital (huruf besar) dan huruf kecil. Huruf kapital digunakan dalam berbagai nama diri, antara lain nama orang, nama jabatan, nama geografi, nama badan atau lembaga, dan pada penulisan awal kalimat. Sedangkan huruf kecil digunakan dalam kalimat dan nama-nama selain nama diri atau badan.
Huruf dalam tataran ini dapat berada di awal, di tengah, dan di akhir. Huruf belum bermakna sedangkan fonem sudah mampu membedakan makna. Huruf adalah aksara atau gambaran bunyi bahasa.
Contoh :
Huruf Vokal
Cara pemakaian dalam kata
Di awal
Di tengah
Di akhir
a
i
o
u
e*
adik
ikat
otak
ulang
encer
elang
satu
kita
doa
tua
tega
perah
kota
hari
kado
kamu
pete
klise
Huruf Konsonan
Cara Pemakaian dalam Kata
Di awal
Di tengah
Di akhir
h
k
l
n
s
pasak
kapan
lisan
nomor
simak
saham
makan
malu
makna
pusat
kerah
telak
mental
makan
laris
b)Fonem adalah bunyi bahasa terkecil yang membedakan bentuk makna. Fonem adalah satuan yang terkecil yang terdiri atas bunyi-bunyi ujar yang dapat membedakan arti.
Contoh : cari, dari, jari, lari, mari, sari, dan tari.
Fonem /l, t, d, j, m, s, c/ mampu menunjukkan terjadinya perbedaan makna, sehingga disebut fonem yang berbeda.
c)Fon merupakan suatu hasil bunyi dari alat ujar dan dalam proses menghasilkan bunyi tersebut dikenal kontoid dan vokoid. Fon adalah bunyi bahasa terkecil baik yang membedakan arti atau tidak membedakan arti ( tahun – taun / ramai – rame / satai –sate / cabai –cabe).
d) Kontoid atau konsonan merupakan bunyi bahasa yang dihasilkan dengan menghambat aliran udara pada salah satu tempat di saluran suara di atas glotis. Kontoid adalah bunyi yang bagi pengucapanya arus udara dihambat sama sekali oleh penutupan larinx atau jalan di mulut atau dipaksa melalui lubang sempit, atau dipindahkan dari garis tengah daripada alurnya melalui lubang lateral, atau menyebabkan bergetarnya salah satu alat-alat supraglotal. Contoh: [p] (papa), [t] (tata), [d] (dada).
Kontoid terbagi atas :
a.Kontoid bilabial : [p, b, m, w]
b.Kontoid labiodental : [f, v]
c.Kontoid apikodental : [t, d, n, s, l]
d.Kontoid apikoalveolar : [t, d, n, s, l]
e.Kontoid laminopalatal : [j, c, ñ, y]
f.Kontoid dorsovelar : [k, g, x, ŋ]
g.Kontoid faringal : [h]
h.Kontoid glotal : [?]
i.Kontoid nasal : n, m, ŋ, ñ]
e) Vokoid (istilah fonetik) atau vokal (konsep fonemis dan grafemis) adalah bunyi bahasa yang dihasilkan dengan getaran pita suara, dan tanpa penyempitan dalam saluran suara di atas glotis. Vokoid adalah bunyi yang bagi pengucapannya jalan mulut tidak terhalang, sehingga arus udara dapat mengalir dari paru-paru ke bibir dan ke luar tanpa dihambat, tanpa harus melalui lubang sempit, tanpa dipindahkan dari garis tengah pada alurnya dan tanpa menyebabkan alat-alat supraglotal sebuah pun bergetar; biasanya bersuara, tetapi tidak perlu selalu demikian.
Contoh: [a] (apa),[e] (nenek), [e] (mepe) dalam bahasa Indonesia berarti menjemur, [i] (ini).
f) Kaidah fonotaktik adalah kaidah yang mengatur penjejeran fonem dalam satu morfem. Dalam bahasa Indonesia, misalnya, terdapat jejeran seperti / -nt-/ (untuk), /-rs-/ (bersih), dan /-st-/ (pasti), tetapi tidak mengizinkan jejeran seperti /-pk-/ dan /pd/. Kaidah fonotaktik merupakan kaidah-kaidah yang mengatur urutan atau hubungan antara fonem-fonem suatu bahasa. Fonotaktik mempunyai pola yang terkait dengan pola penyukuan kata dan pergeseran bunyi menimbulkan variasi bunyi satu fonem yang sama.
2.Problema apakah yang sering dijumpai dalam penerapan EYD dan kaidah pembentukan istilah, baik menyangkut masalah tata tulis maupun tata ucap?
a) Masalah Penerapan EYD
Peneraan Ejaan yang Disempurnakan (EYD) yang mulai diberlakukan sejak tahun 1972, masih belum dapat dilaksanakan secara mantap. Hal ini karena jumlah variasi pelafalan bahasa Indonesia yang diizinkan atau diterima itu sangat besar sebagai akibat banyaknya ragam kedaerahan. Lafal bahasa Indonesia banyak coraknya. Kita bukan hanya berhadapan dengan ragam kedaerahan, tetapi juga dengan ragam orang yang kurang berpendidikan, yang fonologi bahasanya berbeda. Dalam upaya pembakuan lafal, yang menjadi masalah berikutnya adalah lafal siapa atau lafal daerah mana yang harus dijaikan acuan atau tolak ukur agar dapat disebut lafal Indonesia yang baku.
b)Masalah pembentukan istilah
Masalah pembentukan istilah, sebagai bagian dari leksikon bahasa Indonesia, sudah diupayakan ke arah pembakuan dengan diterbitkannya Pedoman Pembentukan Istilah sejak tahun 1975. Usaha ini merupakan upaya agar bahasa Indonesia memiliki syarat kemantapan, kecendekiaan, dan keseragaman. Akan tetapi, pengembangannya sangat bergantung kepada unsur sertaan pengembangan ilmu. Dengan kalimat lain, pembentukan istilah, sangat bergantung kepada para ahli di berbagai bidang ilmu.
c) Masalah tatatulis dan tataucap
Di dalam kelas adakalanya kita menemukan permasalahan penggunaan sebuah atau beberapa kata asing dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia prinsip pengucapan antara tulisan dan ucapan harus sama sedangkan dalam bahasa asing khususnya bahasa Inggris antara tulisan dan pengucapan banyak yang berbeda.
Untuk mengatasi hal tersebut dilakukan cara:
1)Penyusunan kamus disertai cara pengucapannya (transkrip fonetis);
2)Pengucapan diusahakan antara tulisan dan ucapan sama dalam konteks bahasa Indonesia;
3)Kata asing digunakan jika dalam bahasa Indonesia tidak ada kata padannya; dan
4)Pembelajaran senantiasa berpedoman pada kaidah penyerapan dan tatatulis serta memperhatikan masyarakat pengguna bahasa Indonesia.
3.Jelaskan secara menyeluruh proses morfologis dan proses morfofonemis dan berilah contoh masing-masing secukupnya!
Proses morfologis adalah proses pembentukan kata-kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya. Proses morfologis ada enam jenis (Kridalaksana 1990:5) yaitu:
a)afiksasi (pengimbuhan), yaitu proses pembentukan kata dengan membubuhkan imbuhan afiks pada bentuk dasarnya. Hasilnya disebut kata berimbuhan.
Contoh :
usir + meng- -----------► mengusir
guruh + -em- -----------► gemuruh
pakai + -an -----------► pakaian
batas+ ber-an -----------► berbatasan
b) reduplikasi (pengulangan) ialah proses pembentukan kata dengan cara mengulang bentuk dasarnya. Hasil proses ini disebut kata ulang.
Contoh :
bertanya -----------► R -----------► bertanya-tanya
pelan -----------► R -----------► pelan-pelan
bersalaman -----------► R ----------► bersalam-salaman
c) komposisi (pemajemukan), yaitu proses pembentukan kata dengan cara menggabungkan suatu kata dengan kata yang lain. Hasilnya disebut kata gabung (kata majemuk).
Contoh :
tanggung + jawab -----------► tanggung jawab
anak + emas -----------► anak emas
mata + hati -----------► mata hati
d)derivasi zero
Derivazi zero adalah proses leksem menjadi kata tunggal tanpa perubahan apa-apa. Contoh leksem KITA menjadi kita tanpa perubahan apa-apa.
e)pemendekan
Pemendekan adalah proses terbentuknya leksem menjadi kata dengan cara pemenggalan, konstraksi, akronim, dan penyingkatan. Contoh IBU menjadi bu.
f)derivasi balik
Derivasi balik adalah proses terbentuknya leksem menjadi kata. Proses ini sama dengan kejadian dalam afiksasi.
Proses morfofonemis adalah proses perubahan fonem akibat pertemuan sebuah morfem dengan morfem yang lain. Proses morfofonemis merupakan peristiwa fonologis yang terjadi karena pertemuan morfem dengan morfem. Proses morfofonemis dalam bahasa Indonesia hanya terjadi dalam pertemuan realisasi morfem dasar (morfem) dengan realisasi afiks (morfem), baik prefiks, sufiks, infiks, maupun konfiks. Berbicara mengenai morfem, berarti berbicara mengenai satuan abstrak, sedangkan morf merupakan satuan yang lebih konkret daripada morfem, sedangkan di luar itu, fonem dan fon merupakan satuan yang lebih konkret lagi.
a)Peristiwa Morfofonemis Pemunculan Fonem
1.Pemunculan luncuran/y/ /ketinggiYan/ /tepiYan/
2. Pemunculan luncuran/w/ /KepulauWan/
3.Pemunculan luncuran/a/ /ayahanda/
4.Pemunculan luncuran/n/ /seNdiri/
5.Pemunculan luncuran/m//seMbarangan/
6.Pemunculan luncuran/nge/ /pe NGE las/
7.Pemunculan luncuran/ng//peNGgugat/
b)Peristiwa Morfofonemik Pengekalan Fonem
Penggabungan morf tak terjadi perubahan apa-apa.
1.Pengekalan fonem diawali /l,r,y,w/ melihat, pemula, penilai
2.Pengekalan fonem bila berakhiran /a/ dan mendapat konfiks ke-an. Misalnya kesamaan, dan kelangkaan.
3.Pengekalan fonem terjadi bila berafiks ber-, ter-, per-, se-, wan, wati
Misalanya: bermain, terpukul, pertanda, searah wartawan, wartawati.
4.Peristiwa Morfofonemik Pemunculan dan Pengekalan Fonem
Misalnya: mengkukur dan mengukur
c)Peristiwa Morfofonemik Pergeseran Fonem
1.pergeseran ke belakang /bala-san, rambu-tan/
2.pergeseran ke depan /i-bunda, cu-cunda/
3.pergeseran pemecahan suku kata akibat infiks /ge-ri-gi, ge-me-tar/
d)Peristiwa Morfofonemik Perubahan Dan Pergeseran Fonem
1.Perubahan fonem /’/ menjadi fonem /k/ /menaiki,gerakan/
2.Perubahan fonem /r/ berubah menjadi /l/ /belajar, pelajar, terlantar/
e)Peristiwa Morfofonemik pelesapan fonem
1.pelesapan fonem /h /dan /k/ /sejarawan, ananda/
2.pelesapan fonem /r //peramal,bekerja/
f)Peristiwa Morfofonemik Peluluhan Fonem
1.peluluhan fonem /k//mengarang, pengiriman/
2.peluluhan fonem /p//memakai, pemahat
g)Peristiwa Morfofonemik Penyisipan Fonem secara Historis
Peristiwa ini apabila terjadi morfem dasr berasal dari kata asing mendapat afiksasi/ standardisasi, objektif/
h)Peristiwa Morfofonemik pemunculan fonem berdasarkan pola bahasa asing
Pemunculan fonem karena mengikuti morfofonemik bahasa asing. /islami, duniawi, surgawi, alami/
i)Peristiwa Morfofonemik Variasi Fonem Bahasa Sumber
Variasi fonem mengikuti pola bahasa sumber yang memiliki makna yang sama
Tunggal = diktum, musikus, politikus, alumnus
Jamak = diksi, musisi, politisi, alumni
4.Bandingkan persamaan dan perbedaan antara konstruksi morfologis dan konstruksi sintaksis! Deskripsikan jenis kedua kontruksi tersebut dan berilah contoh masing-masing secukupnya!
Persamaan dan Perbedaan Kontruksi Morfologis dan Sintaksis.
Baik morfologi dan sintaksis merupakan bagian dari ilmu bahasa . Morfologi adalah ilmu yang mengkaji soal yang berhubung dengan seluk-beluk bentuk kata, kemungkinan adanya perubahan golongan kata (fungsi gramatik), kemungkinan perubahan makna kata akibat daripada perubahan bentuk kata (fungsi semantik). Satuan yang paling kecil yang diselidiki oleh morfologi adalah morfem dan yang paling besar burupa kata.
Sintaksis mempelajari seluk beluk hubungan antara kata/frase/klausa/kalimat. Kata dalam tataran siktaksis adalah satuan yang paling kecil yang terbesar adalah wacana. Jadi materi pelajaran morfologi dan sintaksis selalu terkait, jika kita urutkan dari bawah, keenam satuan gramatik menurut Ramlan adalah sebagai berikut, morfem, kara, frasa, klausa, kalimat, dan wacana.
Morfologi
Sintaksis
Mengkaji morfem dan kata
Contoh :
Paman akan mengadakan perjalanan jauh.
Paman : satu morfem
akan : satu morfem,
mengadakan : tiga morfem
meN + ada + kan
perjalanan : dua morfem
per – an + jalan
jauh : satu morfem
unsur ke…an dengan
tidak adil, tidak mampu,
tidak berhasil…
Mengkaji frasa, klausa, kalimat dan wacana.
Contoh :
Paman akan mengadakan perjalanan jauh.
Paman : subjek
akan mengadakan : predikat
perjalanan jauh : objek
Hubungan kata tidak dengan
adil, mampu, berhasili, cukup
5.Tipe kalimat dan pola kalimat dasar dalam bahasa Indonesia, sertakan contoh masing-masing!
Tipe kalimat dan pola kalimat dasar yang terdapat dalam bahasa Indonesia.
Tipe kalimat
Contoh
Subjek
Predikat
Objek
Pelengkap
Keterangan
S – P
Ahmad
bertanya
-
-
-
S – P - O
Ucok
membuat
layang-layang
-
-
S – P – Pel
Asep
belajar
Bahasa Indonesia
-
-
S – P – Ket
Kakak
mau menikah
-
-
tahun ini
S – P – O – Pel
Ibu
membelikan
adik
sepatu
-
S – P – O – Ket
Ely
membeli
buku
-
di Gramedia
Tipe kalimat dalam bahasa Indonesia ada enam macam berdasarkan fungsi. Keenam tipe kalimat ini juga memiliki pola kalimat dasar. Apabila konstituen kalimat dasar yang tidak wajib diabaikan maka yang dihasilkan kalimat inti. Tabel di atas merupakan keenam kalimat dasar yang dibedakan berdasarkan pola unsur-unsurnya yang wajib.
Pola Kalimat Dasar
Nomor
Pola Kalimat Dasar
Contoh
1
FN + FN
Pamanku
polisi
2
FN + FV
Adikku
belajar
3
FN + F Numeralia
kucingku
seekor
4
FN + F Adjektif
Dia
bahagia
5
FN + F Adverb
Ayah
ke Surabaya
Berdasarkan jumlah inti kalimat dapat ditentukan pola-pola dasar sebuah kalimat. Sebuah kalimat luas selalu dapat dikembalikan kepada pola-pola dasar yang dianggap sebagai dasar pembentukan kalimat luas itu. Dasar pembuatan kalimat luas adalah kalimat inti
6.Deskripsikan konsep istilah berikut dan berilah contoh masing-masing secukupnya!
a. Kalimat nonverbal adalah kalimat yang predikatnya bukan kata kerja
Contoh : 1. Ibuku guru.
2. Temanku sangat cantik.
3. Dosenku profesor ternama.
b. Kalimat verbal pasif
Ada dua pola terbentuknya kalimat pasif, yaitu kalimat yang diturunkan dari kalimat aktif dan dari kalimat itu sendiri.
Contoh :
1.Sayuran itu dibeli oleh Ibu.
2.Aku terantuk batu.
Kalimat nomor satu adalah kalimat pasif yang diturunkan dari kalimat aktif Ibu membeli sayuran. Berarti kalimat nomor satu dasar pemasifannya dari kalimat aktif. Tidak semua kalimat aktif dapat diubah menjadi kalimat aktif. Kalimat aktif yang tidak dapat diubah menjadi kalimat pasif disebut kalimat taktransitif. Kalimat tersebut tidak mempunyai objek.
Kalimat nomor dua adalah kalimat pasif yang terbentuk bukan karena dari kalimat aktif, melainkan dari verba yang berkategori pasif. Ada beberapa prefiks yang berkategori pasif, yaitu prefiks di- dan ter- dan pada pola tertentu kata dasar juga berperan sebagai kata kerja pasif. Contohnya Buku aku beli atau Buku kubeli. Pada kalimat Buku aku beli diturunkan dari kalimat aktif Aku membeli buku.
c.kalimat verbal medial
Kalimat verbal medial adalah kalimat yang subjeknya pelaku sekaligus sebagai penderita.
1.Mereka terdampar di pulau itu..
2.Dia terjun ke sungai.
d.kalimat verbal resiprokal
Kalimat verbal resiprokal adalah kalimat yang predikatnya menyatakan makna saling.
Contohnya:
1.Dia berseberangan dengan lawan politiknya.
2.Dua orang kekasih itu berjalan dengan bergandengan tangan tidak merasa malu sedikit pun.
e.kalimat aktif ekatransitif
Kalimat ekatransitif adalah kalimat yang berobjek dan tidak berpelengkap dan mempunyai tiga unsur wajib, yakni subjek, predikat, dan objek
Contoh:
1.Pemerintah akan memasok semua kebutuhan lebaran.
S P O
2.Presiden merestui pembentukan Panitia Pemilihan Umum.
S P O
3.Nilai Ujian Nasional menentukan nasib para siswa.
S P O
f.kalimat aktif dwitransitif
Kalimat bentuk ini mempunyai pola tambahan yaitu hadirnya pelengkap dalam kalimat tersebut selain unsur subjek, predikat, dan objek.
Contoh:
1.Ibu membelikan adik sepatu baru.
S P O Pel.
2.Kamu harus membuatkan Pak Ali Laporan tahunan
S P O Pel.
g.kalimat aktif semitransitif
Kalimat aktif semitransitif adalah kalimat yang objeknya tidak dimunculkan. Apabila dimunculkan menjadi kalimat aktif ekatransitif (objek dielipsiskan).
Contohnya:
1. Orang itu sedang mencuci.
2. Pengemis itu sedang meminta.
h.kalimat ekuatif
Kalimat ekuatif adalah kalimat yaang mengandung kata kerja bantu seperti adalah, menjadi dan merupakan. Kalimat ini antara subjek dan predikat seakan akan dianggap sama atau merupakan pengganti makna.
Contohnya;
1.Kakekku adalah pelaut.
2. Dia sekarang menjadi orang kaya.
7.Jelaskan cara pengembangan ide atau gagasan dalam kegiatan menulis, yakni
a.cara alamiah
b.cara logika/penalaran
c.cara urutan kepentingan
d.cara perbandingan
e.cara pertentangan
Pengembangan ide gagasan menulis ada berbagai cara, yaitu:
a)cara alamiah
Pola alamiah adalah suatu urutan unit-unit karangan sesuai dengan keadaan yang nyata di alam. Pola ini sesuai dengan dimensi dalam kehidupan manusia, yaitu atas-bawah, melintang-menyeberang, sekarang-nanti, dulu-sekarang, timur-barat, dsb. Contoh :
Perjalanan waktu dari dahulu hingga sekarang yang tidak pernah berubah dalam kehidupan manusia adalah rasa ingin tahu dan ingin hidup lebih enak. Pada masa pergolakan di tanah air orang susah mendapatkan nasi. Makanan sehari hari hanyalah jagung atau jenis umbi-umbian. Perkembangan zaman jagung dan umbi-umbian harganya lebih mahal dari nasi. Jagung dan umbi-umbian telah dimodifikasi menjadi makanan yang dipajang di restoran.
b)cara logika/ penalaran
Pola logika atau penalaran yaitu pola pengembangan paragraph yang mencari hubungan-hubungan yang dapat diterima oleh akal. Tanggapan yang diberikan dalam tulisan menyesuaikan jalan pikiran sebagai landasan untuk memecahkan persoalan.
Contoh :
Rasa ingin tahu seseorang dipicu oleh perasaan hati manusia ingin hidup lebih baik. Keingintahuan seseorang menjadikan hidup lebih kreatif, inovatif, dan berarti. Kekreatifan dan keinovatifan seseorang menjadikan hidup dan tidak mati. Masa bodah seseorang akan membunuh secara perlahan hidup dan kehidupan.
c)urutan kepentingan
Urutan kepentingan sama dengan pola familiaritas, yaitu pengarang dalam mengembangkan karangannya dimulai dengan cara mengemukakan sesuatu yang berdasarkan skala prioritas kemudian berangsur-angsur mengemukakan yang tidak begitu penting.
Contoh:
Usaha mengembangkan produktivitas pertanian tidak akan terlepas dari kemauan dan usaha petani itu sendiri. Ada beberapa usaha yang harus dilakukan oleh petani dalam meningkatkan hasil pertanian. Usaha ini lebih dikenal dengan pancausaha tani. Memilih bibit unggul merupakan langkah yang harus dilakukan oleh petani agar hasil tanaman yang akan dipanen menjadi baik. Petani tidak boleh asal menanam bibit tanaman. Bibit tanaman itu harus dicari keunggulan-keunggulannya. Langkah ini sering diabaikan oleh petani Indonesia.
d)cara perbandingan
Pola perbandingan adalah dengan cara membandingkan atau menunjukkan persamaan dan perbedaan antara dua orang, objek, atau gagasan dengan bertolak dari segi-segi tertentu.
Contoh:
Kondisi perekonomian kota dan pedesaan ditinjau dari ketahanan pangan sangat berbeda. Perekonomian masyarakat pedesaan lebih kuat dibanding dengan perekonomian kota. Simbiosis mutualis inilah yang menjadikan kedua perekonomian kota dan pedesaan tetap berjalan.
e)cara pertentangan
Pola pertentangan lebih menekankan pada aspek mencarai perbedaan unsur-unsur yang akan diungkap.
Contoh :
Proses demokrasi sebagai cita-cita luhur itu kurang lancar jalannya. Ketidakberhasilan ini karena adanya perbedaan kepentingan. Pandangan picik dari masyarakat yang mengatakan bahwa demokrasi akan menyebabkan kondisi keamanan yang tidak kondusif sebagai penyebab demokrasi tidak berjalan dengan baik. Sebagian masyarakat lain memandang situasi yang tidak kondusif ini dipicu karena demokrasi tidak berjalan. Pemerintah yang otokrian menyebabkan kesengsaraan di mana-mana..
8.Paragraf yang baik memiliki tiga syarat utama yakni kohesi, koherensi, dan kelengkapan. Jelaskan ketiga syarat tersebut dan deskripsikan piranti kohesi yang biasa digunakan dalam pengembangan pararagraf!
Tiga syarat paragraf yang baik adalah:
1)koherensi
Setiap paragraf haruslah merupakan kumpulan kalimat yang saling berhubungan padu, tidak berdiri-sendiri atau terlepas satu sama lain.
2)kelengkapan
Paragraf dikatakan lengkap jika berisi kalimat-kalimat penjelas yang cukup menunjang kejelasan kalimat topik dan dikatakan tidak lengkap apabila tidak dikembangkan atau hanya diperluas dengan pengulangan- pengulangan.
3)kohesi
Keserasian hubungan antara unsur yang satu dengan unsur yang lain dalam wacana sehingga terciptalah pengertian yang baik atau koheren.
Agar kalimat itu menjadi kohesif diperlukan adanya piranti kohesi sabagai berikut.
a.Hubungan sebab-akibat baik antarklausa maupun anatar kalimat yang dinyatakan dengan kata penghubung sebab, karena, akibat dan lain-lain;
b.Hubungan pertentangan yang dinyatakan dengan kata penghubung tetapi, namun, sedangkan;
c.Hubungan pengutamaan yang dinyatakan dengan kata penghubung bahkan;
d.Hubungan perkecualian yang dinyatakan dengan kata penghubung kecuali;
e.Hubungan konsesif yang dinyatakan dengan kata penghubung walaupun, meskipun;
f.Hubungan tujuan yang dinyatakan dengan kata penghubung agar, supaya;
g.Hubungan persesuaian alami yang dinyatakan dengan hubungan yang bersifat gramatikal.
Kesemua unsur ini akan membentuk sebuah paragraf yang baik dan padu.
9.Jelaskan problema semantik dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah Saudara!
Problema semantik yang sering dijumpai di sekolah kami antara lain :
1.Adanya pengaruh kuat yang negatif dari media elektronik dalam mengunakan dan memaknai kata ganti ’kami’ dan ’kita’ dalam percakapan sehari-hari.
2. Adanya kata-kata yang sama dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah/Sunda, tetapi maknanya berbeda.
Contoh : amis, paling, papah, pisang, dan suku.
3. Adanya kesulitan pada anak ketika dihadapkan pada pembelajaran makna denotasi dan konotasi dalam frasa.
Contoh : kambing hitam, lintah darat, dukun beranak, dan timah panas.
4. Adanya penulisan kalimat yang ambigu dalam karang-mengarang.
Contoh : Ditangkap dua orang pencuri di kampung kami.
5. Adanya kesulitan siswa dalam mencari dan memahami makna kata-kata baku yang masih asing di telinga siswa.
Contoh : senyampang dan madani
6. Adanya kesulitan siswa dalam memahami makna kata-kata serapan dari bahasa asing.
Contoh : diversifikasi, intensifikasi, dan determinasi.
7. Adanya ketumpangtindihan penggunaan kata ’jam’ dan ’pukul’, ’tiap-tiap’ dan ’masing-masing’.
8. Adanya kesulitan siswa dalam memahami makna diksi dalam karya sastra.
*****
PROGRAM SERTIFIKASI GURU MELALUI JALUR PENDIDIKAN
1.Jelaskan konsep huruf, fonem, fon, kontoid, vokoid, dan kaidah fonotaktik!
a) Huruf adalah tanda yang dipakai dalam aksara untuk menggambarkan bunyi manusia (Kridalaksana, 1993: 79). Huruf yang digunakan dalam bahasa Indonesia, khusunya, terbagi atas huruf kafital (huruf besar) dan huruf kecil. Huruf kapital digunakan dalam berbagai nama diri, antara lain nama orang, nama jabatan, nama geografi, nama badan atau lembaga, dan pada penulisan awal kalimat. Sedangkan huruf kecil digunakan dalam kalimat dan nama-nama selain nama diri atau badan.
Huruf dalam tataran ini dapat berada di awal, di tengah, dan di akhir. Huruf belum bermakna sedangkan fonem sudah mampu membedakan makna. Huruf adalah aksara atau gambaran bunyi bahasa.
Contoh :
Huruf Vokal
Cara pemakaian dalam kata
Di awal
Di tengah
Di akhir
a
i
o
u
e*
adik
ikat
otak
ulang
encer
elang
satu
kita
doa
tua
tega
perah
kota
hari
kado
kamu
pete
klise
Huruf Konsonan
Cara Pemakaian dalam Kata
Di awal
Di tengah
Di akhir
h
k
l
n
s
pasak
kapan
lisan
nomor
simak
saham
makan
malu
makna
pusat
kerah
telak
mental
makan
laris
b)Fonem adalah bunyi bahasa terkecil yang membedakan bentuk makna. Fonem adalah satuan yang terkecil yang terdiri atas bunyi-bunyi ujar yang dapat membedakan arti.
Contoh : cari, dari, jari, lari, mari, sari, dan tari.
Fonem /l, t, d, j, m, s, c/ mampu menunjukkan terjadinya perbedaan makna, sehingga disebut fonem yang berbeda.
c)Fon merupakan suatu hasil bunyi dari alat ujar dan dalam proses menghasilkan bunyi tersebut dikenal kontoid dan vokoid. Fon adalah bunyi bahasa terkecil baik yang membedakan arti atau tidak membedakan arti ( tahun – taun / ramai – rame / satai –sate / cabai –cabe).
d) Kontoid atau konsonan merupakan bunyi bahasa yang dihasilkan dengan menghambat aliran udara pada salah satu tempat di saluran suara di atas glotis. Kontoid adalah bunyi yang bagi pengucapanya arus udara dihambat sama sekali oleh penutupan larinx atau jalan di mulut atau dipaksa melalui lubang sempit, atau dipindahkan dari garis tengah daripada alurnya melalui lubang lateral, atau menyebabkan bergetarnya salah satu alat-alat supraglotal. Contoh: [p] (papa), [t] (tata), [d] (dada).
Kontoid terbagi atas :
a.Kontoid bilabial : [p, b, m, w]
b.Kontoid labiodental : [f, v]
c.Kontoid apikodental : [t, d, n, s, l]
d.Kontoid apikoalveolar : [t, d, n, s, l]
e.Kontoid laminopalatal : [j, c, ñ, y]
f.Kontoid dorsovelar : [k, g, x, ŋ]
g.Kontoid faringal : [h]
h.Kontoid glotal : [?]
i.Kontoid nasal : n, m, ŋ, ñ]
e) Vokoid (istilah fonetik) atau vokal (konsep fonemis dan grafemis) adalah bunyi bahasa yang dihasilkan dengan getaran pita suara, dan tanpa penyempitan dalam saluran suara di atas glotis. Vokoid adalah bunyi yang bagi pengucapannya jalan mulut tidak terhalang, sehingga arus udara dapat mengalir dari paru-paru ke bibir dan ke luar tanpa dihambat, tanpa harus melalui lubang sempit, tanpa dipindahkan dari garis tengah pada alurnya dan tanpa menyebabkan alat-alat supraglotal sebuah pun bergetar; biasanya bersuara, tetapi tidak perlu selalu demikian.
Contoh: [a] (apa),[e] (nenek), [e] (mepe) dalam bahasa Indonesia berarti menjemur, [i] (ini).
f) Kaidah fonotaktik adalah kaidah yang mengatur penjejeran fonem dalam satu morfem. Dalam bahasa Indonesia, misalnya, terdapat jejeran seperti / -nt-/ (untuk), /-rs-/ (bersih), dan /-st-/ (pasti), tetapi tidak mengizinkan jejeran seperti /-pk-/ dan /pd/. Kaidah fonotaktik merupakan kaidah-kaidah yang mengatur urutan atau hubungan antara fonem-fonem suatu bahasa. Fonotaktik mempunyai pola yang terkait dengan pola penyukuan kata dan pergeseran bunyi menimbulkan variasi bunyi satu fonem yang sama.
2.Problema apakah yang sering dijumpai dalam penerapan EYD dan kaidah pembentukan istilah, baik menyangkut masalah tata tulis maupun tata ucap?
a) Masalah Penerapan EYD
Peneraan Ejaan yang Disempurnakan (EYD) yang mulai diberlakukan sejak tahun 1972, masih belum dapat dilaksanakan secara mantap. Hal ini karena jumlah variasi pelafalan bahasa Indonesia yang diizinkan atau diterima itu sangat besar sebagai akibat banyaknya ragam kedaerahan. Lafal bahasa Indonesia banyak coraknya. Kita bukan hanya berhadapan dengan ragam kedaerahan, tetapi juga dengan ragam orang yang kurang berpendidikan, yang fonologi bahasanya berbeda. Dalam upaya pembakuan lafal, yang menjadi masalah berikutnya adalah lafal siapa atau lafal daerah mana yang harus dijaikan acuan atau tolak ukur agar dapat disebut lafal Indonesia yang baku.
b)Masalah pembentukan istilah
Masalah pembentukan istilah, sebagai bagian dari leksikon bahasa Indonesia, sudah diupayakan ke arah pembakuan dengan diterbitkannya Pedoman Pembentukan Istilah sejak tahun 1975. Usaha ini merupakan upaya agar bahasa Indonesia memiliki syarat kemantapan, kecendekiaan, dan keseragaman. Akan tetapi, pengembangannya sangat bergantung kepada unsur sertaan pengembangan ilmu. Dengan kalimat lain, pembentukan istilah, sangat bergantung kepada para ahli di berbagai bidang ilmu.
c) Masalah tatatulis dan tataucap
Di dalam kelas adakalanya kita menemukan permasalahan penggunaan sebuah atau beberapa kata asing dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia prinsip pengucapan antara tulisan dan ucapan harus sama sedangkan dalam bahasa asing khususnya bahasa Inggris antara tulisan dan pengucapan banyak yang berbeda.
Untuk mengatasi hal tersebut dilakukan cara:
1)Penyusunan kamus disertai cara pengucapannya (transkrip fonetis);
2)Pengucapan diusahakan antara tulisan dan ucapan sama dalam konteks bahasa Indonesia;
3)Kata asing digunakan jika dalam bahasa Indonesia tidak ada kata padannya; dan
4)Pembelajaran senantiasa berpedoman pada kaidah penyerapan dan tatatulis serta memperhatikan masyarakat pengguna bahasa Indonesia.
3.Jelaskan secara menyeluruh proses morfologis dan proses morfofonemis dan berilah contoh masing-masing secukupnya!
Proses morfologis adalah proses pembentukan kata-kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya. Proses morfologis ada enam jenis (Kridalaksana 1990:5) yaitu:
a)afiksasi (pengimbuhan), yaitu proses pembentukan kata dengan membubuhkan imbuhan afiks pada bentuk dasarnya. Hasilnya disebut kata berimbuhan.
Contoh :
usir + meng- -----------► mengusir
guruh + -em- -----------► gemuruh
pakai + -an -----------► pakaian
batas+ ber-an -----------► berbatasan
b) reduplikasi (pengulangan) ialah proses pembentukan kata dengan cara mengulang bentuk dasarnya. Hasil proses ini disebut kata ulang.
Contoh :
bertanya -----------► R -----------► bertanya-tanya
pelan -----------► R -----------► pelan-pelan
bersalaman -----------► R ----------► bersalam-salaman
c) komposisi (pemajemukan), yaitu proses pembentukan kata dengan cara menggabungkan suatu kata dengan kata yang lain. Hasilnya disebut kata gabung (kata majemuk).
Contoh :
tanggung + jawab -----------► tanggung jawab
anak + emas -----------► anak emas
mata + hati -----------► mata hati
d)derivasi zero
Derivazi zero adalah proses leksem menjadi kata tunggal tanpa perubahan apa-apa. Contoh leksem KITA menjadi kita tanpa perubahan apa-apa.
e)pemendekan
Pemendekan adalah proses terbentuknya leksem menjadi kata dengan cara pemenggalan, konstraksi, akronim, dan penyingkatan. Contoh IBU menjadi bu.
f)derivasi balik
Derivasi balik adalah proses terbentuknya leksem menjadi kata. Proses ini sama dengan kejadian dalam afiksasi.
Proses morfofonemis adalah proses perubahan fonem akibat pertemuan sebuah morfem dengan morfem yang lain. Proses morfofonemis merupakan peristiwa fonologis yang terjadi karena pertemuan morfem dengan morfem. Proses morfofonemis dalam bahasa Indonesia hanya terjadi dalam pertemuan realisasi morfem dasar (morfem) dengan realisasi afiks (morfem), baik prefiks, sufiks, infiks, maupun konfiks. Berbicara mengenai morfem, berarti berbicara mengenai satuan abstrak, sedangkan morf merupakan satuan yang lebih konkret daripada morfem, sedangkan di luar itu, fonem dan fon merupakan satuan yang lebih konkret lagi.
a)Peristiwa Morfofonemis Pemunculan Fonem
1.Pemunculan luncuran/y/ /ketinggiYan/ /tepiYan/
2. Pemunculan luncuran/w/ /KepulauWan/
3.Pemunculan luncuran/a/ /ayahanda/
4.Pemunculan luncuran/n/ /seNdiri/
5.Pemunculan luncuran/m//seMbarangan/
6.Pemunculan luncuran/nge/ /pe NGE las/
7.Pemunculan luncuran/ng//peNGgugat/
b)Peristiwa Morfofonemik Pengekalan Fonem
Penggabungan morf tak terjadi perubahan apa-apa.
1.Pengekalan fonem diawali /l,r,y,w/ melihat, pemula, penilai
2.Pengekalan fonem bila berakhiran /a/ dan mendapat konfiks ke-an. Misalnya kesamaan, dan kelangkaan.
3.Pengekalan fonem terjadi bila berafiks ber-, ter-, per-, se-, wan, wati
Misalanya: bermain, terpukul, pertanda, searah wartawan, wartawati.
4.Peristiwa Morfofonemik Pemunculan dan Pengekalan Fonem
Misalnya: mengkukur dan mengukur
c)Peristiwa Morfofonemik Pergeseran Fonem
1.pergeseran ke belakang /bala-san, rambu-tan/
2.pergeseran ke depan /i-bunda, cu-cunda/
3.pergeseran pemecahan suku kata akibat infiks /ge-ri-gi, ge-me-tar/
d)Peristiwa Morfofonemik Perubahan Dan Pergeseran Fonem
1.Perubahan fonem /’/ menjadi fonem /k/ /menaiki,gerakan/
2.Perubahan fonem /r/ berubah menjadi /l/ /belajar, pelajar, terlantar/
e)Peristiwa Morfofonemik pelesapan fonem
1.pelesapan fonem /h /dan /k/ /sejarawan, ananda/
2.pelesapan fonem /r //peramal,bekerja/
f)Peristiwa Morfofonemik Peluluhan Fonem
1.peluluhan fonem /k//mengarang, pengiriman/
2.peluluhan fonem /p//memakai, pemahat
g)Peristiwa Morfofonemik Penyisipan Fonem secara Historis
Peristiwa ini apabila terjadi morfem dasr berasal dari kata asing mendapat afiksasi/ standardisasi, objektif/
h)Peristiwa Morfofonemik pemunculan fonem berdasarkan pola bahasa asing
Pemunculan fonem karena mengikuti morfofonemik bahasa asing. /islami, duniawi, surgawi, alami/
i)Peristiwa Morfofonemik Variasi Fonem Bahasa Sumber
Variasi fonem mengikuti pola bahasa sumber yang memiliki makna yang sama
Tunggal = diktum, musikus, politikus, alumnus
Jamak = diksi, musisi, politisi, alumni
4.Bandingkan persamaan dan perbedaan antara konstruksi morfologis dan konstruksi sintaksis! Deskripsikan jenis kedua kontruksi tersebut dan berilah contoh masing-masing secukupnya!
Persamaan dan Perbedaan Kontruksi Morfologis dan Sintaksis.
Baik morfologi dan sintaksis merupakan bagian dari ilmu bahasa . Morfologi adalah ilmu yang mengkaji soal yang berhubung dengan seluk-beluk bentuk kata, kemungkinan adanya perubahan golongan kata (fungsi gramatik), kemungkinan perubahan makna kata akibat daripada perubahan bentuk kata (fungsi semantik). Satuan yang paling kecil yang diselidiki oleh morfologi adalah morfem dan yang paling besar burupa kata.
Sintaksis mempelajari seluk beluk hubungan antara kata/frase/klausa/kalimat. Kata dalam tataran siktaksis adalah satuan yang paling kecil yang terbesar adalah wacana. Jadi materi pelajaran morfologi dan sintaksis selalu terkait, jika kita urutkan dari bawah, keenam satuan gramatik menurut Ramlan adalah sebagai berikut, morfem, kara, frasa, klausa, kalimat, dan wacana.
Morfologi
Sintaksis
Mengkaji morfem dan kata
Contoh :
Paman akan mengadakan perjalanan jauh.
Paman : satu morfem
akan : satu morfem,
mengadakan : tiga morfem
meN + ada + kan
perjalanan : dua morfem
per – an + jalan
jauh : satu morfem
unsur ke…an dengan
tidak adil, tidak mampu,
tidak berhasil…
Mengkaji frasa, klausa, kalimat dan wacana.
Contoh :
Paman akan mengadakan perjalanan jauh.
Paman : subjek
akan mengadakan : predikat
perjalanan jauh : objek
Hubungan kata tidak dengan
adil, mampu, berhasili, cukup
5.Tipe kalimat dan pola kalimat dasar dalam bahasa Indonesia, sertakan contoh masing-masing!
Tipe kalimat dan pola kalimat dasar yang terdapat dalam bahasa Indonesia.
Tipe kalimat
Contoh
Subjek
Predikat
Objek
Pelengkap
Keterangan
S – P
Ahmad
bertanya
-
-
-
S – P - O
Ucok
membuat
layang-layang
-
-
S – P – Pel
Asep
belajar
Bahasa Indonesia
-
-
S – P – Ket
Kakak
mau menikah
-
-
tahun ini
S – P – O – Pel
Ibu
membelikan
adik
sepatu
-
S – P – O – Ket
Ely
membeli
buku
-
di Gramedia
Tipe kalimat dalam bahasa Indonesia ada enam macam berdasarkan fungsi. Keenam tipe kalimat ini juga memiliki pola kalimat dasar. Apabila konstituen kalimat dasar yang tidak wajib diabaikan maka yang dihasilkan kalimat inti. Tabel di atas merupakan keenam kalimat dasar yang dibedakan berdasarkan pola unsur-unsurnya yang wajib.
Pola Kalimat Dasar
Nomor
Pola Kalimat Dasar
Contoh
1
FN + FN
Pamanku
polisi
2
FN + FV
Adikku
belajar
3
FN + F Numeralia
kucingku
seekor
4
FN + F Adjektif
Dia
bahagia
5
FN + F Adverb
Ayah
ke Surabaya
Berdasarkan jumlah inti kalimat dapat ditentukan pola-pola dasar sebuah kalimat. Sebuah kalimat luas selalu dapat dikembalikan kepada pola-pola dasar yang dianggap sebagai dasar pembentukan kalimat luas itu. Dasar pembuatan kalimat luas adalah kalimat inti
6.Deskripsikan konsep istilah berikut dan berilah contoh masing-masing secukupnya!
a. Kalimat nonverbal adalah kalimat yang predikatnya bukan kata kerja
Contoh : 1. Ibuku guru.
2. Temanku sangat cantik.
3. Dosenku profesor ternama.
b. Kalimat verbal pasif
Ada dua pola terbentuknya kalimat pasif, yaitu kalimat yang diturunkan dari kalimat aktif dan dari kalimat itu sendiri.
Contoh :
1.Sayuran itu dibeli oleh Ibu.
2.Aku terantuk batu.
Kalimat nomor satu adalah kalimat pasif yang diturunkan dari kalimat aktif Ibu membeli sayuran. Berarti kalimat nomor satu dasar pemasifannya dari kalimat aktif. Tidak semua kalimat aktif dapat diubah menjadi kalimat aktif. Kalimat aktif yang tidak dapat diubah menjadi kalimat pasif disebut kalimat taktransitif. Kalimat tersebut tidak mempunyai objek.
Kalimat nomor dua adalah kalimat pasif yang terbentuk bukan karena dari kalimat aktif, melainkan dari verba yang berkategori pasif. Ada beberapa prefiks yang berkategori pasif, yaitu prefiks di- dan ter- dan pada pola tertentu kata dasar juga berperan sebagai kata kerja pasif. Contohnya Buku aku beli atau Buku kubeli. Pada kalimat Buku aku beli diturunkan dari kalimat aktif Aku membeli buku.
c.kalimat verbal medial
Kalimat verbal medial adalah kalimat yang subjeknya pelaku sekaligus sebagai penderita.
1.Mereka terdampar di pulau itu..
2.Dia terjun ke sungai.
d.kalimat verbal resiprokal
Kalimat verbal resiprokal adalah kalimat yang predikatnya menyatakan makna saling.
Contohnya:
1.Dia berseberangan dengan lawan politiknya.
2.Dua orang kekasih itu berjalan dengan bergandengan tangan tidak merasa malu sedikit pun.
e.kalimat aktif ekatransitif
Kalimat ekatransitif adalah kalimat yang berobjek dan tidak berpelengkap dan mempunyai tiga unsur wajib, yakni subjek, predikat, dan objek
Contoh:
1.Pemerintah akan memasok semua kebutuhan lebaran.
S P O
2.Presiden merestui pembentukan Panitia Pemilihan Umum.
S P O
3.Nilai Ujian Nasional menentukan nasib para siswa.
S P O
f.kalimat aktif dwitransitif
Kalimat bentuk ini mempunyai pola tambahan yaitu hadirnya pelengkap dalam kalimat tersebut selain unsur subjek, predikat, dan objek.
Contoh:
1.Ibu membelikan adik sepatu baru.
S P O Pel.
2.Kamu harus membuatkan Pak Ali Laporan tahunan
S P O Pel.
g.kalimat aktif semitransitif
Kalimat aktif semitransitif adalah kalimat yang objeknya tidak dimunculkan. Apabila dimunculkan menjadi kalimat aktif ekatransitif (objek dielipsiskan).
Contohnya:
1. Orang itu sedang mencuci.
2. Pengemis itu sedang meminta.
h.kalimat ekuatif
Kalimat ekuatif adalah kalimat yaang mengandung kata kerja bantu seperti adalah, menjadi dan merupakan. Kalimat ini antara subjek dan predikat seakan akan dianggap sama atau merupakan pengganti makna.
Contohnya;
1.Kakekku adalah pelaut.
2. Dia sekarang menjadi orang kaya.
7.Jelaskan cara pengembangan ide atau gagasan dalam kegiatan menulis, yakni
a.cara alamiah
b.cara logika/penalaran
c.cara urutan kepentingan
d.cara perbandingan
e.cara pertentangan
Pengembangan ide gagasan menulis ada berbagai cara, yaitu:
a)cara alamiah
Pola alamiah adalah suatu urutan unit-unit karangan sesuai dengan keadaan yang nyata di alam. Pola ini sesuai dengan dimensi dalam kehidupan manusia, yaitu atas-bawah, melintang-menyeberang, sekarang-nanti, dulu-sekarang, timur-barat, dsb. Contoh :
Perjalanan waktu dari dahulu hingga sekarang yang tidak pernah berubah dalam kehidupan manusia adalah rasa ingin tahu dan ingin hidup lebih enak. Pada masa pergolakan di tanah air orang susah mendapatkan nasi. Makanan sehari hari hanyalah jagung atau jenis umbi-umbian. Perkembangan zaman jagung dan umbi-umbian harganya lebih mahal dari nasi. Jagung dan umbi-umbian telah dimodifikasi menjadi makanan yang dipajang di restoran.
b)cara logika/ penalaran
Pola logika atau penalaran yaitu pola pengembangan paragraph yang mencari hubungan-hubungan yang dapat diterima oleh akal. Tanggapan yang diberikan dalam tulisan menyesuaikan jalan pikiran sebagai landasan untuk memecahkan persoalan.
Contoh :
Rasa ingin tahu seseorang dipicu oleh perasaan hati manusia ingin hidup lebih baik. Keingintahuan seseorang menjadikan hidup lebih kreatif, inovatif, dan berarti. Kekreatifan dan keinovatifan seseorang menjadikan hidup dan tidak mati. Masa bodah seseorang akan membunuh secara perlahan hidup dan kehidupan.
c)urutan kepentingan
Urutan kepentingan sama dengan pola familiaritas, yaitu pengarang dalam mengembangkan karangannya dimulai dengan cara mengemukakan sesuatu yang berdasarkan skala prioritas kemudian berangsur-angsur mengemukakan yang tidak begitu penting.
Contoh:
Usaha mengembangkan produktivitas pertanian tidak akan terlepas dari kemauan dan usaha petani itu sendiri. Ada beberapa usaha yang harus dilakukan oleh petani dalam meningkatkan hasil pertanian. Usaha ini lebih dikenal dengan pancausaha tani. Memilih bibit unggul merupakan langkah yang harus dilakukan oleh petani agar hasil tanaman yang akan dipanen menjadi baik. Petani tidak boleh asal menanam bibit tanaman. Bibit tanaman itu harus dicari keunggulan-keunggulannya. Langkah ini sering diabaikan oleh petani Indonesia.
d)cara perbandingan
Pola perbandingan adalah dengan cara membandingkan atau menunjukkan persamaan dan perbedaan antara dua orang, objek, atau gagasan dengan bertolak dari segi-segi tertentu.
Contoh:
Kondisi perekonomian kota dan pedesaan ditinjau dari ketahanan pangan sangat berbeda. Perekonomian masyarakat pedesaan lebih kuat dibanding dengan perekonomian kota. Simbiosis mutualis inilah yang menjadikan kedua perekonomian kota dan pedesaan tetap berjalan.
e)cara pertentangan
Pola pertentangan lebih menekankan pada aspek mencarai perbedaan unsur-unsur yang akan diungkap.
Contoh :
Proses demokrasi sebagai cita-cita luhur itu kurang lancar jalannya. Ketidakberhasilan ini karena adanya perbedaan kepentingan. Pandangan picik dari masyarakat yang mengatakan bahwa demokrasi akan menyebabkan kondisi keamanan yang tidak kondusif sebagai penyebab demokrasi tidak berjalan dengan baik. Sebagian masyarakat lain memandang situasi yang tidak kondusif ini dipicu karena demokrasi tidak berjalan. Pemerintah yang otokrian menyebabkan kesengsaraan di mana-mana..
8.Paragraf yang baik memiliki tiga syarat utama yakni kohesi, koherensi, dan kelengkapan. Jelaskan ketiga syarat tersebut dan deskripsikan piranti kohesi yang biasa digunakan dalam pengembangan pararagraf!
Tiga syarat paragraf yang baik adalah:
1)koherensi
Setiap paragraf haruslah merupakan kumpulan kalimat yang saling berhubungan padu, tidak berdiri-sendiri atau terlepas satu sama lain.
2)kelengkapan
Paragraf dikatakan lengkap jika berisi kalimat-kalimat penjelas yang cukup menunjang kejelasan kalimat topik dan dikatakan tidak lengkap apabila tidak dikembangkan atau hanya diperluas dengan pengulangan- pengulangan.
3)kohesi
Keserasian hubungan antara unsur yang satu dengan unsur yang lain dalam wacana sehingga terciptalah pengertian yang baik atau koheren.
Agar kalimat itu menjadi kohesif diperlukan adanya piranti kohesi sabagai berikut.
a.Hubungan sebab-akibat baik antarklausa maupun anatar kalimat yang dinyatakan dengan kata penghubung sebab, karena, akibat dan lain-lain;
b.Hubungan pertentangan yang dinyatakan dengan kata penghubung tetapi, namun, sedangkan;
c.Hubungan pengutamaan yang dinyatakan dengan kata penghubung bahkan;
d.Hubungan perkecualian yang dinyatakan dengan kata penghubung kecuali;
e.Hubungan konsesif yang dinyatakan dengan kata penghubung walaupun, meskipun;
f.Hubungan tujuan yang dinyatakan dengan kata penghubung agar, supaya;
g.Hubungan persesuaian alami yang dinyatakan dengan hubungan yang bersifat gramatikal.
Kesemua unsur ini akan membentuk sebuah paragraf yang baik dan padu.
9.Jelaskan problema semantik dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah Saudara!
Problema semantik yang sering dijumpai di sekolah kami antara lain :
1.Adanya pengaruh kuat yang negatif dari media elektronik dalam mengunakan dan memaknai kata ganti ’kami’ dan ’kita’ dalam percakapan sehari-hari.
2. Adanya kata-kata yang sama dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah/Sunda, tetapi maknanya berbeda.
Contoh : amis, paling, papah, pisang, dan suku.
3. Adanya kesulitan pada anak ketika dihadapkan pada pembelajaran makna denotasi dan konotasi dalam frasa.
Contoh : kambing hitam, lintah darat, dukun beranak, dan timah panas.
4. Adanya penulisan kalimat yang ambigu dalam karang-mengarang.
Contoh : Ditangkap dua orang pencuri di kampung kami.
5. Adanya kesulitan siswa dalam mencari dan memahami makna kata-kata baku yang masih asing di telinga siswa.
Contoh : senyampang dan madani
6. Adanya kesulitan siswa dalam memahami makna kata-kata serapan dari bahasa asing.
Contoh : diversifikasi, intensifikasi, dan determinasi.
7. Adanya ketumpangtindihan penggunaan kata ’jam’ dan ’pukul’, ’tiap-tiap’ dan ’masing-masing’.
8. Adanya kesulitan siswa dalam memahami makna diksi dalam karya sastra.
*****
RPP PUISI INOVATIF
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Sekolah : SMPN 15 Yogyakarta
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas/Semester : VII/2
Alokasi Waktu : 4 X 40 menit
A.Standar Kompetensi : Menulis
16 Mengungkapkan keindahan alam dan pengalaman
melalui kegiatan menulis kreatif puisi.
B. Kompetensi Dasar : 16.1 Menulis kreatif puisi berkenaan dengan keindahan alam.
C.Tujuan Pembelajaran
1) Setelah mengamati gambar keindahan alam, siswa dapat menyebutkan 3 hal yang menarik pada gambar sebagai objek penulisan puisi.
2)Setelah mengamati pembacaan puisi, siswa dapat menentukan tema/topik puisi yang sesuai dengan gambar yang diamati.
3)Setelah mengamati model larik-larik puisi tentang keindahan alam, siswa dapat menuliskan dua bait puisi tentang keindahan alam.
4)Setelah mempelajari teknik-teknik penulisan puisi, siswa dapat menulis puisi dengan pilihan kata yang tepat dan rima yang menarik
5)Setelah mengamati pembacaan puisi oleh temannya, siswa dapat memberi tanggapan terhadap puisi yang telah dibacakan.
D.Materi Pokok
Materi pokok yang disampaikan dalam penulisan puisi ini adalah:
1.Contoh teks puisi yang ditulis siswa.
2.Teknik Penulisan Puisi (terlampir).
3.Penulisan puisi dengan teknik Rangsang-gambar dan Sumbang-kata.
E.Metode Pembelajaran
Inkuiri - Demontrasi
Tanya jawab - Diskusi
F.Kegiatan Pembelajaran
1) Pertemuan Pertama
a) Kegiatan Pendahuluan
Memfokuskan perhatian dan memotivasi siswa dengan apersepsi, informasi kompetensi dasar, manfaat materi bahan ajar, serta rencana aktivitas pembelajaran. Setelah membuka pembelajaran dengan apersepsi tentang materi puisi pada semester ganjil, guru membacakan contoh puisi kemudian siswa menanggapinya melalui tanya jawab lisan.
Guru memperlihatkan setangkai bunga melati yang masih segar kepada seluruh siswa, kemudian serangkaian pertanyaan diajukan secara teratur kepada seluruh siswa berkenaan dengan bunga melati tersebut. Misalnya, siapa yang tahu nama bunga ini? Siswa menjawab serempak dan guru memintanya kepada seorang siswa dan menuliskannya di papan tulis. Kemudian guru memberikan probing (pertanyaan menggali), apa yang engkau ketahui tentang bunga melati ini? (Mungkin siswa merenung atau bingung dalam menjawab pertanyaan tersebut yang sangat terbuka), kemudian guru memberikan prompting dengan pertanyaan bimbingan/terarah:
Apa warnanya?,
Bagaimana baunya?,
Bagaimana ukurannya?,
Di mana tumbuhnya?
Apa manfaatnya?
Apakah semua orang menyenanginya?, dan semacamnya.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut diberikan secara berkala tergantung jawaban siswa pada pertanyaan sebelumnya. Teknik probing-prompting dilakukan fleksibel sehingga siswa terarah, terbimbing, dan tergali pengetahuannya. Semua jawaban siswa dituliskan pada papan tulis.
b) Kegiatan Inti
Dengan pengarahan dari guru siswa dibimbing untuk menghaluskan dan menyempurnakan jawaban-jawaban siswa pada papan tulis, dengan cara memberi jiwa pada kalimat-kalimat yang telah ditulis dan diberi hiasan kata/kalimat estetika, yaitu dengan menganggap bahwa bunga melati itu sesuatu yang hidup, dengan cara menyebutnya menggunakan kata ‘engkau’. Target hasil penyempurnaan jawaban siswa yang tertulis pada papan tulis, melalui serangkaian tanya jawab yang sifatnya menggali, terarah, dan terbimbing adalah sebuah puisi seperti berikut ini.
MELATI
Melati, engkau bertubuh kecil tetapi engkau mungil menarik hati
engkau berwarna putih bersih dan berbau harum mewangi
di mana engkau berada selalu menambah asri
di mana engkau tinggal selalu menebar harum pada sekitar
kepada engkau setiap orang senang dan sayang
.................
Melati, aku ingin jadi sepertimu
meski aku masih kecil aku ingin menarik hati
pikir dan hati ini ingin putih bersih sepertimu
namaku ingin pula harum mewangi
di mana aku berada aku ingin disenangi
Setelah siswa menulis puisi tersebut, guru mendeklamasikannya dengan intonasi dan ritme yang menggugah jiwa, sehingga kata demi kata, baris demi baris, jiwa puisi itu meresap ke dalam akal dan rasa siswa. Setelah jeda sebentar, siswa mencermati jiwa puisi tersebut, guru memberi kesempatan kepada beberapa siswa untuk mendeklamasikannya bergiliran.
Kemungkinan lain guru menugasi siswa untuk membayangkan benda yang paling banyak disenangi oleh kebanyakan orang termasuk siswa, misalnya ‘televisi’. Digunakan teknik probing-prompting seperti di atas, dengan menganggap diri mereka sebagai televisi, jadi sebutannya sekarang bukan ‘engkau’ melainkan ‘aku’, guru mengarahkan siswa untuk menulis puisi seperti berikut ini.
SIAPAKAH AKU ?
Aku bukan asli Indonesia
jadi bukan suku Jawa ataupun Sunda
tapi kebanyakan orang kepadaku merasa suka
hingga aku sering ikut berkumpul bersama mereka
Aku punya tentang segala berita
aku punya tentang segala ilmu pengetahuan
aku bisa menghibur dengan segala cara
dan aku bisa memberi tontonan dan tuntunan
..........
Aku bukan wanita bukan pula lelaki
aku hanyalah hasil produksi
aku hasil karya canggih abad ini
manusia menyebutku televisi
Dari puisi yang telah dibuat bersama (mungkin tidak persis/tepat seperti di atas), guru membahas contoh istilah dasar puisi, seperti tema, gaya bahasa, rima, ritme, diksi, larik, tipografi, amanat, dan irama. Begitu pula dalam presentasinya dikenalkan mana yang disebut dengan apresiasi, improvisasi, intonasi, penjiwaan, imajinasi, gerak, mimik, dan jeda/tempo.
c) Kegiatan Penutup
Guru bersama siswa untuk menyimpulkan pembelajaran sekaligus mangadakan refleksi, kemudian memberikan arahan untuk menyiapkan kegiatan pada pertemuan berikutnya dan memberikan tugas untuk menulis puisi dengan tema (judul) benda dari dalam atau sekitar rumah (permainan) mereka.
Dari kegiatan tersebut, secara implisit indikator-indikator pembelajaran kontekstual terakomodasi dan terlaksana. Sajian pelajaran menggunakan model koperatif.
2) Pertemuan Kedua
Diadakan evaluasi hasil belajar (post-test) dengan cara guru menugasi siswa untuk membuat puisi yang berjudul ‘air’, semua siswa membuat puisi dengan judul yang sama. Evaluasi ini tidak bersifat pengetahuan melainkan kemampuan menulis dan mempresentasikan puisi, sesuai dengan amanat kurikulum.
Digunakan model pembelajaran koperatif tipe STAD dengan sintaks (Erman, 2004): pengarahan, sajian guru secara klasikal, buat kelompok 4-5 siswa, berikan bahan belajar (LKS), siswa berdiskusi/bekerja kelompok, presentasi hasil kelompok dan diskusi kelas, refleksi pelaksanaan pembelajaran, kuis individual, penghargaan pada kelompok/individu, buat skor kemajuan belajar siswa, tindak lanjut. Tema (judul) puisi yang dipilih misalnya tentang ‘guru’ atau ‘buku’.
Tipe koperatif lain yaitu TPS dengan sintaks: pengarahan, sajian guru secara klasikal, berikan bahan belajar (LKS), siswa berdiskusi/bekerja kelompok secara berpasangan 2 orang siswa pada satu meja (think-pairs), presentasi hasil kelompok dan diskusi kelas (share), refleksi pelaksanaan pembelajaran, kuis individual, penghargaan pada kelompok/individu, buat skor kemajuan belajar siswa, tindak lanjut. Judul puisi yang dipilih misalnya tentang ‘guru’ dan ‘ibu’ atau ‘tukang kayu’.
Pada akhir pertemuan tugas yang serupa dikerjakan secara individu. Aktivitas pembelajaran selain dilakukan di dalam ruang kelas, bisa juga di halaman sekolah atau tempat lain yang memungkinkan. Penilaian proses dilakukan terhadap aktivitas siswa (menulis dan mempresentasikan) serta portofolio berupa hasil karya siswa, sebagai reward hasil karya siswa ditempel pada dinding kelas.
G.Alat/Bahan dan Sumber Pembelajaran
1) Media Pembelajaran : - Gambar/tayangan keindahan alam
- Model teks puisi
2) Sumber Pembelajaran:. – Buku Menulis Puisi Satu Sisi karangan Soni Farid Maulana, Penerbit: Pustaka Khalifah Bandung.
- Buku Pengkajian Puisi karangan Rahmat Djoko Pradopo, Penerbit : Gadjah Mada University Press Yogyakarta
H.Penilaian
1) Penilaian Proses
Rubrik Penilaian
No
Nama Siswa
Unsur yang dinilai/Skor
J
U
M
L
A
H
N
I
L
A
I
Partisipasi
Keseriusan
Bertanya
Menanggapi
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
5
…
Keterangan : Perolehan Nilai
Skor Jumlah Skor Nilai
4 = baik sekali 13-16 90
3 = baik 9-12 80
2 = Cukup 5-8 70
1= Kurang 1-4 60
Penghitungan nilai akhir dalam skala 0—100 adalah sebagai berikut.
Perolehan Skor (1+2+3)
Nilai Akhir = ----------------------------- x 100
Skor Maksimal 10
2) Penilaian Hasil: Produk
1. Amatilah gambar berikut!
2. Tuliskan hal menarik apa saja yang terdapat pada gambar tersebut, buatlah dalam beberapa kata, frasa atau kalimat!
3. Buatlah sebuah puisi berdasarkan tulisan hasil pengamatanmu terhadap gambar tersebut dengan pilihan kata yang tepat dan rima yang menarik!
4. Suntinglah puisi yang telah kamu tulis tersebut!
Mengetahui Cianjur, 20 Januari 2009
Kepala Sekolah, Guru Bahasa Indonesia,
Ahmad Jamaludin, S.Pd.
NIP NIM 08201289002
IMPLEMENTASI PEDAGOGIK TRANSFORMATIF DALAM PEMBELAJARAN MENULIS PUISI MELALUI PENDEKATAN KOMUNIKATIF
Pedagogik tranformatif atau disebut pedagogik kritis (lawan dari pedagogik tradisional) merupakan pedagogik yang lahir dari pandangan-pandangan postmodernisme dan pedagogik libertarian. Pedagogik transformatif tidak cenderung pada nihilisme karena mengakui adanya kebenaran relatif tanpa meniadakan kebenaran itu sendiri. Dengan demikian, pedagogik transformatif menganut faham kebenaran yang terbuka (Tilaar:2005).
Pedagogik transformatif dilandasi oleh keyakinan bahwa pendidikan merupakan usaha memanusiakan manusia dan peserta didik merupakan manusia sosial yang berinteraksi dengan manusia lain dan kebudayan di sekitarnya. Anak didik dalam pedagogik transformatif merupakan manusia pembelajar dan pengubah sosial yang aktif. Transformasi sosial berada pada level individu maupun kelompok, mencakup perubahan dalam aspek (1) pengetahuan, (2) keterampilan, (3) sikap, (4) perspektif, dan (5) kesadaran diri (Zamzani dan Tadkiroatun, 2008: 4).
Ada beberapa model pembelajaran yang relevan dengan pedagogik transformatif, di antaranya pembelajaran kooperatif, kontekstual, dan komunikatif. Sehubungan dengan pembelajaran Menulis Puisi di kelas VII SMP, penulis memilih model pembelajaran komunikatif karena model ini merupakan salah satu karakteristik pembelajaran Bahasa Indonesia, meskipun dapat juga digunakan dalam mata pelajaran lainnya.
Alasan lainnya, dengan pendekatan komunikatif siswa banyak belajar menguasai kecakapan hidup (lifeskill) terutama kemampuan berkomunikasi, baik secara lisan maupun tertulis. Kemampuan berkomunikasi ini sangat penting dalam transformasi sosial karena siswa/peserta didik sebagai subjek yang partisipasif antisipasif dalam perubahan sosial. Dalam pembelajaran Menulis Puisi, pendekatan komunikatif bisa diterapkan secara terpadu dengan pendekatan kooperatif dan pendekatan ketrampilan proses.
Sejak kurikulum 1994 diluncurkan, pembelajaran bahasa sudah mencanangkan pendekatan komunikatif. Namun, kenyataannya menurut penelitian, banyak guru masih bertahan pada pendekatan lama, yakni tatabahasa terjemahan atau pendekatan audiolingual. Mungkin masih banyak guru yang belum paham mengenai pendekatan komunikatif. Kalaupun ada yang tahu, mereka belum tentu menerapkannya karena sesuatu yang baru sering mendapatkan tantangan.
Pendekatan komunikatif dalam pembelajaran dimulai dari teori bahasa sebagai komunikasi. Menurut Hymes (Depdiknas: 2005), seseorang yang memperoleh kompetensi komunikatif membutuhkan pengetahuan dan kemampuan untuk menggunakan bahasa sesuai dengan pertanyaan berikut.
1)Apakah atau sejauh manakah secara formal sesuatu itu mungkin?
2)Apakah atau sejauh manakah sesuatu itu layak dengan penggunaan sarana yang ada?
3)Apakah atau sejauh manakah sesuatu itu cocok (memadai, senang, berhasil) sehubungan dengan konteks tempat bahasa itu digunakan atau dievaluasi?
4)Apakah atau sejauh manakah sesuatu itu memang benar-benar dikerjakan dan apakah tindakan itu diperlukan?
Canale dan Swain (Depdiknas, 2005: 88) memperkenalkan dimensi lain tentang kompetensi komunikatif. Menurut mereka kompetensi komunikatif itu berdimensi majemuk. Di dalamnya terdapat banyak kompetensi, yakni kompetensi gramatikal, kompetensi sosiolinguistik, kompetensi wacana, dan kompetensi strategik.
Pada tataran teori bahasa, pendekatan komunikatif memiliki dasar teori yang kaya dan banyak pilihannya. Beberapa ciri pandangan komunikatif tentang bahasa sebagai berikut.
1)Bahasa merupakan sistem untuk mengekspresikan makna.
2)Fungsi utama bahasa adalah untuk berinteraksi dan berkomunikasi.
3) Struktur bahasa merefleksikan fungsinya dan penggunaan komunikatif.
4)Unit utama bahasa bukan hanya ciri struktural dan gramatikal, tetapi kategori makna komunikatif dan fungsional seperti tampak dalam wacana (Depdiknas: 2005).
Angelina Scarino, dkk. (Azies dan Alwasilah, 1996) mengajukan delapan prinsip dalam pembelajaran komunikatif. Mereka mengemukakan bahwa pembelajar akan belajar bahasa dengan efektif bila:
1)Diperlakukan sebagai individu yang memiliki kebutuhan dan minat;
2)Diberi kesempatan untuk berperan serta dalam penggunaan bahasa sasaran secara komunikatif dalam berbagai macam aktivitas;
3)Dipajankan ke dalam data komunikatif yang dapat dipahami dan relevan dengan kebutuhan dan minatnya;
4)Secara sengaja ia memumpunkan pembelajarannya pada bentuk, keterampilan, dan strategi untuk mendukung proses pemerolehan bahasa;
5)Kepadanya dibeberkan data sosiokultural dan pengalaman langsung dengan budaya yang menjadi bagian dari bahasa sasaran;
6)Menyadari akan peranan serta hakikat budaya dan bahasa;
7)Diberi umpan balik yang tepat menyangkut kemajuan mereka; dan
8)Diberi kesempatan untuk mengatur pembelajaran mereka sendiri.
Lingkungan belajar aktif merupakan tempat kebutuhan, harapan, dan persoalan siswa mempengaruhi rencana pembelajaran. Untuk mengetahui harapan, minat, kebutuhan, dan persoalan tersebut guru dapat memvariasikan pertanyaan yang diajukan selama proses belajar. Silberman (2006: 45) mengemukakan sepuluh pertanyaan yang dapat diajukan kepada siswa, yaitu:
1)Pertanyaan apakah yang kalian miliki(tentang materi Menulis Puisi)?
2)Informasi atau keterampilan apakah yang ingin kalian dapatkan dari materi ini?
3)Informasi atau keterampilan apakah yang tidak kalian butuhkan atau inginkan?
4)Apa yang ingin kalian bawa pulang dari pembelajaran ini? Sebutkan!
5)Apakah harapan kalian untuk pembelajaran Menulis Puisi ini? Apa yang menjadi persoalan kalian?
6)Apakah tujuan pembelajaran ini sesuai dengan apa yang kalian butuhkan?
7)Pengetahuan atau keterampilan apakah yang menurut kalian perlu dimiliki? Manakah yang lebih baik dimiliki?
8)Apa perkiraan kalian tentang pembelajaran Menulis Puisi ini?
9)Topik/tema apa yang kalian pilih untuk pembelajaran Menulis Puisi ini? Mengapa kalian memilihnya?
10)Apa yang telah kalian dapatkan dari pelajaran sebelumnya tentang topik ini?
Melalui pendekatan komunikatif dalam Menulis Puisi di kelas VII SMP, diupayakan agar proses belajar dapat meningkat. Menurut John Holt (1967 dalam Silberman 2006: 26) proses belajar akan meningkat jika siswa diminta untuk melakukan hal-hal berikut.
1)Menemukan kembali informasi dengan kata-kata mereka sendiri;
2)Memberikan contohnya;
3)Mengenalinya dalam bermacam bentuk dan situasi;
4)Melihat kaitan antara informasi itu dengan fakta atau gagasan lain;
5)Menggunakannya dengan beragam cara;
6)Memprediksikan sejumlah konsekuensinya; dan
7)Menyebutkan lawan atau kebalikannya.
DAFTAR PUSTAKA
Azies, Furqanul dan Chaedar Alwasilah. 1996. Pengajaran Bahasa Komunikatif: Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Baharudin dan Moh. Makin. Pendidikan Humanistik (Konsep, Teori, dan Aplikasi Praksis dalam Dunia Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Depdiknas. 2005. Program Pengembangan Pendidikan Kecakapan Hidup di Sekolah Menengah Pertama. Jakarta: Dirjen Dikdasmen Direktorat PLP.
------------ 2005. Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa dan Sastra Indonesia, Buku 1.. Jakarta: Dirjen Dikdasmen Direktorat PLP.
Gola Gong (Ed. Nurhasanah). 2007. Jangan Mau gak Nulis Seumur Hidup. Bandung: Maximalis.
Maulana, Soni Farid. 2004. Menulis Puisi Satu Sisi. Bandung: Pustaka Khalifah.
Pradopo, Rahmat Djoko. 2002. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Silberman, Melvin L. 2006. Active Learning: 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Bandung: Nusamedia.
Sukmara, Dian. 2005. Implementasi Program Lifeskill dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi pada Jalur Sekolah. Bandung: Mughni Sejahtera.
Sunarto dan Agung Hartono. 2006. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rineka Cipta.
Tilaar, H.A.R. 2005. Manifesto Pendidikan Nasional. Jakarta. Penerbit Buku Kompas.
Zamzani dan Tadkiroatun Musfiroh. 2008. Pedagogik Transpormatif, Handout Program Sertifikasi Guru melalui Jalur Pendidikan. Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta.
http://titikoma.com/2008/catatankecil-menulispuisi.html, diakses pada tanggal 11 Desember 2008
(RPP)
Sekolah : SMPN 15 Yogyakarta
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas/Semester : VII/2
Alokasi Waktu : 4 X 40 menit
A.Standar Kompetensi : Menulis
16 Mengungkapkan keindahan alam dan pengalaman
melalui kegiatan menulis kreatif puisi.
B. Kompetensi Dasar : 16.1 Menulis kreatif puisi berkenaan dengan keindahan alam.
C.Tujuan Pembelajaran
1) Setelah mengamati gambar keindahan alam, siswa dapat menyebutkan 3 hal yang menarik pada gambar sebagai objek penulisan puisi.
2)Setelah mengamati pembacaan puisi, siswa dapat menentukan tema/topik puisi yang sesuai dengan gambar yang diamati.
3)Setelah mengamati model larik-larik puisi tentang keindahan alam, siswa dapat menuliskan dua bait puisi tentang keindahan alam.
4)Setelah mempelajari teknik-teknik penulisan puisi, siswa dapat menulis puisi dengan pilihan kata yang tepat dan rima yang menarik
5)Setelah mengamati pembacaan puisi oleh temannya, siswa dapat memberi tanggapan terhadap puisi yang telah dibacakan.
D.Materi Pokok
Materi pokok yang disampaikan dalam penulisan puisi ini adalah:
1.Contoh teks puisi yang ditulis siswa.
2.Teknik Penulisan Puisi (terlampir).
3.Penulisan puisi dengan teknik Rangsang-gambar dan Sumbang-kata.
E.Metode Pembelajaran
Inkuiri - Demontrasi
Tanya jawab - Diskusi
F.Kegiatan Pembelajaran
1) Pertemuan Pertama
a) Kegiatan Pendahuluan
Memfokuskan perhatian dan memotivasi siswa dengan apersepsi, informasi kompetensi dasar, manfaat materi bahan ajar, serta rencana aktivitas pembelajaran. Setelah membuka pembelajaran dengan apersepsi tentang materi puisi pada semester ganjil, guru membacakan contoh puisi kemudian siswa menanggapinya melalui tanya jawab lisan.
Guru memperlihatkan setangkai bunga melati yang masih segar kepada seluruh siswa, kemudian serangkaian pertanyaan diajukan secara teratur kepada seluruh siswa berkenaan dengan bunga melati tersebut. Misalnya, siapa yang tahu nama bunga ini? Siswa menjawab serempak dan guru memintanya kepada seorang siswa dan menuliskannya di papan tulis. Kemudian guru memberikan probing (pertanyaan menggali), apa yang engkau ketahui tentang bunga melati ini? (Mungkin siswa merenung atau bingung dalam menjawab pertanyaan tersebut yang sangat terbuka), kemudian guru memberikan prompting dengan pertanyaan bimbingan/terarah:
Apa warnanya?,
Bagaimana baunya?,
Bagaimana ukurannya?,
Di mana tumbuhnya?
Apa manfaatnya?
Apakah semua orang menyenanginya?, dan semacamnya.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut diberikan secara berkala tergantung jawaban siswa pada pertanyaan sebelumnya. Teknik probing-prompting dilakukan fleksibel sehingga siswa terarah, terbimbing, dan tergali pengetahuannya. Semua jawaban siswa dituliskan pada papan tulis.
b) Kegiatan Inti
Dengan pengarahan dari guru siswa dibimbing untuk menghaluskan dan menyempurnakan jawaban-jawaban siswa pada papan tulis, dengan cara memberi jiwa pada kalimat-kalimat yang telah ditulis dan diberi hiasan kata/kalimat estetika, yaitu dengan menganggap bahwa bunga melati itu sesuatu yang hidup, dengan cara menyebutnya menggunakan kata ‘engkau’. Target hasil penyempurnaan jawaban siswa yang tertulis pada papan tulis, melalui serangkaian tanya jawab yang sifatnya menggali, terarah, dan terbimbing adalah sebuah puisi seperti berikut ini.
MELATI
Melati, engkau bertubuh kecil tetapi engkau mungil menarik hati
engkau berwarna putih bersih dan berbau harum mewangi
di mana engkau berada selalu menambah asri
di mana engkau tinggal selalu menebar harum pada sekitar
kepada engkau setiap orang senang dan sayang
.................
Melati, aku ingin jadi sepertimu
meski aku masih kecil aku ingin menarik hati
pikir dan hati ini ingin putih bersih sepertimu
namaku ingin pula harum mewangi
di mana aku berada aku ingin disenangi
Setelah siswa menulis puisi tersebut, guru mendeklamasikannya dengan intonasi dan ritme yang menggugah jiwa, sehingga kata demi kata, baris demi baris, jiwa puisi itu meresap ke dalam akal dan rasa siswa. Setelah jeda sebentar, siswa mencermati jiwa puisi tersebut, guru memberi kesempatan kepada beberapa siswa untuk mendeklamasikannya bergiliran.
Kemungkinan lain guru menugasi siswa untuk membayangkan benda yang paling banyak disenangi oleh kebanyakan orang termasuk siswa, misalnya ‘televisi’. Digunakan teknik probing-prompting seperti di atas, dengan menganggap diri mereka sebagai televisi, jadi sebutannya sekarang bukan ‘engkau’ melainkan ‘aku’, guru mengarahkan siswa untuk menulis puisi seperti berikut ini.
SIAPAKAH AKU ?
Aku bukan asli Indonesia
jadi bukan suku Jawa ataupun Sunda
tapi kebanyakan orang kepadaku merasa suka
hingga aku sering ikut berkumpul bersama mereka
Aku punya tentang segala berita
aku punya tentang segala ilmu pengetahuan
aku bisa menghibur dengan segala cara
dan aku bisa memberi tontonan dan tuntunan
..........
Aku bukan wanita bukan pula lelaki
aku hanyalah hasil produksi
aku hasil karya canggih abad ini
manusia menyebutku televisi
Dari puisi yang telah dibuat bersama (mungkin tidak persis/tepat seperti di atas), guru membahas contoh istilah dasar puisi, seperti tema, gaya bahasa, rima, ritme, diksi, larik, tipografi, amanat, dan irama. Begitu pula dalam presentasinya dikenalkan mana yang disebut dengan apresiasi, improvisasi, intonasi, penjiwaan, imajinasi, gerak, mimik, dan jeda/tempo.
c) Kegiatan Penutup
Guru bersama siswa untuk menyimpulkan pembelajaran sekaligus mangadakan refleksi, kemudian memberikan arahan untuk menyiapkan kegiatan pada pertemuan berikutnya dan memberikan tugas untuk menulis puisi dengan tema (judul) benda dari dalam atau sekitar rumah (permainan) mereka.
Dari kegiatan tersebut, secara implisit indikator-indikator pembelajaran kontekstual terakomodasi dan terlaksana. Sajian pelajaran menggunakan model koperatif.
2) Pertemuan Kedua
Diadakan evaluasi hasil belajar (post-test) dengan cara guru menugasi siswa untuk membuat puisi yang berjudul ‘air’, semua siswa membuat puisi dengan judul yang sama. Evaluasi ini tidak bersifat pengetahuan melainkan kemampuan menulis dan mempresentasikan puisi, sesuai dengan amanat kurikulum.
Digunakan model pembelajaran koperatif tipe STAD dengan sintaks (Erman, 2004): pengarahan, sajian guru secara klasikal, buat kelompok 4-5 siswa, berikan bahan belajar (LKS), siswa berdiskusi/bekerja kelompok, presentasi hasil kelompok dan diskusi kelas, refleksi pelaksanaan pembelajaran, kuis individual, penghargaan pada kelompok/individu, buat skor kemajuan belajar siswa, tindak lanjut. Tema (judul) puisi yang dipilih misalnya tentang ‘guru’ atau ‘buku’.
Tipe koperatif lain yaitu TPS dengan sintaks: pengarahan, sajian guru secara klasikal, berikan bahan belajar (LKS), siswa berdiskusi/bekerja kelompok secara berpasangan 2 orang siswa pada satu meja (think-pairs), presentasi hasil kelompok dan diskusi kelas (share), refleksi pelaksanaan pembelajaran, kuis individual, penghargaan pada kelompok/individu, buat skor kemajuan belajar siswa, tindak lanjut. Judul puisi yang dipilih misalnya tentang ‘guru’ dan ‘ibu’ atau ‘tukang kayu’.
Pada akhir pertemuan tugas yang serupa dikerjakan secara individu. Aktivitas pembelajaran selain dilakukan di dalam ruang kelas, bisa juga di halaman sekolah atau tempat lain yang memungkinkan. Penilaian proses dilakukan terhadap aktivitas siswa (menulis dan mempresentasikan) serta portofolio berupa hasil karya siswa, sebagai reward hasil karya siswa ditempel pada dinding kelas.
G.Alat/Bahan dan Sumber Pembelajaran
1) Media Pembelajaran : - Gambar/tayangan keindahan alam
- Model teks puisi
2) Sumber Pembelajaran:. – Buku Menulis Puisi Satu Sisi karangan Soni Farid Maulana, Penerbit: Pustaka Khalifah Bandung.
- Buku Pengkajian Puisi karangan Rahmat Djoko Pradopo, Penerbit : Gadjah Mada University Press Yogyakarta
H.Penilaian
1) Penilaian Proses
Rubrik Penilaian
No
Nama Siswa
Unsur yang dinilai/Skor
J
U
M
L
A
H
N
I
L
A
I
Partisipasi
Keseriusan
Bertanya
Menanggapi
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
5
…
Keterangan : Perolehan Nilai
Skor Jumlah Skor Nilai
4 = baik sekali 13-16 90
3 = baik 9-12 80
2 = Cukup 5-8 70
1= Kurang 1-4 60
Penghitungan nilai akhir dalam skala 0—100 adalah sebagai berikut.
Perolehan Skor (1+2+3)
Nilai Akhir = ----------------------------- x 100
Skor Maksimal 10
2) Penilaian Hasil: Produk
1. Amatilah gambar berikut!
2. Tuliskan hal menarik apa saja yang terdapat pada gambar tersebut, buatlah dalam beberapa kata, frasa atau kalimat!
3. Buatlah sebuah puisi berdasarkan tulisan hasil pengamatanmu terhadap gambar tersebut dengan pilihan kata yang tepat dan rima yang menarik!
4. Suntinglah puisi yang telah kamu tulis tersebut!
Mengetahui Cianjur, 20 Januari 2009
Kepala Sekolah, Guru Bahasa Indonesia,
Ahmad Jamaludin, S.Pd.
NIP NIM 08201289002
IMPLEMENTASI PEDAGOGIK TRANSFORMATIF DALAM PEMBELAJARAN MENULIS PUISI MELALUI PENDEKATAN KOMUNIKATIF
Pedagogik tranformatif atau disebut pedagogik kritis (lawan dari pedagogik tradisional) merupakan pedagogik yang lahir dari pandangan-pandangan postmodernisme dan pedagogik libertarian. Pedagogik transformatif tidak cenderung pada nihilisme karena mengakui adanya kebenaran relatif tanpa meniadakan kebenaran itu sendiri. Dengan demikian, pedagogik transformatif menganut faham kebenaran yang terbuka (Tilaar:2005).
Pedagogik transformatif dilandasi oleh keyakinan bahwa pendidikan merupakan usaha memanusiakan manusia dan peserta didik merupakan manusia sosial yang berinteraksi dengan manusia lain dan kebudayan di sekitarnya. Anak didik dalam pedagogik transformatif merupakan manusia pembelajar dan pengubah sosial yang aktif. Transformasi sosial berada pada level individu maupun kelompok, mencakup perubahan dalam aspek (1) pengetahuan, (2) keterampilan, (3) sikap, (4) perspektif, dan (5) kesadaran diri (Zamzani dan Tadkiroatun, 2008: 4).
Ada beberapa model pembelajaran yang relevan dengan pedagogik transformatif, di antaranya pembelajaran kooperatif, kontekstual, dan komunikatif. Sehubungan dengan pembelajaran Menulis Puisi di kelas VII SMP, penulis memilih model pembelajaran komunikatif karena model ini merupakan salah satu karakteristik pembelajaran Bahasa Indonesia, meskipun dapat juga digunakan dalam mata pelajaran lainnya.
Alasan lainnya, dengan pendekatan komunikatif siswa banyak belajar menguasai kecakapan hidup (lifeskill) terutama kemampuan berkomunikasi, baik secara lisan maupun tertulis. Kemampuan berkomunikasi ini sangat penting dalam transformasi sosial karena siswa/peserta didik sebagai subjek yang partisipasif antisipasif dalam perubahan sosial. Dalam pembelajaran Menulis Puisi, pendekatan komunikatif bisa diterapkan secara terpadu dengan pendekatan kooperatif dan pendekatan ketrampilan proses.
Sejak kurikulum 1994 diluncurkan, pembelajaran bahasa sudah mencanangkan pendekatan komunikatif. Namun, kenyataannya menurut penelitian, banyak guru masih bertahan pada pendekatan lama, yakni tatabahasa terjemahan atau pendekatan audiolingual. Mungkin masih banyak guru yang belum paham mengenai pendekatan komunikatif. Kalaupun ada yang tahu, mereka belum tentu menerapkannya karena sesuatu yang baru sering mendapatkan tantangan.
Pendekatan komunikatif dalam pembelajaran dimulai dari teori bahasa sebagai komunikasi. Menurut Hymes (Depdiknas: 2005), seseorang yang memperoleh kompetensi komunikatif membutuhkan pengetahuan dan kemampuan untuk menggunakan bahasa sesuai dengan pertanyaan berikut.
1)Apakah atau sejauh manakah secara formal sesuatu itu mungkin?
2)Apakah atau sejauh manakah sesuatu itu layak dengan penggunaan sarana yang ada?
3)Apakah atau sejauh manakah sesuatu itu cocok (memadai, senang, berhasil) sehubungan dengan konteks tempat bahasa itu digunakan atau dievaluasi?
4)Apakah atau sejauh manakah sesuatu itu memang benar-benar dikerjakan dan apakah tindakan itu diperlukan?
Canale dan Swain (Depdiknas, 2005: 88) memperkenalkan dimensi lain tentang kompetensi komunikatif. Menurut mereka kompetensi komunikatif itu berdimensi majemuk. Di dalamnya terdapat banyak kompetensi, yakni kompetensi gramatikal, kompetensi sosiolinguistik, kompetensi wacana, dan kompetensi strategik.
Pada tataran teori bahasa, pendekatan komunikatif memiliki dasar teori yang kaya dan banyak pilihannya. Beberapa ciri pandangan komunikatif tentang bahasa sebagai berikut.
1)Bahasa merupakan sistem untuk mengekspresikan makna.
2)Fungsi utama bahasa adalah untuk berinteraksi dan berkomunikasi.
3) Struktur bahasa merefleksikan fungsinya dan penggunaan komunikatif.
4)Unit utama bahasa bukan hanya ciri struktural dan gramatikal, tetapi kategori makna komunikatif dan fungsional seperti tampak dalam wacana (Depdiknas: 2005).
Angelina Scarino, dkk. (Azies dan Alwasilah, 1996) mengajukan delapan prinsip dalam pembelajaran komunikatif. Mereka mengemukakan bahwa pembelajar akan belajar bahasa dengan efektif bila:
1)Diperlakukan sebagai individu yang memiliki kebutuhan dan minat;
2)Diberi kesempatan untuk berperan serta dalam penggunaan bahasa sasaran secara komunikatif dalam berbagai macam aktivitas;
3)Dipajankan ke dalam data komunikatif yang dapat dipahami dan relevan dengan kebutuhan dan minatnya;
4)Secara sengaja ia memumpunkan pembelajarannya pada bentuk, keterampilan, dan strategi untuk mendukung proses pemerolehan bahasa;
5)Kepadanya dibeberkan data sosiokultural dan pengalaman langsung dengan budaya yang menjadi bagian dari bahasa sasaran;
6)Menyadari akan peranan serta hakikat budaya dan bahasa;
7)Diberi umpan balik yang tepat menyangkut kemajuan mereka; dan
8)Diberi kesempatan untuk mengatur pembelajaran mereka sendiri.
Lingkungan belajar aktif merupakan tempat kebutuhan, harapan, dan persoalan siswa mempengaruhi rencana pembelajaran. Untuk mengetahui harapan, minat, kebutuhan, dan persoalan tersebut guru dapat memvariasikan pertanyaan yang diajukan selama proses belajar. Silberman (2006: 45) mengemukakan sepuluh pertanyaan yang dapat diajukan kepada siswa, yaitu:
1)Pertanyaan apakah yang kalian miliki(tentang materi Menulis Puisi)?
2)Informasi atau keterampilan apakah yang ingin kalian dapatkan dari materi ini?
3)Informasi atau keterampilan apakah yang tidak kalian butuhkan atau inginkan?
4)Apa yang ingin kalian bawa pulang dari pembelajaran ini? Sebutkan!
5)Apakah harapan kalian untuk pembelajaran Menulis Puisi ini? Apa yang menjadi persoalan kalian?
6)Apakah tujuan pembelajaran ini sesuai dengan apa yang kalian butuhkan?
7)Pengetahuan atau keterampilan apakah yang menurut kalian perlu dimiliki? Manakah yang lebih baik dimiliki?
8)Apa perkiraan kalian tentang pembelajaran Menulis Puisi ini?
9)Topik/tema apa yang kalian pilih untuk pembelajaran Menulis Puisi ini? Mengapa kalian memilihnya?
10)Apa yang telah kalian dapatkan dari pelajaran sebelumnya tentang topik ini?
Melalui pendekatan komunikatif dalam Menulis Puisi di kelas VII SMP, diupayakan agar proses belajar dapat meningkat. Menurut John Holt (1967 dalam Silberman 2006: 26) proses belajar akan meningkat jika siswa diminta untuk melakukan hal-hal berikut.
1)Menemukan kembali informasi dengan kata-kata mereka sendiri;
2)Memberikan contohnya;
3)Mengenalinya dalam bermacam bentuk dan situasi;
4)Melihat kaitan antara informasi itu dengan fakta atau gagasan lain;
5)Menggunakannya dengan beragam cara;
6)Memprediksikan sejumlah konsekuensinya; dan
7)Menyebutkan lawan atau kebalikannya.
DAFTAR PUSTAKA
Azies, Furqanul dan Chaedar Alwasilah. 1996. Pengajaran Bahasa Komunikatif: Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Baharudin dan Moh. Makin. Pendidikan Humanistik (Konsep, Teori, dan Aplikasi Praksis dalam Dunia Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Depdiknas. 2005. Program Pengembangan Pendidikan Kecakapan Hidup di Sekolah Menengah Pertama. Jakarta: Dirjen Dikdasmen Direktorat PLP.
------------ 2005. Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa dan Sastra Indonesia, Buku 1.. Jakarta: Dirjen Dikdasmen Direktorat PLP.
Gola Gong (Ed. Nurhasanah). 2007. Jangan Mau gak Nulis Seumur Hidup. Bandung: Maximalis.
Maulana, Soni Farid. 2004. Menulis Puisi Satu Sisi. Bandung: Pustaka Khalifah.
Pradopo, Rahmat Djoko. 2002. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Silberman, Melvin L. 2006. Active Learning: 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Bandung: Nusamedia.
Sukmara, Dian. 2005. Implementasi Program Lifeskill dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi pada Jalur Sekolah. Bandung: Mughni Sejahtera.
Sunarto dan Agung Hartono. 2006. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rineka Cipta.
Tilaar, H.A.R. 2005. Manifesto Pendidikan Nasional. Jakarta. Penerbit Buku Kompas.
Zamzani dan Tadkiroatun Musfiroh. 2008. Pedagogik Transpormatif, Handout Program Sertifikasi Guru melalui Jalur Pendidikan. Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta.
http://titikoma.com/2008/catatankecil-menulispuisi.html, diakses pada tanggal 11 Desember 2008
KURULUM SMPN 3 BOJONGPICUNG CIANJUR
BAB I
PENDAHULUAN
A. Rasional
Pendidikan laksana eksperimen yang tidak pernah selesai. Dikatakan demikian karena pendidikan merupakan bagian dari kebudayaan dan peradaban manusia yang terus berkembang. Hal ini sejalan dengan pembawaan manusia yang memiliki potensi kreatif dan inovatif dalam segala bidang kehidupan. Dengan potensinya tersebut manusia selalu berusaha menciptakan hal-hal yang lebih baik dari yang sudah ada. Hal itulah yang menyebabkan hakekat manusia dan hakekat pendidikan itu selalu berkembang sehingga konsep dan implementasi pendidikan pun turut berubah.
Hal lain, tuntutan terhadap pendidikan yang berkualitas semakin meningkat. Setiap lembaga pendidikan dituntut untuk secara terus menerus meningkatkan kualitas proses maupun output pendidikannya.
Paling tidak terdapat dua faktor yang memunculkan tuntutan terhadap pendidikan yang berkualitas. Pertama, tantangan globalisasi yang ditandai dengan adanya pasar bebas dan persaingan antar bangsa dalam berbagai sendi kehidupan. Hal ini menuntut setiap individu maupun masyarakat suatu bangsa untuk memiliki mental, etos kerja, interpreuneurship, nilai-nilai dan kepribadian. Kedua, harapan orang tua peserta didik yang menghendaki putra-putrinya memiliki kualitas dan keunggulan. Harapan tersebut akan meningkatkan kesadaran dan tuntutan orang tua terhadap pendidikan yang berkualitas.
Tugas utama pendidikan, lembaga pendidikan, dan para pendidik adalah mengembangkan potensi peserta didik, agar kelak mereka dapat mengembangkan dirinya, dan masyarakatnya. Selaras dengan tugas itu tiada jalan lain bagi dunia pendidikan (termasuk satuan pendidikan dan pendidik sebagai ujung tombak pelaksana pendidikan), kecuali menjawab tantangan dan tuntutan itu dengan upaya meningkatkan kualitas layanan, proses, sarana prasarana, dan perangkat lunaknya.
Berbagai usaha telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, antara lain melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kompetensi guru, peningkatan anggaran, penambahan sarana prasarana pendidikan, pengadaan buku, serta perubahan dan perbaikan kurikulum. Di sisi lain, bergulirnya era reformasi dan desentralisasi politik dan kekuasaan, berimbas pula terhadap dunia pendidikan. Salah satu di antaranya, adalah tentang kewenangan pengembangan dan penetapan kurikulum pendidikan. Pada era sebelumnya kurikulum pendidikan ditetapkan oleh pemerintah pusat, sedangkan daerah dan satuan pendidikan tinggal melaksanakan saja. Berbeda dengan itu, untuk kurikulum 2006, pemerintah pusat hanya menetapkan standar isi, standar kompetensi lulusan, standar proses, standar penilaian, dan panduan-panduan. Sedangkan kewenangan untuk mengembangkan dan menetapkan kurikulum operasionalnya dilimpahkan kepada satuan pendidikan dan atau pemerintah daerah.
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh sebab itu kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan potensi yag ada di daerah.
Pendelegasian sebagian kewenangan tersebut mengandung asumsi bahwa: Pertama, akan terjadi keragaman dan diversifikasi kurikulum, namun seluruhnya harus tetap mengacu kepada standar nasional pendidikan untuk menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional. Kedua, satuan pendidikan dan daerah akan mengembangkan dan menetapkan kurikulum operasional yang sesuai dengan situasi, kondisi, keunggulan dan kekhasan, satuan dan atau daerah masing-masing, Ketiga, terdapat peluang untuk berkompetisi secara sehat antara satuan pendidikan dan atau daerah yang satu dengan satuan pendidikan dan atau daerah yang lain. Keempat, apabila satuan pendidikan dan atau daerah mengembangkan dan menetapkan sendiri kurikulum operasionalnya, maka diharapkan kurikulum tersebut akan dapat dilaksanakan dengan konsisten dan tanggungjawab.
Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan standar kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Dua dari kedelapan standar pendidikan tersebut, yaitu standar isi dan standar kompetensi lulusan merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum.
Dengan pertimbangan-pertimbangan demikian SMP Negeri 3 Bojongpicung kabupaten Cianjur mengembangkan dan menetapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang diberi nama Kurikulum SMP Negeri 3 Bojongpicung.
KTSP merupakan salah satu bentuk realisasi kebijakan desentralisasi di bidang pendidikan agar kurikulum benar-benar sesuai dengan kebutuhan pengembangan potensi peserta didik di sekolah yang bersangkutan di masa sekarang dan yang akan datang dengan mempertimbangkan kepentingan lokal, nasional, dan tuntutan global dengan semangat manajemen berbasis sekolah (MBS).
B. Profil
1.Riwayat Singkat SMP Negeri 3 Bojongpicung Kabupaten Cianjur
SMP Negeri 3 Bojongpicung pada awalnya merupakan kelas jauh dari SMPN 1 Bojongpicung. Penyelenggaraan kelas jauh tersebut pada tahun 1992 diprakarsai oleh tokoh-tokoh pendidikan di Desa Jati, Desa Jatisari, dan beberapa orang guru senior dari SMPN 1 Bojongpicung Kabupaten Cianjur. Keinginan masyarakat Desa Jati, Jatisari, Nanggala, Cibarengkok, Cikondang, Sukajaya, dan Sukarama untuk mempunyai sekolah lanjutan pertama akhirnya dapat terlaksana meskipun dengan kondisi yang serba terbatas. Pada awalnya kegiatan belajar mengajar dilaksanakan menumpang di SDN 1 Jati dengan tenaga pengajar diambil dari beberapa orang guru SD, guru SMPN 1 Bojongpicung dan beberapa orang Sarjana Pendidikan dari desa Jati, Jatisari, Cikondang, dan Cibarengkok. Pada tahun 1995, Kelas Jauh SMPN 1 Bojongpicung mendapat Unit Gedung Baru(UGB, sekarang USB) dengan nama SMPN 3 Bojongpicung dan Ibu Dra. Hj. Ai Wiati diangkat sebagai pelaksana harian(PLH) kepala sekolah. Dua tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 16 Maret 1997 SMPN 3 Bojongpicung mendapat kiriman 8 orang guru PNS dan 1 orang TU PNS. Setelah 2 tahun Dra. Hj. Ai Wiati menjadi PLH kepala sekolah, maka pada tangal 26 Mei 1997 sekolah ini mulai dinegerikan dan beliau menjadi kepala sekolah defenitif yang menerima penyerahan dari kepala sekolah induk, yaitu H. Ruchimat Somantri K. Empat tahun kemudian jabatan kepala sekolah dipegang oleh Drs. Otoh Hilman, tepatnya mulai bulan Februari 2003 yang mengalami rotasi dari SMPN 2 Pacet. Sedangkan Dra. Hj. Ai Wiati menjadi Kepala SMPN 1 Bojongpicung. Karena Drs. Otoh Hilman memasuki masa pensiun pada bulan Juli 2006, maka Kepala SMPN 3 dijabat rangkap oleh Dra. Hj. Ai Wiati, M.MPd. sampai dengan bulan Februari 2007. Enam bulan kemudian jabatan Kepala Sekolah dipegang oleh Ibu Ati Hurjati, S.Pd. yang mengalami rotasi dari SMPN 2 Sukanegara. Sampai saat ini SMPN 3 Bojongpicung masih dipimpin oleh beliau sebagai kepala sekolah definitif yang ketiga.
2.Letak Geografis SMP Negeri 3 Bojongpicung Kabupaten Cianjur
SMP Negeri 3 Bojongpicung terletak di Jalan Jatisari Desa Jati. Dari kantor cdesa jati berjarak 1000 km dan kurang lebih 2500 m dari pusat pemerintahan Kecamatan Bojongpicung Cianjur. SMP Negeri 3 Bojongpicung menjadi pilihan orang tua murid karena terletak di jalan desa yang membuat suasana belajar tidak terganggu oleh bisingnya arus lalu lintas kendaraan. Di sebelah utara sekolah terdapat lapangan sepak bola desa Jati yang bisa dimanfaatkan oleh siswa sebagai sarana belajar penjas.
3.Prospek dan Harapan
SMP Negeri 3 Bojongpicung bisa menjadi unggulan dalam bidang akademis dan non akademis diantara sekolah – sekolah negeri dan swasta di Kabupaten Cianjur. Ini terbukti dari prestasi yang diraih dalam bidang pembelajaran, olah raga, dan keagamaan. Hal ini menjadi salah satu alasan dan motivasi untuk pengembangan SMP 3 Bojongpicung ke depan. Setelah mengirimkan 2 orang guru untuk mengikuti PTBK di Kanwil Provinsi Jawa Barat pada bulan November 2005, maka pada bulan Mei tahun 2006 SMPN 3 mengirimkan 4 orang guru untuk mengikuti Pelatihan Nasional di Puncak Bogor. Pada tahun pelajaran 2006 – 2007 SMP 3 dapat menjadi juara pertama lomba pembelajaran PKn tingkat Provinsi. Ini juga menjadi salah satu bukti bahwa SMP 3 mempunyai prospek yang baik untuk meningkatkan mutu sesuai dengan standar nasional. Kepercayaan dan dukungan masyarakat serta input siswa yang baik memungkinkan SMP 3 mempunyai prospek yang baik sebagai sekolah bermutu di Kecamatan Bojongpicung Kabupaten Cianjur. Oleh karena itu, SMP 3 terus berbenah diri mengupayakan terpenuhinya sarana prasarana pendukung bagi tercapainya tujuan. SMP 3 berupaya untuk memperbaiki mutu layanan, meliputi; standar isi, standar proses, standar mutu lulusan, standar fasilitas, standar pengelolaan, standar pembiayaan, standar evaluasi, standar penilaian, agar SMP 3 kelak menjadi sekolah model yang bisa dijadikan acuan bagi sekolah – sekolah sejenis di Kecamatan Bojongpicung Kabupaten Cianjur.
C. Landasan
KTSP ini disusun dengan landasan :
1.Undang-undang No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional;
2.Peraturan Pemerintah No. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan;
3.Peraturan Pemerintah No. 28/1990 tentang Pendidikan Dasar;
4.Peraturan Pemerintah No. 38/1992 tentang Tenaga Kependidikan;
5.Surat Keputusan Mendikbud No. 054/U/1993 tentang Pendidikan Menengah Umum;
6.Peraturan Presiden No. 9/2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi Organisasi, dan Tata Kerja Kementrian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden No 62/2005;
7.Keputusan Presiden No. 187/M/2004 mengenai Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan keputusan Presiden No. 20/P/2005;
8.Surat Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan No. 0141/BSNP/III/2006 tanggal 13 Maret 2006 dan No. 0212/BNSP/V/2006 tanggal 2 Mei tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah;
9.Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No.053/V/2001 tentang Pedoman Standar Penilaian Minimal Penyelenggaraan Persekolahan di Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah;
10.Keputusan Menteri Pendidikan No. 056/V/2001 tentang Pedoman Pembiayaan Penyelenggaraan Pendidikan di Sekolah;
11.Surat Keputusan Bupati Cianjur No. 10/2001 tentang Tugas Pokok dan Fungsi Tata Kerja Unsur Organisasi Dinas Pendidikan.
D. Tujuan
KTSP ini disusun dengan tujuan :
1.Untuk dijadikan pedoman dan pegangan dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran baik intrakurikuler maupun ekstrakurikuler.
2.Agar setiap personal dapat memahami isi KTSP sebagai suatu sistem.
3.Agar guru dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan program yang ditetapkan.
4.Agar guru dapat menggunakan waktu efektif untuk kegiatan pembelajaran secara optimal.
5.Agar guru dapat membuat perangkat pembelajaran sesuai dengan program yang telah ditetapkan.
6.Agar sekolah dapat meningkatkan mutu pendidikan.
BAB II
TUJUAN PENDIDIKAN TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN
A. Visi Sekolah
”Terwujudnya peserta didik yang lebih cerdas, lebih sehat, lebih sejahtera dan lebih berakhlakul karimah”.
B. Misi Sekolah
1. Peningkatan Standar Isi
a.Melaksanakan pengembangan kurikulum
b.Melaksanakan Pemetaan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
c.Melaksanakan pengembangan silabus
d.Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran yang berlandaskan akhlakul karimah
e.Mengembangkan perangkat penilaian untuk semua mata pelajaran
f.Melaksanakan penyusunan kalender pendidikan
2. Peningkatan Standar Proses
a.Mengembangkan dan melaksanakan pembelajaran yang inovatif serta berakhlakul karimah
b.Mengembangkan dan melaksanakan penilaian secara optimal
c.Mengembangkan berbagai bahan dan sumber pembelajaran yang memadai
3. Peningkatan Standar Kelulusan
a.Meningkatkan perolehan rata-rata nilai Ujian Nasional sebesar 0,5
b.Meningkatkan persentase kelulusan sampai dengan 100 %
c. Meningkatkan prestasi dalam kejuaraan PORSENI SMP, siswa berprestasi, olimpiade MIPA, asah terampil Bahasa Inggris/ Bahasa Sunda
4. Peningkatan Kompetensi Tenaga Kependidikan
a.Mengembangkan Profesionalisme Pendidik
b.Melaksanakan pengembangan pedagogik dan kepribadian
c.Meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani
d.Melaksanakan peningkatan kinerja tenaga administrasi
e.Menambah kuantitas tenaga kependidikan profesional yang berakhlakul karimah.
f.Meningkatkan pelaksanaan monitoring dan evaluasi terhadap guru dan TU.
5.Peningkatan Mutu Standar Pengelolaan dan Manajemen
a.Melaksanakan pengelolaan administrasi sekolah secara optimal
b.Meningkatkan pelaksanaan MBS dengan melibatkan partisipasi stakeholder secara optimal
c.Meningkatkan pemberdayaan komite sekolah sesuai dengan tugas pokok dan fungsi secara optimal
d.Menumbuhkan jaringan informasi akademik di internal sekolah
e.Melaksanakan monitoring dan evaluasi
f.Melaksanakan supervisi klinis
g.Meningkatkan jaringan kerjasama dengan dinas instansi terkait dan sekolah lain
6. Peningkatan Pengembangan Standar Fasilitas Pendidikan
a.Mengadakan dan mengembangkan media serta alat pembelajaran yang optimal.
b.Menyediakan laboratorium IPA dan laboratorium bahasa
c.Menciptakan lingkungan belajar yang kondusif
7. Pengembangan Standar Pembiayaan
a.Meningkatkan jalinan kerjasama dan menggali dari dunia usaha dan industri
b.Menumbuhkan sikap kewirausahaan di sekolah dengan melaksanakan subsidi silang
8. Pengembangan Standar Penilaian
a.Melaksanakan dan mengembangkan model-model evaluasi pembelajaran sesuai dengan pedoman
b.Melaksanakan pengembangan instrumen evaluasi untuk semua mata pelajaran
c.Mengimplementasikan model-model evaluasi pembelajaran bagi anak berprestasi, bermasalah dan kelompok anak lainnya.
C. Tujuan Pendidikan Dasar
Tujuan Pendidikan Dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
D. Tujuan Sekolah Untuk Lima (5) Tahun Ke Depan
1. Standar Isi (Kurikulum)
a.Sekolah memiliki seperangkat kurikulum semua mata pelajaran pada semua tingkatan.
b.Sekolah memiliki seperangkat pemetaan SK dan KD semua mata pelajaran pada setiap tingkatan
c.Sekolah memiliki seperangkat silabus semua pelajaran pada setiap tingkatan
d.Sekolah memiliki RPP semua mata pelajaran untuk semua tingkatan yang berlandaskan akhlakul karimah
e.Memiliki berbagai perangkat penilaian untuk semua mata pelajaran
f.Memiliki kalender pendidikan yang sesuai dengan pedoman
2. Standar Proses
a.Sekolah dapat mengembangkan dan melaksanakan pembelajaran yang inovatif serta berakhlakul karimah.
b.Sekolah dapat mengembangkan dan melaksanakan penilaian secara optimal
c.Sekolah dapat mengembangkan berbagai bahan dan sumber pembelajaran yang memadai
3. Stndar Kelulusan
a.Sekolah dapat meningkatkan perolehan rata-rata nilai Ujian Nasional sebesar 0,5
b.Sekolah dapat meningkatkan persentase kelulusan sampai dengan 100 %
c.Sekolah dapat meningkatkan prestasi dalam kejuaraan PORSENI SMP, siswa berprestasi, olimpiade MIPA, asah terampil Bahasa Inggris dan Bahasa Sunda.
4.Standar Kependidikan dan Tenaga Kependidikan
a.Sekolah dapat mengembangkan profesionalisme
b.Sekolah dapat melaksanakan pengembangan pedagogik dan kepribadian .
c.Sekolah dapat meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani.
d.Sekolah dapat melaksanakan peningkatan kinerja tenaga administrasi.
e.Sekolah dapat menambah kuantitas tenaga kependidikan profesional yang berakhlakul karimah.
f.Sekolah dapat meningkatkan pelaksanaan monitoring dan evaluasi terhadap guru dan TU
5. Standar Pengelolaan/Manajemen
a.Sekolah dapat melaksanakan pengelolaan administrasi sekolah secara optimal
b.Sekolah dapat meningkatkan MBS dengan melibatkan partisipasi stakeholder secara optimal
c.Sekolah dapat meningkatkan pemberdayaan komite sekolah sesuai dengan tugas pokok dan fungsi secara optimal
d.Sekolah dapat menumbuhkan jaringan informasi akademik di internal sekolah
e.Sekolah dapat melaksanakan monitoring dan evaluasi
f.Sekolah dapat melaksanakan supervisi klinis
g.Sekolah dapat meningkatkan jaringan kerjasama dengan dinas instansi terkait dan sekolah lain.
6. Standar Sarana dan Prasarana
a.Sekolah dapat mengadakan dan mengembangkan media serta alat pembelajaran yang optimal.
b. Sekolah dapat menyediakan laboratorium IPA dan laboratorium bahasa
c. Sekolah dapat menciptakan lingkungan belajar yang kondusif
7.Standar Pembiayaan
a.Sekolah dapat meningkatkan jalinan kerjasama dan menggali dari dunia usaha dan industri
b.Sekolah dapat menumbuhkan sikap kewirausahaan di sekolah dengan melaksanakan subsidi silang
8. Standar Penilaian
a.Sekolah dapat melaksanakan dan mengembangkan model-model evaluasi pembelajaran sesuai dengan pedoman
b.Sekolah dapat melaksanakan pengembangan instrumen evaluasi untuk semua mata pelajaran
c.Sekolah dapat mengimplementasikan model-model evaluasi pembelajaran bagi anak berprestasi, bermasalah dan kelompok anak lainnya.
BAB III
STRUKTUR DAN MUATAN KURIKULUM
A. Kerangka Dasar Kurikulum
1. Kelompok Mata Pelajaran
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 6 ayat (1) menyatakan bahwa kurikulum untuk jenis pendidikan umum, kejuruan, dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas:
a.Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia;
b. Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian;
c.Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi;
d.Kelompok mata pelajaran estetika;
e.Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan.
Cakupan setiap kelompok mata pelajaran disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Cakupan Kelompok Mata Pelajaran
No
Kelompok Mata Pelajaran
Cakupan
1.
Agama dan Akhlak Mulia
Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, atau moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama.
2.
Kewarganegaraan dan Kepribadian
Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian dimaksudkan untuk peningkatan kesadaran dan wawasan peserta didik akan status, hak, dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta peningkatan kualitas dirinya sebagai manusia.
Kesadaran dan wawasan termasuk wawasan kebangsaan, jiwa dan patriotisme bela negara, penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia, kemajemukan bangsa, pelestarian lingkungan hidup, kesetaraan gender, demokrasi, tanggung jawab sosial, ketaatan pada hukum, ketaatan membayar pajak, dan sikap serta perilaku anti korupsi, kolusi, dan nepotisme.
3.
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SD/MI/SDLB dimaksudkan untuk mengenal, menyikapi, dan mengapresiasi ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menanamkan kebiasaan berpikir dan berperilaku ilmiah yang kritis, kreatif dan mandiri.
Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SMP/MTs/SMPLB dimaksudkan untuk memperoleh kompetensi dasar ilmu pengetahuan dan teknologi serta membudayakan berpikir ilmiah secara kritis, kreatif dan mandiri.
Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SMA/MA/SMALB dimaksudkan untuk memperoleh kompetensi lanjut ilmu pengetahuan dan teknologi serta membudayakan berpikir ilmiah secara kritis, kreatif dan mandiri.
Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SMK/MAK dimaksudkan untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi, membentuk kompetensi, kecakapan, dan kemandirian kerja.
4.
Estetika
Kelompok mata pelajaran estetika dimaksudkan untuk meningkatkan sensitivitas, kemampuan mengekspresikan dan kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni. Kemampuan mengapresiasi dan mengekspresikan keindahan serta harmoni mencakup apresiasi dan ekspresi, baik dalam kehidupan individual sehingga mampu menikmati dan mensyukuri hidup, maupun dalam kehidupan kemasyarakatan sehingga mampu menciptakan kebersamaan yang harmonis.
5.
Jasmani, Olahraga dan Kesehatan
Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan pada SD/MI/SDLB dimaksudkan untuk meningkatkan potensi fisik serta menanamkan sportivitas dan kesadaran hidup sehat.
Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan pada SMP/MTs/SMPLB dimaksudkan untuk meningkatkan potensi fisik serta membudayakan sportivitas dan kesadaran hidup sehat.
Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan pada SMA/MA/SMALB/SMK/MAK dimaksudkan untuk meningkatkan potensi fisik serta membudayakan sikap sportif, disiplin, kerja sama, dan hidup sehat.
Budaya hidup sehat termasuk kesadaran, sikap, dan perilaku hidup sehat yang bersifat individual ataupun yang bersifat kolektif kemasyarakatan seperti keterbebasan dari perilaku seksual bebas, kecanduan narkoba, HIV/AIDS, demam berdarah, muntaber, dan penyakit lain yang potensial untuk mewabah.
Selain tujuan dan cakupan kelompok mata pelajaran sebagai bagian dari kerangka dasar kurikulum, perlu dikemukakan prinsip pengembangan kurikulum.
2.Prinsip Pengembangan Kurikulum
Kurikulum tingkat satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah berpedoman pada standar kompetensi lulusan dan standar isi serta panduan penyusunan kurikulum yang dibuat oleh BSNP. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip berikut.
a.Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya
Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan.
b.Beragam dan terpadu
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, dan jenjang serta jenis pendidikan, tanpa membedakan agama, suku, budaya dan adat istiadat, serta status sosial ekonomi dan gender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antarsubstansi.
c. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni berkembang secara dinamis, dan oleh karena itu semangat dan isi kurikulum mendorong peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan secara tepat perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
d.Relevan dengan kebutuhan kehidupan
Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan pribadi, keterampilan berpikir, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan.
e.Menyeluruh dan berkesinambungan
Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antarsemua jenjang pendidikan.
f.Belajar sepanjang hayat
Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal dan informal, dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.
g.Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
3.Prinsip Pelaksanaan Kurikulum
Dalam pelaksanaan kurikulum di setiap satuan pendidikan menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut.
a.Pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi, perkembangan dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya. Dalam hal ini peserta didik harus mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu, serta memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara bebas, dinamis dan menyenangkan.
b.Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar, yaitu: (a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (b) belajar untuk memahami dan menghayati, (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif, (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain, dan (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri, melalui proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
c.Pelaksanaan kurikulum memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan yang bersifat perbaikan, pengayaan, dan/atau percepatan sesuai dengan potensi, tahap perkembangan, dan kondisi peserta didik dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang berdimensi ke-Tuhanan, keindividuan, kesosialan, dan moral.
d.Kurikulum dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik yang saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka, dan hangat, dengan prinsip tut wuri handayani, ing madia mangun karsa, ing ngarsa sung tulada (di belakang memberikan daya dan kekuatan, di tengah membangun semangat dan prakarsa, di depan memberikan contoh dan teladan).
e.Kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai, dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar, dengan prinsip alam takambang jadi guru (semua yang terjadi, tergelar dan berkembang di masyarakat dan lingkungan sekitar serta lingkungan alam semesta dijadikan sumber belajar, contoh dan teladan).
f.Kurikulum dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam, sosial dan budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan dengan muatan seluruh bahan kajian secara optimal.
g.Kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi mata pelajaran, muatan lokal dan pengembangan diri diselenggarakan dalam keseimbangan, keterkaitan, dan kesinambungan yang cocok dan memadai antarkelas dan jenis serta jenjang pendidikan.
B. Struktur Kurikulum Pendidikan Umum
Struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Kedalaman muatan kurikulum pada setiap mata pelajaran pada setiap satuan pendidikan dituangkan dalam kompetensi yang harus dikuasai peserta didik sesuai dengan beban belajar yang tercantum dalam struktur kurikulum. Kompetensi yang dimaksud terdiri atas standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan berdasarkan standar kompetensi lulusan. Muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri merupakan bagian integral dari struktur kurikulum pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Struktur kurikulum SMP/MTs meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun mulai Kelas VII sampai dengan Kelas IX. Struktur kurikulum disusun berdasarkan standar kompetensi lulusan dan standar kompetensi mata pelajaran dengan ketentuan sebagai berikut.
a.Kurikulum SMP/MTs memuat 10 mata pelajaran, muatan lokal, dan pengembangan diri seperti tertera pada Tabel 3.
Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan.
Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karir peserta didik.
b.Substansi mata pelajaran IPA dan IPS pada SMP/MTs merupakan “IPA Terpadu” dan “IPS Terpadu”.
c.Jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran dialokasikan sebagaimana tertera dalam struktur kurikulum. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan.
d.Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 40 menit.
e.Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran (dua semester) adalah 34-38 minggu.
Struktur kurikulum SMP/MTs disajikan pada Tabel 3
Tabel 3. Struktur Kurikulum SMP/MTs
Komponen
Kelas dan Alokasi Waktu
VII
VIII
IX
A. Mata Pelajaran
1. Pendidikan Agama
2
2
2
2. Pendidikan Kewarganegaraan
2
2
2
3. Bahasa Indonesia
4
4
4
4. Bahasa Inggris
4
4
4
5. Matematika
4
4
4
6. Ilmu Pengetahuan Alam
4
4
4
7. Ilmu Pengetahuan Sosial
4
4
4
8. Seni Budaya
2
2
2
9. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan
2
2
2
10. Teknologi Informasi dan Komunikasi
2
2
2
B. Muatan Lokal
2
2
2
C. Pengembangan Diri
2*)
2*)
2*)
Jumlah
32
32
32
2*) Ekuivalen 2 jam pembelajaran
C. Muatan Lokal
1. Latar Belakang
Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya.
Pembelajaran bahasa Sunda diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Sunda dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis.
Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Sunda merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Sunda. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal.
Dengan standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Sunda ini diharapkan:
1. peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri;
2. guru dapat memusatkan perhatian kepada pengembangan kompetensi bahasa peserta didik dengan menyediakan berbagai kegiatan berbahasa dan sumber belajar;
3. guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didiknya;
4. orang tua, masyarakat dapat secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program kebahasaan daan kesastraan di sekolah;
5. sekolah dapat menyusun program pendidikan tentang kebahasaan, kesastraan sesuai dengan keadaan peserta didik dan sumber belajar yang tersedia;
6. daerah dapat menentukan bahan dan sumber belajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi daerah.
2. Tujuan
Mata pelajaran Bahasa Sunda bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
1.Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku,baik secara lisan maupun tulis
2.Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa kedaerahan
3.Memahami bahasa Sunda dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan
4.Menggunakan bahasa Sunda untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial
5.Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa
3. Ruang Lingkup
Ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Sunda mencakup komponen kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
1. Mendengarkan
2. Berbicara
3. Membaca
4. Menulis.
Pada akhir pendidikan di SMP, peserta didik telah membaca sekurang-kurangnya 15 buku sastra dan nonsastra.
D. Pengembangan Diri
1. Latar Belakang
Pengembangan diri merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek keterampilan, bakat, keahlian serta tindakan moral dan pengenalan lingkungan melalui aktivitas extrakurikuler terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.
Pengembangan diri sebagai suatu proses pembinaan manusia yang berlangsung seumur hidup, yang diberikan di luar jam pelajaran, yaitu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat langsung dalam berbagai pengalaman belajar melalui aktivitas ekstrakurikuler.
Pengembangan diri memiliki sasaran untuk menggali potensi yang belum muncul di peserta didik, oleh karena itu pendidikan kurang lengkap tanpa adanya pengembangan diri bagi manusia untuk mengenal dunia dan dirinya sendiri yang secara alami berkembang searah dengan perkembangan zaman.
Selama ini telah terjadi kecenderungan dalam memberikan makna mutu pendidikan yang hanya dikaitkan dengan aspek kemampuan kognitif. Pandangan ini telah membawa akibat terabaikannya aspek-aspek moral, akhlak, budi pekerti, seni, psikomotor, serta life skill. Dengan diterbitkannya Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan akan memberikan peluang untuk menyempurnakan kurikulum yang komprehensif dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.
2. Tujuan
Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, minat, setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah.
Secara khusus pengembangan diri bertujuan :
1.Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
2.Meningkatkan kecintaan terhadap tanah air
3.Mengembangkan keterampilan yang telah dimiliki
4.Meningkatkan keahlian agar lebih propesional
5.Meningkatkan kemampuan dari bakat yang dimiliki
6.Meletakkan landasan karakter moral yang kuat
7. Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggungjawab, kerjasama, percaya diri dan demokratis
3. Ruang Lingkup
Kegiatan pengembangan diri dilaksanankan di bawah bimbingan para guru dan pelatih/instruktur serta dikoordinasi olek guru BK.
Ruang lingkup Pengembangan Diri untuk SMP Negeri 3 Bojongpicung kabupaten Cianjur yaitu melalui kegiatan ekstrakurikuler dan pelayanan konseling.
A. Pengembangan diri melalui kegiatan ektrakurikuler meliputi :
1. Permainan olahraga antara lain : sepak bola, bola basket, bola voli, dan bela diri.
2. Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibra)
3. Praja Muda Karana (Pramuka)
4. Palang Merah Remaja (PMR)
5. Karya Ilmiah Remaja
6. Seni Teater dan Tari
7. Silat
9. Mamaos
B. Pengembangan diri melalui pelayanan konseling meliputi :
1. Kepribadian
2. Sosial
3. Bimbingan Belajar
4. Bimbingan Karir
E. Beban Belajar
Satuan pendidikan pada semua jenis dan jenjang pendidikan menyelenggarakan program pendidikan dengan menggunakan sistem paket atau sistem kredit semester. Kedua sistem tersebut dipilih berdasarkan jenjang dan kategori satuan pendidikan yang bersangkutan.
Satuan pendidikan SMP kategori standar dapat menggunakan sistem paket atau dapat menggunakan sistem kredit semester.
Beban belajar yang diatur pada ketentuan ini adalah beban belajar sistem paket pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Sistem Paket adalah sistem penyelenggaraan program pendidikan yang peserta didiknya diwajibkan mengikuti seluruh program pembelajaran dan beban belajar yang sudah ditetapkan untuk setiap kelas sesuai dengan struktur kurikulum yang berlaku pada satuan pendidikan. Beban belajar setiap mata pelajaran pada Sistem Paket dinyatakan dalam satuan jam pembelajaran.
Beban belajar dirumuskan dalam bentuk satuan waktu yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk mengikuti program pembelajaran melalui sistem tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Semua itu dimaksudkan untuk mencapai standar kompetensi lulusan dengan memperhatikan tingkat perkembangan peserta didik.
Kegiatan tatap muka adalah kegiatan pembelajaran yang berupa proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik. Beban belajar kegiatan tatap muka per jam pembelajaran di SMP Negeri 1 ditetapkan berlangsung selama 45 menit.
Beban belajar kegiatan tatap muka per minggu pada SMP Negeri 3 Bojongpicung Kabupaten Cianjur adalah 34 jam pembelajaran. Pengaturan alokasi waktu untuk setiap mata pelajaran yang terdapat pada semester ganjil dan genap dalam satu tahun ajaran dapat dilakukan secara fleksibel dengan jumlah beban belajar yang tetap.
Tabel Beban Belajar Kegiatan Tatap Muka Keseluruhan untuk Satuan Pendidikan SMP N 3 Bojongpicung Kabupaten Cianjur :
Penugasan terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai standar kompetensi. Waktu penyelesaian penugasan terstruktur ditentukan oleh pendidik.
Kegiatan mandiri tidak terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai standar kompetensi. Waktu penyelesaiannya diatur sendiri oleh peserta didik.
Beban belajar penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur terdiri dari:
Waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur bagi peserta didik di SMP Negeri 3 Bojongpicung Kabupaten Cianjur maksimum 50% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan.
Penyelesaian program pendidikan dengan menggunakan sistem paket pada SMP adalah tiga tahun. Program percepatan dapat diselenggarakan untuk mengakomodasi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.
F. Ketuntasan Belajar
SMP Negeri 3 Bojongpicung Kabupaten Cianjur menentukan kriteria ketuntasan minimal dengan mempertimbangkan tingkat kemampuan rata-rata peserta didik serta kemampuan sumber daya dukung dalam penyelenggaraan pembelajaran, namun sekolah secara bertahap dan berkelanjutan selalu mengusahakan peningkatan kriteria ketuntasan belajar untuk mencapai kriteria ketuntasan ideal ( 75 % ).
Dengan memperhatikan 3 aspek dalam penetuan KKM, yaitu Kompleksitas, Intake Siswa dan Daya Dukung Sekolah, maka SMP Negeri 3 Bojongpicung Kabupaten Cianjur menetapkan KKM mata pelajaran sebagai berikut :
Mata Pelajaran
KKM Kelas VII
KKM Kelas VIII
KKM Kelas IX
1. Pendidikan Agama
65
65
65
2. Pendidikan Kewarganegaraan
65
65
65
3. Bahasa Indonesia
65
65
65
4. Bahasa Inggris
50
55
50
5. Matematika
50
52
54
6. I P A
55
55
60
7. I P S
65
65
65
8. Seni Budaya
65
65
65
9. Penjaskes
60
60
60
10. Teknologi Informasi dan Komunikasi
55
60
60
11. Bahasa Sunda
60
65
65
G. Kenaikan Kelas dan Kelulusan
1. Kenaikan Kelas
Kriteria kenaikan kelas diatur oleh Disdik Provinsi Jawa Barat.
Peserta didik dinyatakan naik kelas bila :
a. Tuntas pada seluruh SK dan KD sesuai dengan KTSP.
b. Peserta didik harus mengulang di kelas yang sama bila tidak menuntaskan SK dan KD lebih dari empat mata pelajaran.
c. Ketika mengulang di kelas yang sama, nilai peserta didik untuk semua standar kompetensi dan kompetensi dasar yang ketuntasan belajar minimumnya sudah dicapai, minimal sama dengan yang dicapai pada tahun sebelumnya.
d. Jika karena alasan yang kuat, misalnya karena gangguan kesehatan fisik , emosi atau mental sehingga tidak mungkin berhasil peserta didik yang bersangkutan dibantu mencapai kompetensi yang ditargetkan.
2. Kelulusan
Sesuai dengan ketentuan PP. No. 19/2005 Pasal 72 Ayat (1), peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah setelah :
a. menyelesaikan seluruh program pembelajaran.
b. memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewargaanegara dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan.
c. lulus ujian sekolah untuk kelompok mata pelajaran IPTEK.
d. lulus Ujian Nasional.
H. Pendidikan Kecakapan Hidup
Kecakapan hidup (life skills) adalah kecakapan yang dimiliki seseorang untuk berani menghadapi problema hidup dan kehidupan dengan wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya .
Tujuan umum pendidikan kecakapan hidup adalah memfungsikan pendidikan sesuai dengan fitrahnya, yaitu mengembangkan potensi peserta didik dalam mengahadapi perannya di masa mendatang secara menyeluruh .
Tujuan khusus pendidikan kecakapan hidup adalah :
a.Mengaktualisasikan potensi peserta didik sehingga dapat digunakan untuk memecahkan berbagai masalah , misalnya bahaya narkoba dan sosial
b.Memberikan wawasan yang luas mengenai penegmbangan karir peserta didik
c.Memberikan bekal dengan latihan dasar tentang nilai-nilai yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari
d.Memberikan kesempatan kepada sekolah untuk mengembangkan pembelajaran yang fleksibel sesuai dengan prinsip pendidikan berbasis luas (Broad- based Education)
e.Mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya di lingkungan sekolah dan di masyarakat sesuai dengan prinsip manajemen berbasis sekolah .
Kecakapan hidup yang dikembangkan :
a.Kecakapan personal, meliputi : beriman kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, berakhlak mulia, berfikir rasional , memahami diri sendiri, percaya diri, bertanggung jawab, menghargai dan menilai diri. Kegiatan berupa : Baca Tulis Al Qur’an (BTA) bernagmah.
b.Kecakapan sosial, meliputi : kecakapan bekerja sama , menunjukkan tanggung jawab sosial, mengendalikan emosi, berinteraksi dalam budaya lokal dan global, berinteraksi dalam masyarakat, meningkatkan potensi fisik, membudayakan sikap sportif, membudayakan sikap disiplin, membudayakan sikap hidup sehat. Kegiatannya berupa : pencak silat, mamaos Cianjuran, marching band, dan seni degung.
c.Kecakapan akademik, meliputi : menguasai pengetahuan, menggunakan metode dan penelitian ilmiah, bersikap ilmiah, mengembangkan kapasitas sosial untuk belajar sepanjang hayat, mengembangkan berfikir strategis, berkomunikasi secara ilmiah, memperoleh kompetensi lanjut akan ilmu pengetahuan dan teknologi, membudayakan berfikir dan berprilaku ilmiah, membudayakan berfikir kreatif, membudayakan berfikir dan berprilaku ilmiah secara mandiri, menggunakan teknologi, menggunakan pengetahuan dan nilai-nilai untuk mengambil keputusan yang tepat. Kegiatannya berupa : Karya Ilmiah Remaja (KIR) dan Apresiasi Komputer.
d.Kecakapan vokasional meliputi : keterampilan yang berkaitan dengan kejuruan (misalnya : menjahit, bertani, beternak, dan otomotif), keterampilan bekerja, keterampilan kewirausahaan, keterampilan menguasai teknologi informasi dan komunikasi, keterampilan merangkai alat. Kegiatannya berupa : elektronika dan internet.
I. Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal Dan Global
1. Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal
a. Latar Belakang
Pendidikan berbasis keunggulan lokal merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan, belakangan ini budaya dari luar (budaya barat) telah berkembang pesat diseluruh pelosok Indonesia memasuki budaya lokal. Untuk itu SMP Negeri 3 Bojongpicung memunculkan pendidikan berbasis keunggulan lokal, bertujuan khususnya untuk melestarikan serta mengembangkan budaya kedaerahan yang ada agar tidak terlupakan dan tersisihkan oleh budaya dari luar ( budaya barat ).
Pendidikan berbasis keunggulan lokal memiliki sasaran untuk memotivasi peserta didik, oleh karena itu pendidikan kurang lengkap apabila keunggulan-keunggulan lokal tidak diberikan kepada siswa sedini mungkin.
Selama ini telah terjadi kecenderungan dalam memberikan makna mutu pendidikan yang hanya dikaitkan dengan pendidikan kelompok mata pelajaran saja. Pandangan ini telah membawa akibat terabaikannya budaya-buadaya daerah, apalagi sekarang kebijakan pemerintah diserahkan sepenuhnya kepada otonomi daerah.
b. Tujuan
Pendidikan berbasis keunggulan lokal bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, minat, setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah.
c. Ruang Lingkup
Pendidikan berbasis keunggulan lokal dilaksanankan di bawah bimbingan para guru dan pelatih/instruktur yang terangkum dalam pengembangan diri.
Ruang lingkup Pendidikan berbasis keunggulan lokal untuk SMP Negeri 3 Bojongpicung Cianjur meliputi kegiatan antara lain :
a. Mamaos
b. Ngaos
c. Maenpo
2. Pendidikan Berbasis Keunggulan Global
a. Latar Belakang
Memasuki abad ke-21, bidang teknologi informasi dan komunikasi berkembang dengan pesat yang dipicu oleh temuan dalam bidang rekayasa material mikroelektronika. Perkembangan ini berpengaruh besar terhadap berbagai aspek kehidupan, bahkan perilaku dan aktivitas manusia kini banyak tergantung kepada teknologi informasi dan komunikasi. Pendidikan berbasis keunggulan global dimaksudkan untuk mempersiapkan peserta didik agar mampu mengantisipasi pesatnya perkembangan tersebut.
Pendidikan berbasis keunggulan global perlu diperkenalkan, dipraktikkan dan dikuasai peserta didik sedini mungkin agar mereka memiliki bekal untuk menyesuaikan diri dalam kehidupan global yang ditandai dengan perubahan yang sangat cepat. Untuk menghadapi perubahan tersebut diperlukan kemampuan dan kemauan belajar sepanjang hayat dengan cepat dan cerdas. Hasil-hasil teknologi informasi dan komunikasi banyak membantu manusia untuk dapat belajar secara cepat. Dengan demikian selain sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, teknologi informasi dan komunikasi dapat dimanfaatkan untuk merevitalisasi proses belajar yang pada akhirnya dapat mengadaptasikan peserta didik dengan lingkungan dan dunia kerja.
b. Tujuan
Pendidikan berbasis keunggulan global bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
1.Memahami teknologi informasi dan komunikasi
2.Mengembangkan keterampilan untuk memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi
3.Mengembangkan sikap kritis, kreatif, apresiatif dan mandiri dalam penggunaan teknologi informasi dan komunikasi
4.Menghargai karya cipta di bidang teknologi informasi dan komunikasi.
c. Ruang Lingkup
Ruang lingkup Pendidikan berbasis keunggulan global meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
1.Perangkat keras dan perangkat lunak yang digunakan untuk mengumpulkan, menyimpan, memanipulasi, dan menyajikan informasi
2.Penggunaan alat bantu untuk memproses dan memindah data dari satu perangkat ke perangkat lainnya.
BAB IV
KALENDER PENDIDIKAN
Kurikulum satuan pendidikan pada setiap jenis dan jenjang diselenggarakan dengan mengikuti kalender pendidikan pada setiap tahun ajaran. Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran yang mencakup permulaan tahun pelajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif dan hari libur.
A. Alokasi Waktu
Permulaan tahun pelajaran adalah waktu dimulainya kegiatan pembelajaran pada awal tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan.
Minggu efektif belajar adalah jumlah minggu kegiatan pembelajaran untuk setiap tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan.
Waktu pembelajaran efektif adalah jumlah jam pembelajaran setiap minggu, meliputi jumlah jam pembelajaran untuk seluruh matapelajaran termasuk muatan lokal, ditambah jumlah jam untuk kegiatan pengembangan diri.
Waktu libur adalah waktu yang ditetapkan untuk tidak diadakan kegiatan pembelajaran terjadwal pada satuan pendidikan yang dimaksud. Waktu libur dapat berbentuk jeda tengah semester, jeda antar semester, libur akhir tahun pelajaran, hari libur keagamaan, hari libur umum termasuk hari-hari besar nasional, dan hari libur khusus.
Alokasi waktu minggu efektif belajar, waktu libur dan kegiatan lainnya tertera pada Tabel 26.
Tabel 26. Alokasi Waktu pada Kelender Pendidikan
No
Kegiatan
Alokasi Waktu
Keterangan
1.
Minggu efektif belajar
Minimum 34 minggu dan maksimum 38 minggu
Digunakan untuk kegiatan pembelajaran efektif pada setiap satuan pendidikan
2.
Jeda tengah semester
Maksimum 2 minggu
Satu minggu setiap semester
3.
Jeda antarsemester
Maksimum 2 minggu
Antara semester I dan II
4.
Libur akhir tahun pelajaran
Maksimum 3 minggu
Digunakan untuk penyiapan kegiatan dan administrasi akhir dan awal tahun pelajaran
5.
Hari libur keagamaan
2 – 4 minggu
Daerah khusus yang memerlukan libur keagamaan lebih panjang dapat mengaturnya sendiri tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif
6.
Hari libur umum/nasional
Maksimum 2 minggu
Disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah
7.
Hari libur khusus
Maksimum 1 minggu
Untuk satuan pendidikan sesuai dengan ciri kekhususan masing-masing
8.
Kegiatan khusus sekolah/madrasah
Maksimum 3 minggu
Digunakan untuk kegiatan yang diprogramkan secara khusus oleh sekolah/madrasah tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif
B. Penetapan Kalender Pendidikan
1. Permulaan tahun pelajaran adalah bulan Juli setiap tahun dan berakhir pada bulan Juni tahun berikutnya.
2. Hari libur sekolah ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional, dan/atau Menteri Agama dalam hal yang terkait dengan hari raya keagamaan, Kepala Daerah tingkat Kabupaten/Kota, dan/atau organisasi penyelenggara pendidikan dapat menetapkan hari libur khusus.
3. Pemerintah Pusat/Provinsi/Kabupaten/Kota dapat menetapkan hari libur serentak untuk satuan-satuan pendidikan.
4.Kalender pendidikan untuk setiap satuan pendidikan disusun oleh masing-masing satuan pendidikan berdasarkan alokasi waktu sebagaimana tersebut pada dokumen Standar Isi ini dengan memperhatikan ketentuan dari pemerintah/pemerintah daerah.
BAB V
PENUTUP
A.Simpulan
Kurikulum merupakan salah satu komponen pendidikan yang sangat menentukan keberhasilan pembelajaran kurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler, baik dalam bidang akademis maupun nonakademis. Oleh karena itu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan(KTSP) yang telah kami susun dengan nama Kurikulum SMPN 3 Bojongpicung Tahun Pelajaran 2007/2008 ini diharapkan dapat dipahami dan dilaksanakan oleh semua komponen sekolah secara efektif dan efisien.
B.Saran
1.Kepala Sekolah beserta para Kepala Unit Fungsional/PKS, Komite Sekolah, para guru serta staf TU perlu meningkatkan pemahaman yang mendalam tehadap Kurikulum SMPN 3 Bojongpicung.
2.Kurikulum SMPN 3 Bojongpicung Tahun Pelajaran 2007/2008 yang sudah direvisi pada tahun kedua pelaksanaan KTSP ini benar-benar dijadikan pedoman, petunjuk, dan acuan dalam menyusun dan melaksanakan program-program sekolah.
3.Pelaksanaan Kurikulum SMPN 3 Bojongpicung senantiasa dipantau dan dievaluasi demi perbaikan serta peningkatan efektivitas kinerja semua komponen sekolah.
Mengetahui Bojongpicung, 05 Juli 2007
Kepala SMPN 3 Bojongpicung, Kepala Unit Kurikulum,
ATI HURJATI, S.Pd. AHMAD JAMLUDIN, S.Pd.
NIP 130415443 NIP 132165140
PENDAHULUAN
A. Rasional
Pendidikan laksana eksperimen yang tidak pernah selesai. Dikatakan demikian karena pendidikan merupakan bagian dari kebudayaan dan peradaban manusia yang terus berkembang. Hal ini sejalan dengan pembawaan manusia yang memiliki potensi kreatif dan inovatif dalam segala bidang kehidupan. Dengan potensinya tersebut manusia selalu berusaha menciptakan hal-hal yang lebih baik dari yang sudah ada. Hal itulah yang menyebabkan hakekat manusia dan hakekat pendidikan itu selalu berkembang sehingga konsep dan implementasi pendidikan pun turut berubah.
Hal lain, tuntutan terhadap pendidikan yang berkualitas semakin meningkat. Setiap lembaga pendidikan dituntut untuk secara terus menerus meningkatkan kualitas proses maupun output pendidikannya.
Paling tidak terdapat dua faktor yang memunculkan tuntutan terhadap pendidikan yang berkualitas. Pertama, tantangan globalisasi yang ditandai dengan adanya pasar bebas dan persaingan antar bangsa dalam berbagai sendi kehidupan. Hal ini menuntut setiap individu maupun masyarakat suatu bangsa untuk memiliki mental, etos kerja, interpreuneurship, nilai-nilai dan kepribadian. Kedua, harapan orang tua peserta didik yang menghendaki putra-putrinya memiliki kualitas dan keunggulan. Harapan tersebut akan meningkatkan kesadaran dan tuntutan orang tua terhadap pendidikan yang berkualitas.
Tugas utama pendidikan, lembaga pendidikan, dan para pendidik adalah mengembangkan potensi peserta didik, agar kelak mereka dapat mengembangkan dirinya, dan masyarakatnya. Selaras dengan tugas itu tiada jalan lain bagi dunia pendidikan (termasuk satuan pendidikan dan pendidik sebagai ujung tombak pelaksana pendidikan), kecuali menjawab tantangan dan tuntutan itu dengan upaya meningkatkan kualitas layanan, proses, sarana prasarana, dan perangkat lunaknya.
Berbagai usaha telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, antara lain melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kompetensi guru, peningkatan anggaran, penambahan sarana prasarana pendidikan, pengadaan buku, serta perubahan dan perbaikan kurikulum. Di sisi lain, bergulirnya era reformasi dan desentralisasi politik dan kekuasaan, berimbas pula terhadap dunia pendidikan. Salah satu di antaranya, adalah tentang kewenangan pengembangan dan penetapan kurikulum pendidikan. Pada era sebelumnya kurikulum pendidikan ditetapkan oleh pemerintah pusat, sedangkan daerah dan satuan pendidikan tinggal melaksanakan saja. Berbeda dengan itu, untuk kurikulum 2006, pemerintah pusat hanya menetapkan standar isi, standar kompetensi lulusan, standar proses, standar penilaian, dan panduan-panduan. Sedangkan kewenangan untuk mengembangkan dan menetapkan kurikulum operasionalnya dilimpahkan kepada satuan pendidikan dan atau pemerintah daerah.
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh sebab itu kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan potensi yag ada di daerah.
Pendelegasian sebagian kewenangan tersebut mengandung asumsi bahwa: Pertama, akan terjadi keragaman dan diversifikasi kurikulum, namun seluruhnya harus tetap mengacu kepada standar nasional pendidikan untuk menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional. Kedua, satuan pendidikan dan daerah akan mengembangkan dan menetapkan kurikulum operasional yang sesuai dengan situasi, kondisi, keunggulan dan kekhasan, satuan dan atau daerah masing-masing, Ketiga, terdapat peluang untuk berkompetisi secara sehat antara satuan pendidikan dan atau daerah yang satu dengan satuan pendidikan dan atau daerah yang lain. Keempat, apabila satuan pendidikan dan atau daerah mengembangkan dan menetapkan sendiri kurikulum operasionalnya, maka diharapkan kurikulum tersebut akan dapat dilaksanakan dengan konsisten dan tanggungjawab.
Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan standar kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Dua dari kedelapan standar pendidikan tersebut, yaitu standar isi dan standar kompetensi lulusan merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum.
Dengan pertimbangan-pertimbangan demikian SMP Negeri 3 Bojongpicung kabupaten Cianjur mengembangkan dan menetapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang diberi nama Kurikulum SMP Negeri 3 Bojongpicung.
KTSP merupakan salah satu bentuk realisasi kebijakan desentralisasi di bidang pendidikan agar kurikulum benar-benar sesuai dengan kebutuhan pengembangan potensi peserta didik di sekolah yang bersangkutan di masa sekarang dan yang akan datang dengan mempertimbangkan kepentingan lokal, nasional, dan tuntutan global dengan semangat manajemen berbasis sekolah (MBS).
B. Profil
1.Riwayat Singkat SMP Negeri 3 Bojongpicung Kabupaten Cianjur
SMP Negeri 3 Bojongpicung pada awalnya merupakan kelas jauh dari SMPN 1 Bojongpicung. Penyelenggaraan kelas jauh tersebut pada tahun 1992 diprakarsai oleh tokoh-tokoh pendidikan di Desa Jati, Desa Jatisari, dan beberapa orang guru senior dari SMPN 1 Bojongpicung Kabupaten Cianjur. Keinginan masyarakat Desa Jati, Jatisari, Nanggala, Cibarengkok, Cikondang, Sukajaya, dan Sukarama untuk mempunyai sekolah lanjutan pertama akhirnya dapat terlaksana meskipun dengan kondisi yang serba terbatas. Pada awalnya kegiatan belajar mengajar dilaksanakan menumpang di SDN 1 Jati dengan tenaga pengajar diambil dari beberapa orang guru SD, guru SMPN 1 Bojongpicung dan beberapa orang Sarjana Pendidikan dari desa Jati, Jatisari, Cikondang, dan Cibarengkok. Pada tahun 1995, Kelas Jauh SMPN 1 Bojongpicung mendapat Unit Gedung Baru(UGB, sekarang USB) dengan nama SMPN 3 Bojongpicung dan Ibu Dra. Hj. Ai Wiati diangkat sebagai pelaksana harian(PLH) kepala sekolah. Dua tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 16 Maret 1997 SMPN 3 Bojongpicung mendapat kiriman 8 orang guru PNS dan 1 orang TU PNS. Setelah 2 tahun Dra. Hj. Ai Wiati menjadi PLH kepala sekolah, maka pada tangal 26 Mei 1997 sekolah ini mulai dinegerikan dan beliau menjadi kepala sekolah defenitif yang menerima penyerahan dari kepala sekolah induk, yaitu H. Ruchimat Somantri K. Empat tahun kemudian jabatan kepala sekolah dipegang oleh Drs. Otoh Hilman, tepatnya mulai bulan Februari 2003 yang mengalami rotasi dari SMPN 2 Pacet. Sedangkan Dra. Hj. Ai Wiati menjadi Kepala SMPN 1 Bojongpicung. Karena Drs. Otoh Hilman memasuki masa pensiun pada bulan Juli 2006, maka Kepala SMPN 3 dijabat rangkap oleh Dra. Hj. Ai Wiati, M.MPd. sampai dengan bulan Februari 2007. Enam bulan kemudian jabatan Kepala Sekolah dipegang oleh Ibu Ati Hurjati, S.Pd. yang mengalami rotasi dari SMPN 2 Sukanegara. Sampai saat ini SMPN 3 Bojongpicung masih dipimpin oleh beliau sebagai kepala sekolah definitif yang ketiga.
2.Letak Geografis SMP Negeri 3 Bojongpicung Kabupaten Cianjur
SMP Negeri 3 Bojongpicung terletak di Jalan Jatisari Desa Jati. Dari kantor cdesa jati berjarak 1000 km dan kurang lebih 2500 m dari pusat pemerintahan Kecamatan Bojongpicung Cianjur. SMP Negeri 3 Bojongpicung menjadi pilihan orang tua murid karena terletak di jalan desa yang membuat suasana belajar tidak terganggu oleh bisingnya arus lalu lintas kendaraan. Di sebelah utara sekolah terdapat lapangan sepak bola desa Jati yang bisa dimanfaatkan oleh siswa sebagai sarana belajar penjas.
3.Prospek dan Harapan
SMP Negeri 3 Bojongpicung bisa menjadi unggulan dalam bidang akademis dan non akademis diantara sekolah – sekolah negeri dan swasta di Kabupaten Cianjur. Ini terbukti dari prestasi yang diraih dalam bidang pembelajaran, olah raga, dan keagamaan. Hal ini menjadi salah satu alasan dan motivasi untuk pengembangan SMP 3 Bojongpicung ke depan. Setelah mengirimkan 2 orang guru untuk mengikuti PTBK di Kanwil Provinsi Jawa Barat pada bulan November 2005, maka pada bulan Mei tahun 2006 SMPN 3 mengirimkan 4 orang guru untuk mengikuti Pelatihan Nasional di Puncak Bogor. Pada tahun pelajaran 2006 – 2007 SMP 3 dapat menjadi juara pertama lomba pembelajaran PKn tingkat Provinsi. Ini juga menjadi salah satu bukti bahwa SMP 3 mempunyai prospek yang baik untuk meningkatkan mutu sesuai dengan standar nasional. Kepercayaan dan dukungan masyarakat serta input siswa yang baik memungkinkan SMP 3 mempunyai prospek yang baik sebagai sekolah bermutu di Kecamatan Bojongpicung Kabupaten Cianjur. Oleh karena itu, SMP 3 terus berbenah diri mengupayakan terpenuhinya sarana prasarana pendukung bagi tercapainya tujuan. SMP 3 berupaya untuk memperbaiki mutu layanan, meliputi; standar isi, standar proses, standar mutu lulusan, standar fasilitas, standar pengelolaan, standar pembiayaan, standar evaluasi, standar penilaian, agar SMP 3 kelak menjadi sekolah model yang bisa dijadikan acuan bagi sekolah – sekolah sejenis di Kecamatan Bojongpicung Kabupaten Cianjur.
C. Landasan
KTSP ini disusun dengan landasan :
1.Undang-undang No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional;
2.Peraturan Pemerintah No. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan;
3.Peraturan Pemerintah No. 28/1990 tentang Pendidikan Dasar;
4.Peraturan Pemerintah No. 38/1992 tentang Tenaga Kependidikan;
5.Surat Keputusan Mendikbud No. 054/U/1993 tentang Pendidikan Menengah Umum;
6.Peraturan Presiden No. 9/2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi Organisasi, dan Tata Kerja Kementrian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden No 62/2005;
7.Keputusan Presiden No. 187/M/2004 mengenai Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan keputusan Presiden No. 20/P/2005;
8.Surat Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan No. 0141/BSNP/III/2006 tanggal 13 Maret 2006 dan No. 0212/BNSP/V/2006 tanggal 2 Mei tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah;
9.Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No.053/V/2001 tentang Pedoman Standar Penilaian Minimal Penyelenggaraan Persekolahan di Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah;
10.Keputusan Menteri Pendidikan No. 056/V/2001 tentang Pedoman Pembiayaan Penyelenggaraan Pendidikan di Sekolah;
11.Surat Keputusan Bupati Cianjur No. 10/2001 tentang Tugas Pokok dan Fungsi Tata Kerja Unsur Organisasi Dinas Pendidikan.
D. Tujuan
KTSP ini disusun dengan tujuan :
1.Untuk dijadikan pedoman dan pegangan dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran baik intrakurikuler maupun ekstrakurikuler.
2.Agar setiap personal dapat memahami isi KTSP sebagai suatu sistem.
3.Agar guru dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan program yang ditetapkan.
4.Agar guru dapat menggunakan waktu efektif untuk kegiatan pembelajaran secara optimal.
5.Agar guru dapat membuat perangkat pembelajaran sesuai dengan program yang telah ditetapkan.
6.Agar sekolah dapat meningkatkan mutu pendidikan.
BAB II
TUJUAN PENDIDIKAN TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN
A. Visi Sekolah
”Terwujudnya peserta didik yang lebih cerdas, lebih sehat, lebih sejahtera dan lebih berakhlakul karimah”.
B. Misi Sekolah
1. Peningkatan Standar Isi
a.Melaksanakan pengembangan kurikulum
b.Melaksanakan Pemetaan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
c.Melaksanakan pengembangan silabus
d.Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran yang berlandaskan akhlakul karimah
e.Mengembangkan perangkat penilaian untuk semua mata pelajaran
f.Melaksanakan penyusunan kalender pendidikan
2. Peningkatan Standar Proses
a.Mengembangkan dan melaksanakan pembelajaran yang inovatif serta berakhlakul karimah
b.Mengembangkan dan melaksanakan penilaian secara optimal
c.Mengembangkan berbagai bahan dan sumber pembelajaran yang memadai
3. Peningkatan Standar Kelulusan
a.Meningkatkan perolehan rata-rata nilai Ujian Nasional sebesar 0,5
b.Meningkatkan persentase kelulusan sampai dengan 100 %
c. Meningkatkan prestasi dalam kejuaraan PORSENI SMP, siswa berprestasi, olimpiade MIPA, asah terampil Bahasa Inggris/ Bahasa Sunda
4. Peningkatan Kompetensi Tenaga Kependidikan
a.Mengembangkan Profesionalisme Pendidik
b.Melaksanakan pengembangan pedagogik dan kepribadian
c.Meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani
d.Melaksanakan peningkatan kinerja tenaga administrasi
e.Menambah kuantitas tenaga kependidikan profesional yang berakhlakul karimah.
f.Meningkatkan pelaksanaan monitoring dan evaluasi terhadap guru dan TU.
5.Peningkatan Mutu Standar Pengelolaan dan Manajemen
a.Melaksanakan pengelolaan administrasi sekolah secara optimal
b.Meningkatkan pelaksanaan MBS dengan melibatkan partisipasi stakeholder secara optimal
c.Meningkatkan pemberdayaan komite sekolah sesuai dengan tugas pokok dan fungsi secara optimal
d.Menumbuhkan jaringan informasi akademik di internal sekolah
e.Melaksanakan monitoring dan evaluasi
f.Melaksanakan supervisi klinis
g.Meningkatkan jaringan kerjasama dengan dinas instansi terkait dan sekolah lain
6. Peningkatan Pengembangan Standar Fasilitas Pendidikan
a.Mengadakan dan mengembangkan media serta alat pembelajaran yang optimal.
b.Menyediakan laboratorium IPA dan laboratorium bahasa
c.Menciptakan lingkungan belajar yang kondusif
7. Pengembangan Standar Pembiayaan
a.Meningkatkan jalinan kerjasama dan menggali dari dunia usaha dan industri
b.Menumbuhkan sikap kewirausahaan di sekolah dengan melaksanakan subsidi silang
8. Pengembangan Standar Penilaian
a.Melaksanakan dan mengembangkan model-model evaluasi pembelajaran sesuai dengan pedoman
b.Melaksanakan pengembangan instrumen evaluasi untuk semua mata pelajaran
c.Mengimplementasikan model-model evaluasi pembelajaran bagi anak berprestasi, bermasalah dan kelompok anak lainnya.
C. Tujuan Pendidikan Dasar
Tujuan Pendidikan Dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
D. Tujuan Sekolah Untuk Lima (5) Tahun Ke Depan
1. Standar Isi (Kurikulum)
a.Sekolah memiliki seperangkat kurikulum semua mata pelajaran pada semua tingkatan.
b.Sekolah memiliki seperangkat pemetaan SK dan KD semua mata pelajaran pada setiap tingkatan
c.Sekolah memiliki seperangkat silabus semua pelajaran pada setiap tingkatan
d.Sekolah memiliki RPP semua mata pelajaran untuk semua tingkatan yang berlandaskan akhlakul karimah
e.Memiliki berbagai perangkat penilaian untuk semua mata pelajaran
f.Memiliki kalender pendidikan yang sesuai dengan pedoman
2. Standar Proses
a.Sekolah dapat mengembangkan dan melaksanakan pembelajaran yang inovatif serta berakhlakul karimah.
b.Sekolah dapat mengembangkan dan melaksanakan penilaian secara optimal
c.Sekolah dapat mengembangkan berbagai bahan dan sumber pembelajaran yang memadai
3. Stndar Kelulusan
a.Sekolah dapat meningkatkan perolehan rata-rata nilai Ujian Nasional sebesar 0,5
b.Sekolah dapat meningkatkan persentase kelulusan sampai dengan 100 %
c.Sekolah dapat meningkatkan prestasi dalam kejuaraan PORSENI SMP, siswa berprestasi, olimpiade MIPA, asah terampil Bahasa Inggris dan Bahasa Sunda.
4.Standar Kependidikan dan Tenaga Kependidikan
a.Sekolah dapat mengembangkan profesionalisme
b.Sekolah dapat melaksanakan pengembangan pedagogik dan kepribadian .
c.Sekolah dapat meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani.
d.Sekolah dapat melaksanakan peningkatan kinerja tenaga administrasi.
e.Sekolah dapat menambah kuantitas tenaga kependidikan profesional yang berakhlakul karimah.
f.Sekolah dapat meningkatkan pelaksanaan monitoring dan evaluasi terhadap guru dan TU
5. Standar Pengelolaan/Manajemen
a.Sekolah dapat melaksanakan pengelolaan administrasi sekolah secara optimal
b.Sekolah dapat meningkatkan MBS dengan melibatkan partisipasi stakeholder secara optimal
c.Sekolah dapat meningkatkan pemberdayaan komite sekolah sesuai dengan tugas pokok dan fungsi secara optimal
d.Sekolah dapat menumbuhkan jaringan informasi akademik di internal sekolah
e.Sekolah dapat melaksanakan monitoring dan evaluasi
f.Sekolah dapat melaksanakan supervisi klinis
g.Sekolah dapat meningkatkan jaringan kerjasama dengan dinas instansi terkait dan sekolah lain.
6. Standar Sarana dan Prasarana
a.Sekolah dapat mengadakan dan mengembangkan media serta alat pembelajaran yang optimal.
b. Sekolah dapat menyediakan laboratorium IPA dan laboratorium bahasa
c. Sekolah dapat menciptakan lingkungan belajar yang kondusif
7.Standar Pembiayaan
a.Sekolah dapat meningkatkan jalinan kerjasama dan menggali dari dunia usaha dan industri
b.Sekolah dapat menumbuhkan sikap kewirausahaan di sekolah dengan melaksanakan subsidi silang
8. Standar Penilaian
a.Sekolah dapat melaksanakan dan mengembangkan model-model evaluasi pembelajaran sesuai dengan pedoman
b.Sekolah dapat melaksanakan pengembangan instrumen evaluasi untuk semua mata pelajaran
c.Sekolah dapat mengimplementasikan model-model evaluasi pembelajaran bagi anak berprestasi, bermasalah dan kelompok anak lainnya.
BAB III
STRUKTUR DAN MUATAN KURIKULUM
A. Kerangka Dasar Kurikulum
1. Kelompok Mata Pelajaran
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 6 ayat (1) menyatakan bahwa kurikulum untuk jenis pendidikan umum, kejuruan, dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas:
a.Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia;
b. Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian;
c.Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi;
d.Kelompok mata pelajaran estetika;
e.Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan.
Cakupan setiap kelompok mata pelajaran disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Cakupan Kelompok Mata Pelajaran
No
Kelompok Mata Pelajaran
Cakupan
1.
Agama dan Akhlak Mulia
Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, atau moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama.
2.
Kewarganegaraan dan Kepribadian
Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian dimaksudkan untuk peningkatan kesadaran dan wawasan peserta didik akan status, hak, dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta peningkatan kualitas dirinya sebagai manusia.
Kesadaran dan wawasan termasuk wawasan kebangsaan, jiwa dan patriotisme bela negara, penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia, kemajemukan bangsa, pelestarian lingkungan hidup, kesetaraan gender, demokrasi, tanggung jawab sosial, ketaatan pada hukum, ketaatan membayar pajak, dan sikap serta perilaku anti korupsi, kolusi, dan nepotisme.
3.
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SD/MI/SDLB dimaksudkan untuk mengenal, menyikapi, dan mengapresiasi ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menanamkan kebiasaan berpikir dan berperilaku ilmiah yang kritis, kreatif dan mandiri.
Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SMP/MTs/SMPLB dimaksudkan untuk memperoleh kompetensi dasar ilmu pengetahuan dan teknologi serta membudayakan berpikir ilmiah secara kritis, kreatif dan mandiri.
Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SMA/MA/SMALB dimaksudkan untuk memperoleh kompetensi lanjut ilmu pengetahuan dan teknologi serta membudayakan berpikir ilmiah secara kritis, kreatif dan mandiri.
Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SMK/MAK dimaksudkan untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi, membentuk kompetensi, kecakapan, dan kemandirian kerja.
4.
Estetika
Kelompok mata pelajaran estetika dimaksudkan untuk meningkatkan sensitivitas, kemampuan mengekspresikan dan kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni. Kemampuan mengapresiasi dan mengekspresikan keindahan serta harmoni mencakup apresiasi dan ekspresi, baik dalam kehidupan individual sehingga mampu menikmati dan mensyukuri hidup, maupun dalam kehidupan kemasyarakatan sehingga mampu menciptakan kebersamaan yang harmonis.
5.
Jasmani, Olahraga dan Kesehatan
Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan pada SD/MI/SDLB dimaksudkan untuk meningkatkan potensi fisik serta menanamkan sportivitas dan kesadaran hidup sehat.
Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan pada SMP/MTs/SMPLB dimaksudkan untuk meningkatkan potensi fisik serta membudayakan sportivitas dan kesadaran hidup sehat.
Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan pada SMA/MA/SMALB/SMK/MAK dimaksudkan untuk meningkatkan potensi fisik serta membudayakan sikap sportif, disiplin, kerja sama, dan hidup sehat.
Budaya hidup sehat termasuk kesadaran, sikap, dan perilaku hidup sehat yang bersifat individual ataupun yang bersifat kolektif kemasyarakatan seperti keterbebasan dari perilaku seksual bebas, kecanduan narkoba, HIV/AIDS, demam berdarah, muntaber, dan penyakit lain yang potensial untuk mewabah.
Selain tujuan dan cakupan kelompok mata pelajaran sebagai bagian dari kerangka dasar kurikulum, perlu dikemukakan prinsip pengembangan kurikulum.
2.Prinsip Pengembangan Kurikulum
Kurikulum tingkat satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah berpedoman pada standar kompetensi lulusan dan standar isi serta panduan penyusunan kurikulum yang dibuat oleh BSNP. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip berikut.
a.Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya
Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan.
b.Beragam dan terpadu
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, dan jenjang serta jenis pendidikan, tanpa membedakan agama, suku, budaya dan adat istiadat, serta status sosial ekonomi dan gender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antarsubstansi.
c. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni berkembang secara dinamis, dan oleh karena itu semangat dan isi kurikulum mendorong peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan secara tepat perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
d.Relevan dengan kebutuhan kehidupan
Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan pribadi, keterampilan berpikir, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan.
e.Menyeluruh dan berkesinambungan
Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antarsemua jenjang pendidikan.
f.Belajar sepanjang hayat
Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal dan informal, dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.
g.Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
3.Prinsip Pelaksanaan Kurikulum
Dalam pelaksanaan kurikulum di setiap satuan pendidikan menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut.
a.Pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi, perkembangan dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya. Dalam hal ini peserta didik harus mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu, serta memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara bebas, dinamis dan menyenangkan.
b.Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar, yaitu: (a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (b) belajar untuk memahami dan menghayati, (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif, (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain, dan (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri, melalui proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
c.Pelaksanaan kurikulum memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan yang bersifat perbaikan, pengayaan, dan/atau percepatan sesuai dengan potensi, tahap perkembangan, dan kondisi peserta didik dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang berdimensi ke-Tuhanan, keindividuan, kesosialan, dan moral.
d.Kurikulum dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik yang saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka, dan hangat, dengan prinsip tut wuri handayani, ing madia mangun karsa, ing ngarsa sung tulada (di belakang memberikan daya dan kekuatan, di tengah membangun semangat dan prakarsa, di depan memberikan contoh dan teladan).
e.Kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai, dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar, dengan prinsip alam takambang jadi guru (semua yang terjadi, tergelar dan berkembang di masyarakat dan lingkungan sekitar serta lingkungan alam semesta dijadikan sumber belajar, contoh dan teladan).
f.Kurikulum dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam, sosial dan budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan dengan muatan seluruh bahan kajian secara optimal.
g.Kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi mata pelajaran, muatan lokal dan pengembangan diri diselenggarakan dalam keseimbangan, keterkaitan, dan kesinambungan yang cocok dan memadai antarkelas dan jenis serta jenjang pendidikan.
B. Struktur Kurikulum Pendidikan Umum
Struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Kedalaman muatan kurikulum pada setiap mata pelajaran pada setiap satuan pendidikan dituangkan dalam kompetensi yang harus dikuasai peserta didik sesuai dengan beban belajar yang tercantum dalam struktur kurikulum. Kompetensi yang dimaksud terdiri atas standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan berdasarkan standar kompetensi lulusan. Muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri merupakan bagian integral dari struktur kurikulum pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Struktur kurikulum SMP/MTs meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun mulai Kelas VII sampai dengan Kelas IX. Struktur kurikulum disusun berdasarkan standar kompetensi lulusan dan standar kompetensi mata pelajaran dengan ketentuan sebagai berikut.
a.Kurikulum SMP/MTs memuat 10 mata pelajaran, muatan lokal, dan pengembangan diri seperti tertera pada Tabel 3.
Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan.
Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karir peserta didik.
b.Substansi mata pelajaran IPA dan IPS pada SMP/MTs merupakan “IPA Terpadu” dan “IPS Terpadu”.
c.Jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran dialokasikan sebagaimana tertera dalam struktur kurikulum. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan.
d.Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 40 menit.
e.Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran (dua semester) adalah 34-38 minggu.
Struktur kurikulum SMP/MTs disajikan pada Tabel 3
Tabel 3. Struktur Kurikulum SMP/MTs
Komponen
Kelas dan Alokasi Waktu
VII
VIII
IX
A. Mata Pelajaran
1. Pendidikan Agama
2
2
2
2. Pendidikan Kewarganegaraan
2
2
2
3. Bahasa Indonesia
4
4
4
4. Bahasa Inggris
4
4
4
5. Matematika
4
4
4
6. Ilmu Pengetahuan Alam
4
4
4
7. Ilmu Pengetahuan Sosial
4
4
4
8. Seni Budaya
2
2
2
9. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan
2
2
2
10. Teknologi Informasi dan Komunikasi
2
2
2
B. Muatan Lokal
2
2
2
C. Pengembangan Diri
2*)
2*)
2*)
Jumlah
32
32
32
2*) Ekuivalen 2 jam pembelajaran
C. Muatan Lokal
1. Latar Belakang
Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya.
Pembelajaran bahasa Sunda diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Sunda dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis.
Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Sunda merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Sunda. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal.
Dengan standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Sunda ini diharapkan:
1. peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri;
2. guru dapat memusatkan perhatian kepada pengembangan kompetensi bahasa peserta didik dengan menyediakan berbagai kegiatan berbahasa dan sumber belajar;
3. guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didiknya;
4. orang tua, masyarakat dapat secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program kebahasaan daan kesastraan di sekolah;
5. sekolah dapat menyusun program pendidikan tentang kebahasaan, kesastraan sesuai dengan keadaan peserta didik dan sumber belajar yang tersedia;
6. daerah dapat menentukan bahan dan sumber belajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi daerah.
2. Tujuan
Mata pelajaran Bahasa Sunda bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
1.Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku,baik secara lisan maupun tulis
2.Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa kedaerahan
3.Memahami bahasa Sunda dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan
4.Menggunakan bahasa Sunda untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial
5.Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa
3. Ruang Lingkup
Ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Sunda mencakup komponen kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
1. Mendengarkan
2. Berbicara
3. Membaca
4. Menulis.
Pada akhir pendidikan di SMP, peserta didik telah membaca sekurang-kurangnya 15 buku sastra dan nonsastra.
D. Pengembangan Diri
1. Latar Belakang
Pengembangan diri merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek keterampilan, bakat, keahlian serta tindakan moral dan pengenalan lingkungan melalui aktivitas extrakurikuler terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.
Pengembangan diri sebagai suatu proses pembinaan manusia yang berlangsung seumur hidup, yang diberikan di luar jam pelajaran, yaitu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat langsung dalam berbagai pengalaman belajar melalui aktivitas ekstrakurikuler.
Pengembangan diri memiliki sasaran untuk menggali potensi yang belum muncul di peserta didik, oleh karena itu pendidikan kurang lengkap tanpa adanya pengembangan diri bagi manusia untuk mengenal dunia dan dirinya sendiri yang secara alami berkembang searah dengan perkembangan zaman.
Selama ini telah terjadi kecenderungan dalam memberikan makna mutu pendidikan yang hanya dikaitkan dengan aspek kemampuan kognitif. Pandangan ini telah membawa akibat terabaikannya aspek-aspek moral, akhlak, budi pekerti, seni, psikomotor, serta life skill. Dengan diterbitkannya Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan akan memberikan peluang untuk menyempurnakan kurikulum yang komprehensif dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.
2. Tujuan
Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, minat, setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah.
Secara khusus pengembangan diri bertujuan :
1.Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
2.Meningkatkan kecintaan terhadap tanah air
3.Mengembangkan keterampilan yang telah dimiliki
4.Meningkatkan keahlian agar lebih propesional
5.Meningkatkan kemampuan dari bakat yang dimiliki
6.Meletakkan landasan karakter moral yang kuat
7. Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggungjawab, kerjasama, percaya diri dan demokratis
3. Ruang Lingkup
Kegiatan pengembangan diri dilaksanankan di bawah bimbingan para guru dan pelatih/instruktur serta dikoordinasi olek guru BK.
Ruang lingkup Pengembangan Diri untuk SMP Negeri 3 Bojongpicung kabupaten Cianjur yaitu melalui kegiatan ekstrakurikuler dan pelayanan konseling.
A. Pengembangan diri melalui kegiatan ektrakurikuler meliputi :
1. Permainan olahraga antara lain : sepak bola, bola basket, bola voli, dan bela diri.
2. Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibra)
3. Praja Muda Karana (Pramuka)
4. Palang Merah Remaja (PMR)
5. Karya Ilmiah Remaja
6. Seni Teater dan Tari
7. Silat
9. Mamaos
B. Pengembangan diri melalui pelayanan konseling meliputi :
1. Kepribadian
2. Sosial
3. Bimbingan Belajar
4. Bimbingan Karir
E. Beban Belajar
Satuan pendidikan pada semua jenis dan jenjang pendidikan menyelenggarakan program pendidikan dengan menggunakan sistem paket atau sistem kredit semester. Kedua sistem tersebut dipilih berdasarkan jenjang dan kategori satuan pendidikan yang bersangkutan.
Satuan pendidikan SMP kategori standar dapat menggunakan sistem paket atau dapat menggunakan sistem kredit semester.
Beban belajar yang diatur pada ketentuan ini adalah beban belajar sistem paket pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Sistem Paket adalah sistem penyelenggaraan program pendidikan yang peserta didiknya diwajibkan mengikuti seluruh program pembelajaran dan beban belajar yang sudah ditetapkan untuk setiap kelas sesuai dengan struktur kurikulum yang berlaku pada satuan pendidikan. Beban belajar setiap mata pelajaran pada Sistem Paket dinyatakan dalam satuan jam pembelajaran.
Beban belajar dirumuskan dalam bentuk satuan waktu yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk mengikuti program pembelajaran melalui sistem tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Semua itu dimaksudkan untuk mencapai standar kompetensi lulusan dengan memperhatikan tingkat perkembangan peserta didik.
Kegiatan tatap muka adalah kegiatan pembelajaran yang berupa proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik. Beban belajar kegiatan tatap muka per jam pembelajaran di SMP Negeri 1 ditetapkan berlangsung selama 45 menit.
Beban belajar kegiatan tatap muka per minggu pada SMP Negeri 3 Bojongpicung Kabupaten Cianjur adalah 34 jam pembelajaran. Pengaturan alokasi waktu untuk setiap mata pelajaran yang terdapat pada semester ganjil dan genap dalam satu tahun ajaran dapat dilakukan secara fleksibel dengan jumlah beban belajar yang tetap.
Tabel Beban Belajar Kegiatan Tatap Muka Keseluruhan untuk Satuan Pendidikan SMP N 3 Bojongpicung Kabupaten Cianjur :
Penugasan terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai standar kompetensi. Waktu penyelesaian penugasan terstruktur ditentukan oleh pendidik.
Kegiatan mandiri tidak terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai standar kompetensi. Waktu penyelesaiannya diatur sendiri oleh peserta didik.
Beban belajar penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur terdiri dari:
Waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur bagi peserta didik di SMP Negeri 3 Bojongpicung Kabupaten Cianjur maksimum 50% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan.
Penyelesaian program pendidikan dengan menggunakan sistem paket pada SMP adalah tiga tahun. Program percepatan dapat diselenggarakan untuk mengakomodasi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.
F. Ketuntasan Belajar
SMP Negeri 3 Bojongpicung Kabupaten Cianjur menentukan kriteria ketuntasan minimal dengan mempertimbangkan tingkat kemampuan rata-rata peserta didik serta kemampuan sumber daya dukung dalam penyelenggaraan pembelajaran, namun sekolah secara bertahap dan berkelanjutan selalu mengusahakan peningkatan kriteria ketuntasan belajar untuk mencapai kriteria ketuntasan ideal ( 75 % ).
Dengan memperhatikan 3 aspek dalam penetuan KKM, yaitu Kompleksitas, Intake Siswa dan Daya Dukung Sekolah, maka SMP Negeri 3 Bojongpicung Kabupaten Cianjur menetapkan KKM mata pelajaran sebagai berikut :
Mata Pelajaran
KKM Kelas VII
KKM Kelas VIII
KKM Kelas IX
1. Pendidikan Agama
65
65
65
2. Pendidikan Kewarganegaraan
65
65
65
3. Bahasa Indonesia
65
65
65
4. Bahasa Inggris
50
55
50
5. Matematika
50
52
54
6. I P A
55
55
60
7. I P S
65
65
65
8. Seni Budaya
65
65
65
9. Penjaskes
60
60
60
10. Teknologi Informasi dan Komunikasi
55
60
60
11. Bahasa Sunda
60
65
65
G. Kenaikan Kelas dan Kelulusan
1. Kenaikan Kelas
Kriteria kenaikan kelas diatur oleh Disdik Provinsi Jawa Barat.
Peserta didik dinyatakan naik kelas bila :
a. Tuntas pada seluruh SK dan KD sesuai dengan KTSP.
b. Peserta didik harus mengulang di kelas yang sama bila tidak menuntaskan SK dan KD lebih dari empat mata pelajaran.
c. Ketika mengulang di kelas yang sama, nilai peserta didik untuk semua standar kompetensi dan kompetensi dasar yang ketuntasan belajar minimumnya sudah dicapai, minimal sama dengan yang dicapai pada tahun sebelumnya.
d. Jika karena alasan yang kuat, misalnya karena gangguan kesehatan fisik , emosi atau mental sehingga tidak mungkin berhasil peserta didik yang bersangkutan dibantu mencapai kompetensi yang ditargetkan.
2. Kelulusan
Sesuai dengan ketentuan PP. No. 19/2005 Pasal 72 Ayat (1), peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah setelah :
a. menyelesaikan seluruh program pembelajaran.
b. memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewargaanegara dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan.
c. lulus ujian sekolah untuk kelompok mata pelajaran IPTEK.
d. lulus Ujian Nasional.
H. Pendidikan Kecakapan Hidup
Kecakapan hidup (life skills) adalah kecakapan yang dimiliki seseorang untuk berani menghadapi problema hidup dan kehidupan dengan wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya .
Tujuan umum pendidikan kecakapan hidup adalah memfungsikan pendidikan sesuai dengan fitrahnya, yaitu mengembangkan potensi peserta didik dalam mengahadapi perannya di masa mendatang secara menyeluruh .
Tujuan khusus pendidikan kecakapan hidup adalah :
a.Mengaktualisasikan potensi peserta didik sehingga dapat digunakan untuk memecahkan berbagai masalah , misalnya bahaya narkoba dan sosial
b.Memberikan wawasan yang luas mengenai penegmbangan karir peserta didik
c.Memberikan bekal dengan latihan dasar tentang nilai-nilai yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari
d.Memberikan kesempatan kepada sekolah untuk mengembangkan pembelajaran yang fleksibel sesuai dengan prinsip pendidikan berbasis luas (Broad- based Education)
e.Mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya di lingkungan sekolah dan di masyarakat sesuai dengan prinsip manajemen berbasis sekolah .
Kecakapan hidup yang dikembangkan :
a.Kecakapan personal, meliputi : beriman kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, berakhlak mulia, berfikir rasional , memahami diri sendiri, percaya diri, bertanggung jawab, menghargai dan menilai diri. Kegiatan berupa : Baca Tulis Al Qur’an (BTA) bernagmah.
b.Kecakapan sosial, meliputi : kecakapan bekerja sama , menunjukkan tanggung jawab sosial, mengendalikan emosi, berinteraksi dalam budaya lokal dan global, berinteraksi dalam masyarakat, meningkatkan potensi fisik, membudayakan sikap sportif, membudayakan sikap disiplin, membudayakan sikap hidup sehat. Kegiatannya berupa : pencak silat, mamaos Cianjuran, marching band, dan seni degung.
c.Kecakapan akademik, meliputi : menguasai pengetahuan, menggunakan metode dan penelitian ilmiah, bersikap ilmiah, mengembangkan kapasitas sosial untuk belajar sepanjang hayat, mengembangkan berfikir strategis, berkomunikasi secara ilmiah, memperoleh kompetensi lanjut akan ilmu pengetahuan dan teknologi, membudayakan berfikir dan berprilaku ilmiah, membudayakan berfikir kreatif, membudayakan berfikir dan berprilaku ilmiah secara mandiri, menggunakan teknologi, menggunakan pengetahuan dan nilai-nilai untuk mengambil keputusan yang tepat. Kegiatannya berupa : Karya Ilmiah Remaja (KIR) dan Apresiasi Komputer.
d.Kecakapan vokasional meliputi : keterampilan yang berkaitan dengan kejuruan (misalnya : menjahit, bertani, beternak, dan otomotif), keterampilan bekerja, keterampilan kewirausahaan, keterampilan menguasai teknologi informasi dan komunikasi, keterampilan merangkai alat. Kegiatannya berupa : elektronika dan internet.
I. Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal Dan Global
1. Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal
a. Latar Belakang
Pendidikan berbasis keunggulan lokal merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan, belakangan ini budaya dari luar (budaya barat) telah berkembang pesat diseluruh pelosok Indonesia memasuki budaya lokal. Untuk itu SMP Negeri 3 Bojongpicung memunculkan pendidikan berbasis keunggulan lokal, bertujuan khususnya untuk melestarikan serta mengembangkan budaya kedaerahan yang ada agar tidak terlupakan dan tersisihkan oleh budaya dari luar ( budaya barat ).
Pendidikan berbasis keunggulan lokal memiliki sasaran untuk memotivasi peserta didik, oleh karena itu pendidikan kurang lengkap apabila keunggulan-keunggulan lokal tidak diberikan kepada siswa sedini mungkin.
Selama ini telah terjadi kecenderungan dalam memberikan makna mutu pendidikan yang hanya dikaitkan dengan pendidikan kelompok mata pelajaran saja. Pandangan ini telah membawa akibat terabaikannya budaya-buadaya daerah, apalagi sekarang kebijakan pemerintah diserahkan sepenuhnya kepada otonomi daerah.
b. Tujuan
Pendidikan berbasis keunggulan lokal bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, minat, setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah.
c. Ruang Lingkup
Pendidikan berbasis keunggulan lokal dilaksanankan di bawah bimbingan para guru dan pelatih/instruktur yang terangkum dalam pengembangan diri.
Ruang lingkup Pendidikan berbasis keunggulan lokal untuk SMP Negeri 3 Bojongpicung Cianjur meliputi kegiatan antara lain :
a. Mamaos
b. Ngaos
c. Maenpo
2. Pendidikan Berbasis Keunggulan Global
a. Latar Belakang
Memasuki abad ke-21, bidang teknologi informasi dan komunikasi berkembang dengan pesat yang dipicu oleh temuan dalam bidang rekayasa material mikroelektronika. Perkembangan ini berpengaruh besar terhadap berbagai aspek kehidupan, bahkan perilaku dan aktivitas manusia kini banyak tergantung kepada teknologi informasi dan komunikasi. Pendidikan berbasis keunggulan global dimaksudkan untuk mempersiapkan peserta didik agar mampu mengantisipasi pesatnya perkembangan tersebut.
Pendidikan berbasis keunggulan global perlu diperkenalkan, dipraktikkan dan dikuasai peserta didik sedini mungkin agar mereka memiliki bekal untuk menyesuaikan diri dalam kehidupan global yang ditandai dengan perubahan yang sangat cepat. Untuk menghadapi perubahan tersebut diperlukan kemampuan dan kemauan belajar sepanjang hayat dengan cepat dan cerdas. Hasil-hasil teknologi informasi dan komunikasi banyak membantu manusia untuk dapat belajar secara cepat. Dengan demikian selain sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, teknologi informasi dan komunikasi dapat dimanfaatkan untuk merevitalisasi proses belajar yang pada akhirnya dapat mengadaptasikan peserta didik dengan lingkungan dan dunia kerja.
b. Tujuan
Pendidikan berbasis keunggulan global bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
1.Memahami teknologi informasi dan komunikasi
2.Mengembangkan keterampilan untuk memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi
3.Mengembangkan sikap kritis, kreatif, apresiatif dan mandiri dalam penggunaan teknologi informasi dan komunikasi
4.Menghargai karya cipta di bidang teknologi informasi dan komunikasi.
c. Ruang Lingkup
Ruang lingkup Pendidikan berbasis keunggulan global meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
1.Perangkat keras dan perangkat lunak yang digunakan untuk mengumpulkan, menyimpan, memanipulasi, dan menyajikan informasi
2.Penggunaan alat bantu untuk memproses dan memindah data dari satu perangkat ke perangkat lainnya.
BAB IV
KALENDER PENDIDIKAN
Kurikulum satuan pendidikan pada setiap jenis dan jenjang diselenggarakan dengan mengikuti kalender pendidikan pada setiap tahun ajaran. Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran yang mencakup permulaan tahun pelajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif dan hari libur.
A. Alokasi Waktu
Permulaan tahun pelajaran adalah waktu dimulainya kegiatan pembelajaran pada awal tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan.
Minggu efektif belajar adalah jumlah minggu kegiatan pembelajaran untuk setiap tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan.
Waktu pembelajaran efektif adalah jumlah jam pembelajaran setiap minggu, meliputi jumlah jam pembelajaran untuk seluruh matapelajaran termasuk muatan lokal, ditambah jumlah jam untuk kegiatan pengembangan diri.
Waktu libur adalah waktu yang ditetapkan untuk tidak diadakan kegiatan pembelajaran terjadwal pada satuan pendidikan yang dimaksud. Waktu libur dapat berbentuk jeda tengah semester, jeda antar semester, libur akhir tahun pelajaran, hari libur keagamaan, hari libur umum termasuk hari-hari besar nasional, dan hari libur khusus.
Alokasi waktu minggu efektif belajar, waktu libur dan kegiatan lainnya tertera pada Tabel 26.
Tabel 26. Alokasi Waktu pada Kelender Pendidikan
No
Kegiatan
Alokasi Waktu
Keterangan
1.
Minggu efektif belajar
Minimum 34 minggu dan maksimum 38 minggu
Digunakan untuk kegiatan pembelajaran efektif pada setiap satuan pendidikan
2.
Jeda tengah semester
Maksimum 2 minggu
Satu minggu setiap semester
3.
Jeda antarsemester
Maksimum 2 minggu
Antara semester I dan II
4.
Libur akhir tahun pelajaran
Maksimum 3 minggu
Digunakan untuk penyiapan kegiatan dan administrasi akhir dan awal tahun pelajaran
5.
Hari libur keagamaan
2 – 4 minggu
Daerah khusus yang memerlukan libur keagamaan lebih panjang dapat mengaturnya sendiri tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif
6.
Hari libur umum/nasional
Maksimum 2 minggu
Disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah
7.
Hari libur khusus
Maksimum 1 minggu
Untuk satuan pendidikan sesuai dengan ciri kekhususan masing-masing
8.
Kegiatan khusus sekolah/madrasah
Maksimum 3 minggu
Digunakan untuk kegiatan yang diprogramkan secara khusus oleh sekolah/madrasah tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif
B. Penetapan Kalender Pendidikan
1. Permulaan tahun pelajaran adalah bulan Juli setiap tahun dan berakhir pada bulan Juni tahun berikutnya.
2. Hari libur sekolah ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional, dan/atau Menteri Agama dalam hal yang terkait dengan hari raya keagamaan, Kepala Daerah tingkat Kabupaten/Kota, dan/atau organisasi penyelenggara pendidikan dapat menetapkan hari libur khusus.
3. Pemerintah Pusat/Provinsi/Kabupaten/Kota dapat menetapkan hari libur serentak untuk satuan-satuan pendidikan.
4.Kalender pendidikan untuk setiap satuan pendidikan disusun oleh masing-masing satuan pendidikan berdasarkan alokasi waktu sebagaimana tersebut pada dokumen Standar Isi ini dengan memperhatikan ketentuan dari pemerintah/pemerintah daerah.
BAB V
PENUTUP
A.Simpulan
Kurikulum merupakan salah satu komponen pendidikan yang sangat menentukan keberhasilan pembelajaran kurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler, baik dalam bidang akademis maupun nonakademis. Oleh karena itu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan(KTSP) yang telah kami susun dengan nama Kurikulum SMPN 3 Bojongpicung Tahun Pelajaran 2007/2008 ini diharapkan dapat dipahami dan dilaksanakan oleh semua komponen sekolah secara efektif dan efisien.
B.Saran
1.Kepala Sekolah beserta para Kepala Unit Fungsional/PKS, Komite Sekolah, para guru serta staf TU perlu meningkatkan pemahaman yang mendalam tehadap Kurikulum SMPN 3 Bojongpicung.
2.Kurikulum SMPN 3 Bojongpicung Tahun Pelajaran 2007/2008 yang sudah direvisi pada tahun kedua pelaksanaan KTSP ini benar-benar dijadikan pedoman, petunjuk, dan acuan dalam menyusun dan melaksanakan program-program sekolah.
3.Pelaksanaan Kurikulum SMPN 3 Bojongpicung senantiasa dipantau dan dievaluasi demi perbaikan serta peningkatan efektivitas kinerja semua komponen sekolah.
Mengetahui Bojongpicung, 05 Juli 2007
Kepala SMPN 3 Bojongpicung, Kepala Unit Kurikulum,
ATI HURJATI, S.Pd. AHMAD JAMLUDIN, S.Pd.
NIP 130415443 NIP 132165140
Langganan:
Postingan (Atom)
